Siang menjelang, teriknya menyusup dari jendela yang terbuka. Gerah semakin menjadi. Aku baru saja terjaga ditengah hari yang hampa. Beberapa pesan singkat yang masuk kubaca kemudian kubalas sesuai topik. Segelas teh disusul beberapa puntung rokok terasa cukup untuk sekedar kusebut sarapan. Beberapa kertas laporan yang harus segera di fax, beberapa email yang musti direply. Dan beberepa lembar kenangan yang bermula dari mimpi. Oh. Semakin takut aku tentang tidur yang nyenyak. Entah sampai kapan mimpi itu akan berakhir. Lelah sudah aku bercumbu dengannya.
Keyboard komputer kembali berdecit karena ulah jari – jariku yang tergesa. Layarnya masih saja menyala sedari kemarin sebelum aku terseret lelap karena keletihan yang menghujam. Sebuah tarikan nafas yang dalam dan tersadar aku tentang janji yang terlupakan. “ ya Tuhan, semakin sulit rasanya hidup ini untuk sekedar dijalani”. Dua pesan singkat diponsel flip CDMA ku terlewat. Aku baru tersadar sekaligus kehilangan kata – kata untuk sekedar beralasan. “maaf” hanya sepatah kata itu yang bisa kukirim sebagi balasan. Sebuah SMS konfirmasi dan satu lagi setengah mencacai karena lagi – lagi aku lupa tentang janji.
Manusia memang tidak diciptakan untuk menjadi sempurna, wajar bila kesabarannya menyentuh batas terluar dan kemudian amarah yang mengambil alih semua kedamaian yang tersisa. Mungkin emosinya meledak ketika puluhan menit berlalu menunggu kedatanganku yang tak kunjung tiba. Mungkin semur daging yang sudah ia siapkan susah payah untuk disantap bersamaku dipagi yang cerah terlanjur mengendal seperti semangkok ice cream didalam kulkas. Dan aku memilih untuk tetap diam hingga emosinya mereda. Hingga aku lelah menerka – nerka tentang saat itu kan tiba.
Aku menemukannya sedang tersenyum ditengah himpitan masalah. Diantara celah waktu yang kelam. Aku membaca dari rautnya yang kusut kala itu. Tapi ia tetap mencoba tersenyum. Senyum sederhana yang mampu meyakinkanku untuk setidaknya perlahan beranjak dari lembah penyesalan dan masa lalu. Setelah beberapa upaya yang sedikit memaksa, juga basa – basi yang benar – benar basi. Sebuah contact baru bertuliskan namanya dan beberapa makan malam juga cuci mata disebuah pusat perbelanjaan disekitaran Jakarta pusat. Akhirnya aku benar – benar selangkah lebih jauh dari masa lalu yang biru.
Hari – hari kemudian berlalu seolah lebih ringan, gemintang menjadi lebih terang menyambut malam yang datang. Pelukan hangat, juga bahasa santun tentang hidup dan masa depanpun kini menjadi lebih bertujuan. Langkah sederhana untuk awal yang lebih berwarna. Sebuah kesederhanaan yang nyaris membuat iri segala macam kemewaham disana. “ akhirnya aku bisa kembali merasakan nikmatnya tertawa”. Terima kasih Tuhan.
Tapi hidup selalu saja membuat kata “mudah” menjadi sulit untuk terucap. Ada saja hal yang mampu membuat kening mengkerut. Dan pagi ini kita buka lembar baru dalam perjalan kisah kita dengan amarah yang merah. Seolah angka lima dibuku raport ketika kenaikan kelas dulu. Menyisakan tanda tanya tentang esok yang semakin abstrak. Ini bukan yang pertama. Bukan juga akan menjadi yang terakhir. Seperti yang sudah – sudah, konflik akan selalu menetaskan gundah. Ah. Ada baiknya bara menghindar dari bara. Karena jika keduanya disatukan, yang ada hanyalah nyala membakar hingga tiada bersisa.
Aku mencoba menyibukkan diri, mengalihkan perhatian. Berharap engkau hadir diusai adzan magrib dengan nafas terengal dan muka cemberut dengan beberapa desah juga kata – kata penuh amarah. Aku bembayangkan itu semua, akupun akan tetap diam hingga kemudian pelan – pelan menjelaskan apa yang terjadi lalu meminta maaf dengan kata – kata yang agak berlebihan dan sedikit gombal. Mengelus lembut rambut panjangmu yang hitam dan lurus, kemudian membenamkan marahmu dalm pelukan yang mesra.
Mangrib menelan matahari sehasta demi sehasta. Menenggelamkanya diujung senja yang menghitam, derap langkah terburumu – burumu belum juga terdengar menggaduhkan lantai kost – an ku. Sepertinya kamu tidak akan datang sore ini. Dan malam sudah siap menyambutku dengan pertanyaan juga kebimbangan yang panjang. Selamat malam cinta. Engkau yang tertidur pulas berselimut emosi. Mimpikan yang indah dalam tidurmu. Disini aku berjelaga memunguti mimpi – mimpi itu. Sambil berharap engkau terjaga disejuknya pagi yang tak pernah ingkar. Dengan sedikit maaf saja aku harap engkau untuk datang melabrak kehidupanku yang penuh alpa. Meneriaki aku dengan caci maki atau apapun yang mampu meredakan emosimu itu. datanglah! Karena seperti yang telah sama – sama kita ketahui aku akan terus diam tanpa tindakan. Tapi engkau, Jangan diam! Karena diam itu yang membunuh hubungan kita. Dan maaf. Aku tetap tidak bisa untuk bergerak. Karena aku adalah diam.
Ketika kemarin dirasa lebih berharga dari sekarang, pantaskah esok tetap menjadi milikku??? sebuah kesadaran naif "betapa engkau masih yang terindah".
maaf kan aku cinta! terlalu singkat untuk dapat menggeser keindahan "nya"!!!
dan bila mampu bertahan!! kau akan jadi yang terindah pula.... karena adakalanya manusia terjebak dalam perbandingan - perbadingan yang tolol.
jakarta, 18,nov,2010.. hentikan kebodohanku neng!!! please!!!
Kamis, 18 November 2010
Rabu, 20 Oktober 2010
YANG TELAH HADIR
Engkau yang datang sebagai mimpi indah dalam tidur yang gelisah, perlahan menenangkan nenyak kemudian menghanyutkan gundah dalam lelap yang senyap. Ada sejuta warna pelangi diwujudmu yang menawan. Melukis senyum-senyum yang dulu layu hingga kembali terurai seperti mekarnya bunga-bunga dimusim semi yang hijau. Bersama mentari pagi menyambut dunia penuh kehangatan yang mesra, kau tebar wewangian surga diawal hari yang masih buta. Aku benar-benar terbuai dibuatnya, sangat menakjubkan. Panorama yang terlukis indah dan akan semakin indah ini, akan selalu terbingkai rapi di dinding hati yang berseri. Waktu akan terasa semakin memabukkan. Membuatku tergesa menanti hadirmu, membuatku tak sabar untuk memelukmu.
Engkau yang hadir bersama semilir sang bayu, sepoi membilas gerah hati yang penuh amarah. Membasuh peluh disekujur tubuh, menyentuh sukma yang sedang keruh. Melukiskan mega merona disenja nan jingga, menggubah kata menjadi prosa. Gemulai tingkahmu anggun manjakan bahagia. Tumbuhkan sepasang sayap nan elok kemudian mengajak untuk segera terbang tinggi hingga bukan sekedar merayap. Bersama kita lintasi awan-awan dilangit. Bebaskan raga yang sudah sekian lama terhimpit. Membuatku enggan untuk jauh darimu, memaksaku cemas akan kehilanganmu.
Engkau yang tiba dilebam jiwaku yang kelam, perlahan berikan setitik terang cahaya yang dulu hilang. Membuatku kembali melihat sisi yang sekian lama tertutup gelap. Menuntun asa keujung lorong sebelah sana yang dulunya lembab dan pengap. Memapahku untuk kemabli melangkah, menunjukan tujuan agar tidak tetap kehilangan arah. Pelan-pelan engkau menghipnotisku dengan sugesti-sugesti yang penuh harapan, membuat hidup bukan hanya sekedar kebosanan. Membuatku ingin selamnya denganmu, membuatku ingin menghabiskan sisa waktuku bersamamu.
Engkau yang ada ketikaku terluka, dengan sabar memahat tawa yang hampir sirna. Mengalir dalam aliran darah yang sempat beku, berdenyut bersama nadi yang sempat kaku. Lambat laun kau menjelma menjadi sendi ditiap gerakku, menjadi energi disetiap aktifitasku. Dan harapan bukan lagi sekedar khayalan, dan impian bukan tak mungkin menjadi kenyataan. Malam-malam sepiku yang penuh lolong pilu dan terabaikan, kini berubah menjadi syahdu oleh kidung-kidung asmara dan juga nyanyian sejuta shymphoni yang merdu. Mebuat embun-embun semakin berkilau sebening permata, membuat bulan bersinar seterang purnama. Mengajakku untuk selalu merindumu, menuntuntunku untuk selalu memimpikanmu.
Engkau yang berhembus sepoi dan hangat seperti angin musim panas yang ramah. Membawa sejuta kabar baik bagi penantian yang panjang nan gamang. Menabur sejuk dan teteskan tenang yang lengang. Lirih suaramu membelai sepiku kemudian mengisinya dengan kegaduhan suka cita juga canda tawa yang riuh. Ada marching beserta pawai arak-arakan menuju kebahagiaan yang luas tak bertepi. Memeriahkan lembah-lembah sunyiku dengan tarian-tarian rerumputan dan ranting-ranting berdenting. Meyakikanku tentang masa depan, menyadarkanku tentang harapan.
Engkau yang aku inginkan sebagai sosok yang terjaga didinginya subuh dan membangunkanku untuk bersama-sama menyambut hari. Menyeduh kopi dan menyiapkan sarapan sederhana kemudian menyatapnya bersama-sama dengan penuh kenikmatan kasih nan mesra. Membuat nafas serasa lebih ringan, membuat oksigen serasa lebih gurih dan nikmat. Membuatku tak lelah untuk selalu berjelaga, membuatku tak ragu untuk menjadi pendamping setia menuju surga.
Dalam malam hitam yang curam, bayanganmu seperti tombak menghujam. Melumpuhkan semua sadar, pada kegilaan aku bersandar. Dalam diam sumpah serapahku termuntah. Tergesa meluncur secepat kilat menuju langit tak terlihat. Menuju sebuah tempat suci nan agung yang akan berdosa bila tak ditepati. Memahat rapi tentang sesuatu yang akan menjadi abadi. Bertutur tentang kemurnian niat yang tulus. Berujar tentang kesungguhan yang masa sekalipun tak akan mampu menggerus. Ini bukan sekedar mawar atau cokelat dibulan februari yang merah muda. Ini bukan segedar gairah disabtu malam yang singkat. Tapi inilah seumur hidup tentang perasaan menjaga yang hikmat.
Bila semuanya belumlah cukup, aku akan terus berusaha untuk mencari dan mencari agar engkau tak lagi merasa kurang. Namun bila akhirnya engkau menemukan yang lebih sempurna dan berpijar se-elok bintang. Maka biarkan tersisa sebentuk hati yang tak kan pernah utuh kembali. Berserak seperti debu tertiup angin, memuai seperti embun terbakar terik. Dan kemarin. Cukuplah untuk sekedar pelipur lara diwaktu yang tersisa.
SETELAH SEBULAN LEBIH GA NULIS.. ALHAMDULILLAH, AKHIRNYA TULISAN INI RAMPUNG JUGA... DITULIS MULAI 11-09-10 SAMPAI 20-10-10..SEBAGAI MANUSIA BIASA YANG PUNYA HATI, AKHIRNYA GW KEMBALI MERASAKAN INI... EMANG TERNYATA GA ADA KATA KAPOK UNTUH JATUH CINTA..TULISAN INI KHUSUS AKU KASIH BUAT SESEORANG YANG TELAH MENGUSIK KETENANGAN HATI.. LUV U DEAR..... "050590"
Engkau yang hadir bersama semilir sang bayu, sepoi membilas gerah hati yang penuh amarah. Membasuh peluh disekujur tubuh, menyentuh sukma yang sedang keruh. Melukiskan mega merona disenja nan jingga, menggubah kata menjadi prosa. Gemulai tingkahmu anggun manjakan bahagia. Tumbuhkan sepasang sayap nan elok kemudian mengajak untuk segera terbang tinggi hingga bukan sekedar merayap. Bersama kita lintasi awan-awan dilangit. Bebaskan raga yang sudah sekian lama terhimpit. Membuatku enggan untuk jauh darimu, memaksaku cemas akan kehilanganmu.
Engkau yang tiba dilebam jiwaku yang kelam, perlahan berikan setitik terang cahaya yang dulu hilang. Membuatku kembali melihat sisi yang sekian lama tertutup gelap. Menuntun asa keujung lorong sebelah sana yang dulunya lembab dan pengap. Memapahku untuk kemabli melangkah, menunjukan tujuan agar tidak tetap kehilangan arah. Pelan-pelan engkau menghipnotisku dengan sugesti-sugesti yang penuh harapan, membuat hidup bukan hanya sekedar kebosanan. Membuatku ingin selamnya denganmu, membuatku ingin menghabiskan sisa waktuku bersamamu.
Engkau yang ada ketikaku terluka, dengan sabar memahat tawa yang hampir sirna. Mengalir dalam aliran darah yang sempat beku, berdenyut bersama nadi yang sempat kaku. Lambat laun kau menjelma menjadi sendi ditiap gerakku, menjadi energi disetiap aktifitasku. Dan harapan bukan lagi sekedar khayalan, dan impian bukan tak mungkin menjadi kenyataan. Malam-malam sepiku yang penuh lolong pilu dan terabaikan, kini berubah menjadi syahdu oleh kidung-kidung asmara dan juga nyanyian sejuta shymphoni yang merdu. Mebuat embun-embun semakin berkilau sebening permata, membuat bulan bersinar seterang purnama. Mengajakku untuk selalu merindumu, menuntuntunku untuk selalu memimpikanmu.
Engkau yang berhembus sepoi dan hangat seperti angin musim panas yang ramah. Membawa sejuta kabar baik bagi penantian yang panjang nan gamang. Menabur sejuk dan teteskan tenang yang lengang. Lirih suaramu membelai sepiku kemudian mengisinya dengan kegaduhan suka cita juga canda tawa yang riuh. Ada marching beserta pawai arak-arakan menuju kebahagiaan yang luas tak bertepi. Memeriahkan lembah-lembah sunyiku dengan tarian-tarian rerumputan dan ranting-ranting berdenting. Meyakikanku tentang masa depan, menyadarkanku tentang harapan.
Engkau yang aku inginkan sebagai sosok yang terjaga didinginya subuh dan membangunkanku untuk bersama-sama menyambut hari. Menyeduh kopi dan menyiapkan sarapan sederhana kemudian menyatapnya bersama-sama dengan penuh kenikmatan kasih nan mesra. Membuat nafas serasa lebih ringan, membuat oksigen serasa lebih gurih dan nikmat. Membuatku tak lelah untuk selalu berjelaga, membuatku tak ragu untuk menjadi pendamping setia menuju surga.
Dalam malam hitam yang curam, bayanganmu seperti tombak menghujam. Melumpuhkan semua sadar, pada kegilaan aku bersandar. Dalam diam sumpah serapahku termuntah. Tergesa meluncur secepat kilat menuju langit tak terlihat. Menuju sebuah tempat suci nan agung yang akan berdosa bila tak ditepati. Memahat rapi tentang sesuatu yang akan menjadi abadi. Bertutur tentang kemurnian niat yang tulus. Berujar tentang kesungguhan yang masa sekalipun tak akan mampu menggerus. Ini bukan sekedar mawar atau cokelat dibulan februari yang merah muda. Ini bukan segedar gairah disabtu malam yang singkat. Tapi inilah seumur hidup tentang perasaan menjaga yang hikmat.
Bila semuanya belumlah cukup, aku akan terus berusaha untuk mencari dan mencari agar engkau tak lagi merasa kurang. Namun bila akhirnya engkau menemukan yang lebih sempurna dan berpijar se-elok bintang. Maka biarkan tersisa sebentuk hati yang tak kan pernah utuh kembali. Berserak seperti debu tertiup angin, memuai seperti embun terbakar terik. Dan kemarin. Cukuplah untuk sekedar pelipur lara diwaktu yang tersisa.
SETELAH SEBULAN LEBIH GA NULIS.. ALHAMDULILLAH, AKHIRNYA TULISAN INI RAMPUNG JUGA... DITULIS MULAI 11-09-10 SAMPAI 20-10-10..SEBAGAI MANUSIA BIASA YANG PUNYA HATI, AKHIRNYA GW KEMBALI MERASAKAN INI... EMANG TERNYATA GA ADA KATA KAPOK UNTUH JATUH CINTA..TULISAN INI KHUSUS AKU KASIH BUAT SESEORANG YANG TELAH MENGUSIK KETENANGAN HATI.. LUV U DEAR..... "050590"
Sabtu, 18 September 2010
ROSALIA
Ia mulai terlihat mengantuk dengan matanya yang sayup 5watt. Belum genap 20tahun sepertinya. Rambutnya yang sebahu tergerai dibiarkan begitu saja tak diikat, sesekali tertiup angin yang berhembus acuh dari luar jendela mitromini berlebel P20 senen-lebak bulus, rit terahir. Malam mulai menjelang larut, jarum jam diarloji sudah menunjuk pukul 23:15 ketika bus butut ini melintasi jalan raya tepat dimuka pasar mampang yang juga sudah mulai terlihat lelah. Sesekali ia memperbaiki cara duduknya agar tidak terbawa kantuk yang terus merayu. Mitromini adalah kendaraan masyarakat kelas bawah. Jadi jangan harap tentang keamanan ekstra. Disini semua harus waspada, menjaga diri sendiri dengan tingkat keawasan yang sangat. Tidak jarang kejahatan terjadi, mulai dari pencopet yang sudah hampir kuhafal raut mukanya sampai penjambret dadakan yang beraksi karena adanya kesempatan.
Hampir setengah tahun sudah aku tidak berkendara dengan transportasi yang kategorinya satu tingkat dibawah sederhana ini. Semenjak kantor memfasilitasiku sebuah mobil dinas tepatnya. Aku menatap gadis belasan tahun itu tersenyum ketika membaca sebuah pesan singkat yang menggaduhkan ponselnya. Jari-jarinya cukup lincah membalas sms yang masuk , kemudian ia kembali fokus pada perjalanannya. Aku kira ijazahnya hanya SMU sederajat. Setidaknya aku menilai dari sragam yang ia kenakan. Sales promotion atau mungkin kasir disebuah pusat perbelanjaan atau mungkin mini market yang semakin lama semakin menjamur di Jakarta ini. Tampak raut ketidaksabaran diwajahnya ketika lampu lalu lintas diperempatan ragunan menyala merah. Mungkin ia sudah tidak sabar untuk sampai dirumah dan kembali bermanja-manja dengan buda dan keluarga tercinta. Atau mungkin sekedar berbaring dikasur kost an yang butut dan harus dibayar tepat waktu tiap akhir bulan. Entahlah.
Penumpang naik dan turun sepanjang jalan raya sebelum cilandak. Ia masih berusaha untuk tetap tak terusik. Tergetar hati ini merenungkan posisi dan kondisi yang harus ia hadapi juga jalani. Sungguh sebuah keteguhan dan ketegaran tekad luar biasa dari seorang gadis belasan tahun yang harus aku contoh dan bahkan mesti aku teladani. Sebuah pengalaman berharga yang tidak mugkin aku dapatkan bila mobilku tidak ngadat secara misterius. Situasi yang sempat menumpahkan gerutuku dan bahkan sempat tadi aku menghujat keberuntungan. Aku harus banyak bersyukur dengan apa yang telah aku dapatkan selama ini. Dengan kehidupan yang semuanya nyaris serba instan bagiku dan masih saja harus aku hadapi dengan keluh kesah yang tak jarang melahirkan umpatan terhadap Tuhan. Ya Tuhan ampuni kehilafanku selama ini.
Seorang perempuan setengah baya naik tepat didepan sebuah kantor instansi pemerintah, sepertinya ia juga baru pulang kerja. Tapi bukan pegawai negeri kelihatannya. Seragamnya putih abu-abu seperti seragam sales kosmetik yang sering berkunjung kerumah tiap akhir pekan. ia melihat kedepan dan kebelakang mencari kursi kosong. Tapi mitromini rit terahir bukan berarti sebuah jaminan untuk menjadi lengang, semua tempat duduk terisi rupanya. Aku yang merasa malu hati bila tak mau mengalah terhadap seorang wanita, segera saja aku berajak dari tempat dudukku, dan segera pula menawarkan kepadanya untuk menempati bangkuku. Seketika aku langsung teringat dengan istriku dirumah. Mungkin ia sedang menyiapkan makan malam atau mungkin segelas teh manis sambil menungguku tiba sembari menonton opera sabun kesayangannya. Atau mungkin ia sudah terbawa lelap dan tertidur disofa seperti yang sudah-sudah. Dia sungguh beruntung keluhku, dan akupun sangat beruntung pula mendapatkannya.
Tidak terasa perjalanan metromini yang aku tumpangi telah sampai dihalte terahir, semua penumpang turun berhamburan seolah diluar sana adalah rumah mereka. Padahal tak jarang mereka harus berganti angkot lagi untuk sampai dirumah. Seperti halnya aku yang harus naek taxi lagi karena rumahku memang masih cukup jauh. Gadis belasan tahun itu masih tenang ditempat duduknya. Aku sempat beranggapan mungkin ia ketiduran. Tapi ternyata tidak. Setelah pintu metromini lengang ia pun berajak dan segera bergegas. Aku yang masih berdiri mencari-cari taksi megamatinya turun dengan tergesa. Dan sebuah papan nama kecil diatas sakunya yang sebelah kanan memberi tahuku siapa namanya. Rosalia. Nama yang nyaris seanggun wajahnya. Ia tampak setengah berlari menyebrangi jalan. Dan tetap setengah berlari menyusuri trotoar. Ditengah malam metropolitan yang mulai senyap ia terus mempercepat langkahnya. Aku mengelus dada dan kembali merasa sangat berdosa kepada Tuhan. Betapa aku selama ini adalah manusia yang tidak tahu cara berterimakasih dan bersyukur.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya sebuah taksi melintas didepanku. Setelah menghentikannya aku masuk dan duduk dijok belakang sambil kemudian mengutarakan tujuanku. Argo menyala bersamaan dengan pintu tertutup. Sejuk yang berhembus dari AC membuat aku sedikit lebih santai. Sabil merebahkan tubuh pada posisi malas aku menoleh kesebelah kiri melihat sebuah bangunan ruko yang mulai jadi, dengan sepanduk besarnya yang bertuliskan “DISEWAKAN” dengan taman yang cukup teduh tepat disebelah pompa bensin. kembali aku tersentak melihat gadis kecil itu masih mengayuh langkahnya setengah berlari. Rosalia, kaki-kaki kecil itu masih melangkah membelah malam dingin dengan rembulannya yang mulai menggigil. Aku berguru kepadamu, doaku tulus besertamu, aku salut kepadamu. Terimakasih Rosalia. Engkau gadis kecil yang telah mengajariku untuk jadi pribadi yang lebih baik lagi. Terimakasih Tuhan. Kau telah membuka mata hatiku lewat seorang gadis kecil yang tangguh.
Sesampainya dirumah. Seusai makan malam yang hangat bersama istri tercintaku. Sambil menikmati secangkir teh dan acara TV yang sebenarnya aku tidak minati. Aku bercerita tentang perjalan pulangku tadi kepada istriku. Tentang orang-orang yang bertarung segenap jiwa untuk bertahan hidup. Tentang perempuan-perempuan yang tampak diupah tak layak, tentang Rosalia yang harus mengorbankan masa mudanya, dan tentang betapa beruntungnya kami. Akhirnya kami pun sepakat untuk memperbaiki kualitas hidup kami dari pelajaran sederhana yang telah aku alami dimetromini tadi.
16,Sept – 18,Sept,2010.... ditulis bwt 050590 taurus girl, thx 4 inspired me.... be strong dear................
Hampir setengah tahun sudah aku tidak berkendara dengan transportasi yang kategorinya satu tingkat dibawah sederhana ini. Semenjak kantor memfasilitasiku sebuah mobil dinas tepatnya. Aku menatap gadis belasan tahun itu tersenyum ketika membaca sebuah pesan singkat yang menggaduhkan ponselnya. Jari-jarinya cukup lincah membalas sms yang masuk , kemudian ia kembali fokus pada perjalanannya. Aku kira ijazahnya hanya SMU sederajat. Setidaknya aku menilai dari sragam yang ia kenakan. Sales promotion atau mungkin kasir disebuah pusat perbelanjaan atau mungkin mini market yang semakin lama semakin menjamur di Jakarta ini. Tampak raut ketidaksabaran diwajahnya ketika lampu lalu lintas diperempatan ragunan menyala merah. Mungkin ia sudah tidak sabar untuk sampai dirumah dan kembali bermanja-manja dengan buda dan keluarga tercinta. Atau mungkin sekedar berbaring dikasur kost an yang butut dan harus dibayar tepat waktu tiap akhir bulan. Entahlah.
Penumpang naik dan turun sepanjang jalan raya sebelum cilandak. Ia masih berusaha untuk tetap tak terusik. Tergetar hati ini merenungkan posisi dan kondisi yang harus ia hadapi juga jalani. Sungguh sebuah keteguhan dan ketegaran tekad luar biasa dari seorang gadis belasan tahun yang harus aku contoh dan bahkan mesti aku teladani. Sebuah pengalaman berharga yang tidak mugkin aku dapatkan bila mobilku tidak ngadat secara misterius. Situasi yang sempat menumpahkan gerutuku dan bahkan sempat tadi aku menghujat keberuntungan. Aku harus banyak bersyukur dengan apa yang telah aku dapatkan selama ini. Dengan kehidupan yang semuanya nyaris serba instan bagiku dan masih saja harus aku hadapi dengan keluh kesah yang tak jarang melahirkan umpatan terhadap Tuhan. Ya Tuhan ampuni kehilafanku selama ini.
Seorang perempuan setengah baya naik tepat didepan sebuah kantor instansi pemerintah, sepertinya ia juga baru pulang kerja. Tapi bukan pegawai negeri kelihatannya. Seragamnya putih abu-abu seperti seragam sales kosmetik yang sering berkunjung kerumah tiap akhir pekan. ia melihat kedepan dan kebelakang mencari kursi kosong. Tapi mitromini rit terahir bukan berarti sebuah jaminan untuk menjadi lengang, semua tempat duduk terisi rupanya. Aku yang merasa malu hati bila tak mau mengalah terhadap seorang wanita, segera saja aku berajak dari tempat dudukku, dan segera pula menawarkan kepadanya untuk menempati bangkuku. Seketika aku langsung teringat dengan istriku dirumah. Mungkin ia sedang menyiapkan makan malam atau mungkin segelas teh manis sambil menungguku tiba sembari menonton opera sabun kesayangannya. Atau mungkin ia sudah terbawa lelap dan tertidur disofa seperti yang sudah-sudah. Dia sungguh beruntung keluhku, dan akupun sangat beruntung pula mendapatkannya.
Tidak terasa perjalanan metromini yang aku tumpangi telah sampai dihalte terahir, semua penumpang turun berhamburan seolah diluar sana adalah rumah mereka. Padahal tak jarang mereka harus berganti angkot lagi untuk sampai dirumah. Seperti halnya aku yang harus naek taxi lagi karena rumahku memang masih cukup jauh. Gadis belasan tahun itu masih tenang ditempat duduknya. Aku sempat beranggapan mungkin ia ketiduran. Tapi ternyata tidak. Setelah pintu metromini lengang ia pun berajak dan segera bergegas. Aku yang masih berdiri mencari-cari taksi megamatinya turun dengan tergesa. Dan sebuah papan nama kecil diatas sakunya yang sebelah kanan memberi tahuku siapa namanya. Rosalia. Nama yang nyaris seanggun wajahnya. Ia tampak setengah berlari menyebrangi jalan. Dan tetap setengah berlari menyusuri trotoar. Ditengah malam metropolitan yang mulai senyap ia terus mempercepat langkahnya. Aku mengelus dada dan kembali merasa sangat berdosa kepada Tuhan. Betapa aku selama ini adalah manusia yang tidak tahu cara berterimakasih dan bersyukur.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya sebuah taksi melintas didepanku. Setelah menghentikannya aku masuk dan duduk dijok belakang sambil kemudian mengutarakan tujuanku. Argo menyala bersamaan dengan pintu tertutup. Sejuk yang berhembus dari AC membuat aku sedikit lebih santai. Sabil merebahkan tubuh pada posisi malas aku menoleh kesebelah kiri melihat sebuah bangunan ruko yang mulai jadi, dengan sepanduk besarnya yang bertuliskan “DISEWAKAN” dengan taman yang cukup teduh tepat disebelah pompa bensin. kembali aku tersentak melihat gadis kecil itu masih mengayuh langkahnya setengah berlari. Rosalia, kaki-kaki kecil itu masih melangkah membelah malam dingin dengan rembulannya yang mulai menggigil. Aku berguru kepadamu, doaku tulus besertamu, aku salut kepadamu. Terimakasih Rosalia. Engkau gadis kecil yang telah mengajariku untuk jadi pribadi yang lebih baik lagi. Terimakasih Tuhan. Kau telah membuka mata hatiku lewat seorang gadis kecil yang tangguh.
Sesampainya dirumah. Seusai makan malam yang hangat bersama istri tercintaku. Sambil menikmati secangkir teh dan acara TV yang sebenarnya aku tidak minati. Aku bercerita tentang perjalan pulangku tadi kepada istriku. Tentang orang-orang yang bertarung segenap jiwa untuk bertahan hidup. Tentang perempuan-perempuan yang tampak diupah tak layak, tentang Rosalia yang harus mengorbankan masa mudanya, dan tentang betapa beruntungnya kami. Akhirnya kami pun sepakat untuk memperbaiki kualitas hidup kami dari pelajaran sederhana yang telah aku alami dimetromini tadi.
16,Sept – 18,Sept,2010.... ditulis bwt 050590 taurus girl, thx 4 inspired me.... be strong dear................
Jumat, 03 September 2010
HINGGA UJUNG NAFAS
Sore semakin letih menggantung diujung barat cakrawala yang mulai gelap. Kidung puji-pujian yang biasanya teracuhkan oleh sibuknya jakarta kali ini sedikit lebih jelas terdengar. Ramadhan dengan segala kemuliaan dan keajaibannya hampir selalu mampu menghusyukkan jiwa-jiwa yang biasanya terserak bertebaran dijalanan, untuk larut dalam kebersamaan yang hangat. Tapi tidak bagi mu. Engkau yang masih berkucur keringat digerbang senja yang tampak biasa. Bersama gerobak dan isinya yang sudah lebih dari separuh. Engkau melafalkan hamdalah dan kemudian beberapa teguk teh manis yang hampir basi kau tenggak dari botol bekas air mineral. Teh manis yang kau rebus tadi pagi sebelum pergi mengelilingi jakarta. Keringat kau seka dengan handuk kecil yang sudah seharian kau gunakan. Langkahmu belum berhenti, kembali roda – roda itu menggelinding mencari mesjid atau musholla terdekat. Dan hidupmu harus terus berjalan.
Tahun ini ada ruang kosong nan hampa di hatimu, mak Inah istrimu biasa dipanggil tak lagi menemani perjalanan hidupmu yang semakin renta. Belum genap 100 hari semenjak kepergiannya menghadap sang maha kuasa. Karena sakit yang sampai kini tidak diketahui karena ketidak mampuanmu untuk memeriksakannya kedokter. Engkau seorang pendatang di Jakarta, berpuluh-puluh tahun tanpa kartu tanda penduduk resmi, itulah juga yang membuat engkau kesulitan untuk mengurus surat keterangan keluarga tidak mampu. Engkau hanya menggerutu kala itu “ jadi orang miskin aja kok ya masih butuh surat ijin”. Sendiri sudah sisa hidup harus engkau jalani. Membuat engkau memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrakan tempat tinggalmu. Menjadi tuna wisma berkelana dari ujung kota ke ujung yang lainnya, bersama tekad, kenangan, dan gerobak kesayangan. Dan setiap malam-malam yang dingin kini kau lewati dengan tidur disudut-sudut kota atau bawah-bawah jebatan layang. Engkau semakin larut dalam pengembaraan.
Dibawah pohon mangga tepat dipojok kanan sebelah pagar kau bungkus gerobakmu dengan terpal berwarna biru. Cukup rapi dan tidak menggangu pemandangan. Setelah sholat magrib kau tunaikan, untaian doa-doa suci tulus kau haturkan untuk almarhumah istri tercinta dan anak cucu, serta almarhum kedua orang tuamu. Masih lekat rasanya pedih kala terkenang sat-saat terahir kalinya kau antar jasad mak Inah keliang lahat. Dan dengan air mata kau antar ia kesurga. Engkau masih larut dalam doa-doamu ketika orang-orang berdatangan memenuhi mesjid untuk menyongsong isyak dan tarawih yang sudah mulai sepi disepuluh malam terahir menjelang idul fitri. Mungkin mereka sudah mulai lelah dengan ramadhan, atau mungkin mulai sibuk menyerbu pusat perbelanjaan yang dihias dengan beduk dan ketupat bertuliskan sale dan discount. Engkau tak bergeming dengan pikiran khusukmu untuk lebih dekat kepada Tuhan. Engkau tidak peduli, hanya sekali kau menoleh kebelakang dan mengelus dada sambil mengucap istigfar. Engkau pun kembali hanyut dalam ibadah sunnah yang pahalanya sama dengan ibadah wajib dalam hari-hari biasa.
Jam menunjuk angka 22:15. Ketika tadarus selesai dan hampir sebagian besar jamaah meninggalkan rumah Tuhan itu untuk kembali berkumpul bersama keluarga mereka dirumah. Hanya tersisa engkau, pengurus mejid, dan beberapa lelaki separuh baya juga beberapa orang tua seumuran denganmu yang masih khusuk dan semakin khusuk dalam iktikaf. Sesekali air mata matamu menetes disela dzikirmu yang lirih. Ada banyak kenangan dan permohonan yang tulus yang masih sampai saat ini selalu saja mampu menggetarkan palung hatimu. Sebuah permintaan dan harapan yang tetap kau bungkus dengan keyakinan penuh dah tak pernah tersentuh oleh kata menyerah. Sebuah keteguhan hati yang kokoh dan selayaknya dicontoh. Manusia serba kekurangan yang selalu tahu tentang bagaimana caranya bersyukur. Manusia serba terbatas namun sangat jarang mengeluh. Engkaulah tubuh renta yang perkasa dan tak gentar memahat perjalanan sang jaman yang keras menjadi lebih bercorak.
Suara pengeras suara mengagetkan husyukmu, para pengurus mesjid mulai aktif membangunkan warga sekitar untuk segera bergegas makan sahur. Engkau beranjak untuk segera mencari warteg terdekat, setelah melipat kain sarungmu, membukus dengan plastik dan menggantugkannya pada paku bagian depan gerobamu. Kini kau telah kembali siap mengitari belahan kota lainnya bersama malam yang dingin dan kehampaan yang kau idap. Setelah bebrapa saat kau berjalan dan sebungkus nasi dengan lauk tahu, tempe siap disantap. Seperti malam-malam sebelumnya yang sepi. Kini kau menuju kebawah jembatan layang terdekat berharap ada salah satu temanmu yang juga makan sahur disitu dan kau setidaknya tidak perlu menyantap makan sahurmu dengan perasaan hambar. Dari seberang jalan tampak Giman teman seprofesimu sedang asik menghisap rokok bercengkrama dengan beberapa temanmu yang lain. Tergesa engkau untuk segera bergabung, hingga tanpa kau sadari sebuah sedan berwarna hitam meluncur kencang tepat dihadapanmu. Gerobakmu terserak setelah terpental cukup jauh, botol plastik dan semua isinya berhamburan. Engkau terkapar tak berdaya tak bernfas lagi. Teman-temanmu yang dibawah layang berlarian mencoba melakukan pertolongan semampunya. Tapi kau tetap hening tak bergeming. Tunai sudah kewajibanmu didunia ini, pak tua.
Beberapa hari sebelum kecelakan yang berujung maut ini, engkau sempat mengutarakan keraguan antara mudik menimang cucumu dikampung halaman, atau bersiarah kemakam istrimu dipojok sebelah timur Jakarta. Tapi hidup selalu menyimpan misteri yang tidak selalu harus terjawab. Giman yang tidak terlalu pintar tentang ilmu agama hanya mampu berujar “kini kau bisa mudik berdua bersama mak Inah pak tua!?”. Tak ada karangan bunga ucapan bela sungkawa,hanya setumpuk tanah basah bernisan sepenggal papan seadanya, dan doa tulus dari teman-temanmu tentunya. Kau pun terbaring dibawah gundukan tanah tepat disamping istrimu yang telah terlebih dulu pergi.
Ketika malam hampir usai, Dibawah layang dipusatnya jakarta yang sepi, Giman menatap kosong kearah istri dan anaknya yang pulas berselimut debu jalanan. Dalam hatinya ia berbisik “aku merindukanmu pak tua, istirahatlah yang tenang?!. “Mimpi para tuna wisma sepeti kita untuk punya rumah sepertinya akan hanya menjadi sekedar mimpi belaka”, gerutu giman pada didrinya sendiri. “Mereka orang-pintar itu butuh tempat yang lebih besar dan mahal. Kita harus kembali mengalah, dan gorong-gorong juga bawah layang semakin padat juga sesak”. Seolah tak perduli dengan penghuni bawah layang yang lain giman masih menggerutu dan mengerutu. Hingga ia teringat kata-kata pak tua teman dekat yang sudah dianggapnya seperti orang tua sendiri, “jangan menyerah Man, Gusti Allah pasti mengabulkan doa-doa kita”. Giman pun terdiam lalu tersenyum dan menitikkan air mata sambil kembali mendengarkan takbir yang sudah semalaman berkumandang tanpa lelah dimasjid- masjid juga musholla. Idul fitri yang dinanti sudah tiba. Dan giman hanya tersenyum kecil. Entah senyum duka atau bahagia. Entahlah.
30-08-2010 sampai 03-09-2010.. untuk saudara-saudaraku yang mesra memeluk jalanan ibu kota, juga untuk kalian yang sedang membangun hotel bintang lima di senayan sana.. bijaklah!!!
Tahun ini ada ruang kosong nan hampa di hatimu, mak Inah istrimu biasa dipanggil tak lagi menemani perjalanan hidupmu yang semakin renta. Belum genap 100 hari semenjak kepergiannya menghadap sang maha kuasa. Karena sakit yang sampai kini tidak diketahui karena ketidak mampuanmu untuk memeriksakannya kedokter. Engkau seorang pendatang di Jakarta, berpuluh-puluh tahun tanpa kartu tanda penduduk resmi, itulah juga yang membuat engkau kesulitan untuk mengurus surat keterangan keluarga tidak mampu. Engkau hanya menggerutu kala itu “ jadi orang miskin aja kok ya masih butuh surat ijin”. Sendiri sudah sisa hidup harus engkau jalani. Membuat engkau memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrakan tempat tinggalmu. Menjadi tuna wisma berkelana dari ujung kota ke ujung yang lainnya, bersama tekad, kenangan, dan gerobak kesayangan. Dan setiap malam-malam yang dingin kini kau lewati dengan tidur disudut-sudut kota atau bawah-bawah jebatan layang. Engkau semakin larut dalam pengembaraan.
Dibawah pohon mangga tepat dipojok kanan sebelah pagar kau bungkus gerobakmu dengan terpal berwarna biru. Cukup rapi dan tidak menggangu pemandangan. Setelah sholat magrib kau tunaikan, untaian doa-doa suci tulus kau haturkan untuk almarhumah istri tercinta dan anak cucu, serta almarhum kedua orang tuamu. Masih lekat rasanya pedih kala terkenang sat-saat terahir kalinya kau antar jasad mak Inah keliang lahat. Dan dengan air mata kau antar ia kesurga. Engkau masih larut dalam doa-doamu ketika orang-orang berdatangan memenuhi mesjid untuk menyongsong isyak dan tarawih yang sudah mulai sepi disepuluh malam terahir menjelang idul fitri. Mungkin mereka sudah mulai lelah dengan ramadhan, atau mungkin mulai sibuk menyerbu pusat perbelanjaan yang dihias dengan beduk dan ketupat bertuliskan sale dan discount. Engkau tak bergeming dengan pikiran khusukmu untuk lebih dekat kepada Tuhan. Engkau tidak peduli, hanya sekali kau menoleh kebelakang dan mengelus dada sambil mengucap istigfar. Engkau pun kembali hanyut dalam ibadah sunnah yang pahalanya sama dengan ibadah wajib dalam hari-hari biasa.
Jam menunjuk angka 22:15. Ketika tadarus selesai dan hampir sebagian besar jamaah meninggalkan rumah Tuhan itu untuk kembali berkumpul bersama keluarga mereka dirumah. Hanya tersisa engkau, pengurus mejid, dan beberapa lelaki separuh baya juga beberapa orang tua seumuran denganmu yang masih khusuk dan semakin khusuk dalam iktikaf. Sesekali air mata matamu menetes disela dzikirmu yang lirih. Ada banyak kenangan dan permohonan yang tulus yang masih sampai saat ini selalu saja mampu menggetarkan palung hatimu. Sebuah permintaan dan harapan yang tetap kau bungkus dengan keyakinan penuh dah tak pernah tersentuh oleh kata menyerah. Sebuah keteguhan hati yang kokoh dan selayaknya dicontoh. Manusia serba kekurangan yang selalu tahu tentang bagaimana caranya bersyukur. Manusia serba terbatas namun sangat jarang mengeluh. Engkaulah tubuh renta yang perkasa dan tak gentar memahat perjalanan sang jaman yang keras menjadi lebih bercorak.
Suara pengeras suara mengagetkan husyukmu, para pengurus mesjid mulai aktif membangunkan warga sekitar untuk segera bergegas makan sahur. Engkau beranjak untuk segera mencari warteg terdekat, setelah melipat kain sarungmu, membukus dengan plastik dan menggantugkannya pada paku bagian depan gerobamu. Kini kau telah kembali siap mengitari belahan kota lainnya bersama malam yang dingin dan kehampaan yang kau idap. Setelah bebrapa saat kau berjalan dan sebungkus nasi dengan lauk tahu, tempe siap disantap. Seperti malam-malam sebelumnya yang sepi. Kini kau menuju kebawah jembatan layang terdekat berharap ada salah satu temanmu yang juga makan sahur disitu dan kau setidaknya tidak perlu menyantap makan sahurmu dengan perasaan hambar. Dari seberang jalan tampak Giman teman seprofesimu sedang asik menghisap rokok bercengkrama dengan beberapa temanmu yang lain. Tergesa engkau untuk segera bergabung, hingga tanpa kau sadari sebuah sedan berwarna hitam meluncur kencang tepat dihadapanmu. Gerobakmu terserak setelah terpental cukup jauh, botol plastik dan semua isinya berhamburan. Engkau terkapar tak berdaya tak bernfas lagi. Teman-temanmu yang dibawah layang berlarian mencoba melakukan pertolongan semampunya. Tapi kau tetap hening tak bergeming. Tunai sudah kewajibanmu didunia ini, pak tua.
Beberapa hari sebelum kecelakan yang berujung maut ini, engkau sempat mengutarakan keraguan antara mudik menimang cucumu dikampung halaman, atau bersiarah kemakam istrimu dipojok sebelah timur Jakarta. Tapi hidup selalu menyimpan misteri yang tidak selalu harus terjawab. Giman yang tidak terlalu pintar tentang ilmu agama hanya mampu berujar “kini kau bisa mudik berdua bersama mak Inah pak tua!?”. Tak ada karangan bunga ucapan bela sungkawa,hanya setumpuk tanah basah bernisan sepenggal papan seadanya, dan doa tulus dari teman-temanmu tentunya. Kau pun terbaring dibawah gundukan tanah tepat disamping istrimu yang telah terlebih dulu pergi.
Ketika malam hampir usai, Dibawah layang dipusatnya jakarta yang sepi, Giman menatap kosong kearah istri dan anaknya yang pulas berselimut debu jalanan. Dalam hatinya ia berbisik “aku merindukanmu pak tua, istirahatlah yang tenang?!. “Mimpi para tuna wisma sepeti kita untuk punya rumah sepertinya akan hanya menjadi sekedar mimpi belaka”, gerutu giman pada didrinya sendiri. “Mereka orang-pintar itu butuh tempat yang lebih besar dan mahal. Kita harus kembali mengalah, dan gorong-gorong juga bawah layang semakin padat juga sesak”. Seolah tak perduli dengan penghuni bawah layang yang lain giman masih menggerutu dan mengerutu. Hingga ia teringat kata-kata pak tua teman dekat yang sudah dianggapnya seperti orang tua sendiri, “jangan menyerah Man, Gusti Allah pasti mengabulkan doa-doa kita”. Giman pun terdiam lalu tersenyum dan menitikkan air mata sambil kembali mendengarkan takbir yang sudah semalaman berkumandang tanpa lelah dimasjid- masjid juga musholla. Idul fitri yang dinanti sudah tiba. Dan giman hanya tersenyum kecil. Entah senyum duka atau bahagia. Entahlah.
30-08-2010 sampai 03-09-2010.. untuk saudara-saudaraku yang mesra memeluk jalanan ibu kota, juga untuk kalian yang sedang membangun hotel bintang lima di senayan sana.. bijaklah!!!
Kamis, 26 Agustus 2010
DARI SEORANG VETERAN
Jika senja indah adalah menatap alam terbuka dengan secangkir cokelat hangat sambil mendengarkan lagu jaz yang pelan. Tidak bagimu yang kini sedang menunggu malam datang ditengah musim kemarau yang semakin parau. Ada kerinduan dihatimu tentang seorang panglima besar revolusi yang berapi-api diatas mimbar kala ber-orasi. Luka bekas peluru dipunggung sebelah kirimu sudah nyaris tak berbekas lagi. Bersama semua kenangan heroik itu seutas senyum mengembang tiba-tiba. Sungguh bersahaja. Sekawanan merpati terbang menuju mega-mega, tatap mu berbinar sarat akan cahaya. Hampir tak percaya engkau menatap situasi ibu pertiwi saat ini, dan kau masih mengeluh dikursi rotanmu yang mulai lusuh. “65 tahun sudah kita merdeka” bisikmu lirih dan entah untuk siapa?. Kau masih sendiri ketika mentari tersisa separtuh ditelan bukit diujung barat sana. Angin semakin dingin mengusik tubuhmu. Engkau rapikan syal yang teruntai dileher keriputmu. Meski begitu Kau tetap gagah pahlawanku.
Jiwa pemberanimu masih terpancar dari serak suaramu yang bergetar. Ada api yang belum juga padam dan masih berkobar-kobar. Sertifikat kepahlawananmu tergantung rapi didinding kamar, namun engkau sudah semakin enggan untuk melihatnya. Bukan itu yang engkau cari dahulu. Kegelisahan mu masih bergolak sama persis ketika sebelum 1945 dulu. Bertubi-tubi jiwa patriotmu meronta. Dan engkau hanya bisa berkaca-kaca. Timbul tenggelam bagaimana pekikmu dulu, besenjata sederhana dan tanpa alas kaki tak gentar menhardik tentara nipon dan juka kompeni belanda. Sebuah kerelaan yang teramat sangat untuk negeri tercinta yang sudah tak sabar ingin merdeka. Kini terwujudkan sudah cita-cita mulia itu. Dan engkau masih terlihat gusar. Sebuah kecintaan terhadap nusa yang patut untuk diteladani. Terima kasih pahlawan.
Ditengah malam engkau terjaga, membungkuk diatas sajadah mendoakan si Amir adikmu, dan juga teman-teman yang dulu tak sempat menikmati kemerdekaan karena harus terkena timah panas saat serangan berlangsung. Ada tetes-tetes air mata meluncur dikedua pipimu yang semakin kisut, sebening embun diujung daun, jernih dan sarat ketulusan. Untaian doa-doa meluncur dari dasar hatimu, merasa bersalah pada mereka yang tak sempat engkau tanyakan namanya hingga kemudian nisan tanpa nama saja yang menyambut akhir pangabdian suci mereka. Ada rasa menyesal dalam hatimu, seolah ingin menghujat waktu yang sudah mengambil sebagian ingatanmu sehingga terasa amat sulit bagimu untuk sekedar mengingat beberapa orang yang menemanimu berjuang dalam perang kala itu. Engkau masih khusuk dalam sujudmu. Dan kadang sesekali disuatu malam seperti yang sudah-sudah, engkau tertidur hingga pagi menjelang. Tubuhmu semakin renta pahlawanku.
Agustus datang mebawa kabar bahagia bagimu, sepanjang tahun rasanya engkau tak jemu menanti kehadirannya. Kini tibalah waktu yang telah kau nantikan hampir disetiap detikmu. 30 hari yang sarat dengan nuansa merah putih, suasana dimana taman-taman makam para sahabatmu dibersihkan dan dikunjungi denga upacara-upacara kebangsaan yang layak. Sehingga pusara-pusara lusuh itu kemudian bertabur bunga yang penuh warna. Dan tidak harus menunggu rontoknya bunga kamboja. Kemudia engkau kembali terisak tangis dan tersedu. Dideretan tamu kehormatan engkau berdiri gagah perwira. Menynyikan dengan lantang lagu Indonesia Raya sambil menatap khusuk sang saka. Sekujur bulu romanmu berdiri, segudang kenangan indahmu menari. Ingin rasanya engkau melakukan upacara seperti ini setiap hari disisa hidupmu kini. Memberikan persembahan suci kepada teman-temanmu yang telah tiada. Sehingga kata “terima kasih pahlawan” tidak hanya dikumandankan setahun dua kali saja. Tetap tegar pahlawanku.
Seusai upacara, engkau melangkah gontai menuju pulang, berat rasanya kedua kakimu untuk terus berjalan. Belum cukup rasanya seremoni yang hanya beberapa jam ini. Sesaat engkau kembali menoleh, lalu kesepian yang panjang sudah menanti didepan sana, dan arak-arakan kenang-kenangan kabahagian agustus 1945 akan semakin tajam menusukmu di 13 hari yang tersisa. 10 november masih beberapa bulan lagi, akan terasa lama bagimu untuk menantikan saat itu. Sambil mencoba tetap tegar perlahan-lahan kau rapikan raut wajah yang sedikit berantakan karena pertempuran emosi tadi. Putra dan cucumu menunggu dipintu rumah, secangkir cokelat panas telah tersaji dimeja samping kursi rotan yang mulai lusuh. Engkau merapikan dudukmu setelah beberapa teguk cacau panas melumerkan peredaran darahmu. Matamu menatap kosong senja yang menguning jingga dicakrawala. Tampak seekor garuda terluka bersimbah darah. Terbang tertatih dengan sayap yang berantakan, hampir jatuh diterpa angin. Dan satu luka lagi siap mengisi hari-harimu. Jangan menangis pahlawanku!.
26,agustuS,2010.
Untuk para PAHLAWAN yang telah berjuang demi INDONESIA tercinta....
Persembahan tulus dari generasi tak becus.........
BAGIMU NEGRI........
JIWA RAGA .............
KAMI.................
Jiwa pemberanimu masih terpancar dari serak suaramu yang bergetar. Ada api yang belum juga padam dan masih berkobar-kobar. Sertifikat kepahlawananmu tergantung rapi didinding kamar, namun engkau sudah semakin enggan untuk melihatnya. Bukan itu yang engkau cari dahulu. Kegelisahan mu masih bergolak sama persis ketika sebelum 1945 dulu. Bertubi-tubi jiwa patriotmu meronta. Dan engkau hanya bisa berkaca-kaca. Timbul tenggelam bagaimana pekikmu dulu, besenjata sederhana dan tanpa alas kaki tak gentar menhardik tentara nipon dan juka kompeni belanda. Sebuah kerelaan yang teramat sangat untuk negeri tercinta yang sudah tak sabar ingin merdeka. Kini terwujudkan sudah cita-cita mulia itu. Dan engkau masih terlihat gusar. Sebuah kecintaan terhadap nusa yang patut untuk diteladani. Terima kasih pahlawan.
Ditengah malam engkau terjaga, membungkuk diatas sajadah mendoakan si Amir adikmu, dan juga teman-teman yang dulu tak sempat menikmati kemerdekaan karena harus terkena timah panas saat serangan berlangsung. Ada tetes-tetes air mata meluncur dikedua pipimu yang semakin kisut, sebening embun diujung daun, jernih dan sarat ketulusan. Untaian doa-doa meluncur dari dasar hatimu, merasa bersalah pada mereka yang tak sempat engkau tanyakan namanya hingga kemudian nisan tanpa nama saja yang menyambut akhir pangabdian suci mereka. Ada rasa menyesal dalam hatimu, seolah ingin menghujat waktu yang sudah mengambil sebagian ingatanmu sehingga terasa amat sulit bagimu untuk sekedar mengingat beberapa orang yang menemanimu berjuang dalam perang kala itu. Engkau masih khusuk dalam sujudmu. Dan kadang sesekali disuatu malam seperti yang sudah-sudah, engkau tertidur hingga pagi menjelang. Tubuhmu semakin renta pahlawanku.
Agustus datang mebawa kabar bahagia bagimu, sepanjang tahun rasanya engkau tak jemu menanti kehadirannya. Kini tibalah waktu yang telah kau nantikan hampir disetiap detikmu. 30 hari yang sarat dengan nuansa merah putih, suasana dimana taman-taman makam para sahabatmu dibersihkan dan dikunjungi denga upacara-upacara kebangsaan yang layak. Sehingga pusara-pusara lusuh itu kemudian bertabur bunga yang penuh warna. Dan tidak harus menunggu rontoknya bunga kamboja. Kemudia engkau kembali terisak tangis dan tersedu. Dideretan tamu kehormatan engkau berdiri gagah perwira. Menynyikan dengan lantang lagu Indonesia Raya sambil menatap khusuk sang saka. Sekujur bulu romanmu berdiri, segudang kenangan indahmu menari. Ingin rasanya engkau melakukan upacara seperti ini setiap hari disisa hidupmu kini. Memberikan persembahan suci kepada teman-temanmu yang telah tiada. Sehingga kata “terima kasih pahlawan” tidak hanya dikumandankan setahun dua kali saja. Tetap tegar pahlawanku.
Seusai upacara, engkau melangkah gontai menuju pulang, berat rasanya kedua kakimu untuk terus berjalan. Belum cukup rasanya seremoni yang hanya beberapa jam ini. Sesaat engkau kembali menoleh, lalu kesepian yang panjang sudah menanti didepan sana, dan arak-arakan kenang-kenangan kabahagian agustus 1945 akan semakin tajam menusukmu di 13 hari yang tersisa. 10 november masih beberapa bulan lagi, akan terasa lama bagimu untuk menantikan saat itu. Sambil mencoba tetap tegar perlahan-lahan kau rapikan raut wajah yang sedikit berantakan karena pertempuran emosi tadi. Putra dan cucumu menunggu dipintu rumah, secangkir cokelat panas telah tersaji dimeja samping kursi rotan yang mulai lusuh. Engkau merapikan dudukmu setelah beberapa teguk cacau panas melumerkan peredaran darahmu. Matamu menatap kosong senja yang menguning jingga dicakrawala. Tampak seekor garuda terluka bersimbah darah. Terbang tertatih dengan sayap yang berantakan, hampir jatuh diterpa angin. Dan satu luka lagi siap mengisi hari-harimu. Jangan menangis pahlawanku!.
26,agustuS,2010.
Untuk para PAHLAWAN yang telah berjuang demi INDONESIA tercinta....
Persembahan tulus dari generasi tak becus.........
BAGIMU NEGRI........
JIWA RAGA .............
KAMI.................
Kamis, 19 Agustus 2010
NOSTALGIA ABU-ABU
Ketika jakarta berselimut mendung tebal bergumpal-gumpal disuatu senja nan limbung. Aku teringat dengan kalian yang penah berlari dilapangan dekat rumah bermandi gemericik rinai air mata langit. Dibawah kilatan petir dan deru gemuruhnya yang marah, kita tak gentar dan terus berlari. Masa yang sangat indah pada suatu sore hari yang sebenarnya lebih pekat dari sekarang ini. Kita nyaris tak bisa berhenti menahan tawa sambil tertawa melihat pohon dan daun-daunnya yang menggigil. Seolah tanah yang kita pijak bergetar karena deru langkah kita yang riang. Kala itu ketika usia masih belasan dan terburu-buru untuk menjadi dewasa seperti sekarang, ketika tindakan-tindakan konyol jadi lebih berarti karena merasa hal itulah yang terhebat.
Langit semakin pekat hitam tergurat, bersama malam yang perlahan menyongsong ujung-ujung lorong. Aku tak tahu lagi dimana kalian berada kini. Sosok yang menggaduhkan kelas ketika pelajaran sedang berjalan. Manusia- manusia yang ingin cepat tua dan rela berbagi sebatang rokok untuk dihisap bersama demi mengurai sepatah kata sakral bebunyi “solidaritas”. Aku juga tak tahu apakah kalian sudah mencapai apa yang sedari dulu dicita-citakan. Sejujurnya, aku juga hampir lupa bagai mana paras kalian yang bersama-sama dijemur seperti pakain basah ketika ketahuan oleh salah satu guru sedang asik tidur didapur kantin ketika jam pelajaran berlangsung. Sungguh kekonyolan yang kita lakukan bersama itulah yang membuat aku benar-benar tersiksa oleh rindu yang semakin menusuk ini. Rindu membiru yang berbalut tanda Tanya keingin tahuan tentang kalian yang dulu pernah mesra menemaniku melewati jalan setapak sang jaman yang indah.
Malam baru saja menggelar tirai hitamnya diujung bimasakti nan lapang. Sebentuk sabit bulan menggantung dibalik awan, penuh suka cita ia mengabarkan tentang datangnya ramadhan yang mulia. Aku semakin kerdil diantara semua kebodohan dan kealpaan yang terus menjadi. Dan aku semakin rindu dengan kalian sahabat kecilku. Sehabis tarawih yang tak pernah husuk karena canda kita yang nakal, kita selalu berhasil menggaduhkan malam dengan petasan dan gelak tawa yang tanpa beban. Seolah kita sedang berada dipuncak kehidupan tertinggi. Selalu ada kebahagiaan tersedia untuk merasa tak sabar menjelang waktu sahur tiba. Kita benar-benar berhasil melukis warna malam seolah penuh degan corak yang lebih kaya .
Waktu terus berjalan, mengantarkan kita menuju apa yang selama ini kita kejar dengan gusar “menjadi dewasa”. Seolah dengan menjadi lebih tua hidup akan lebih bahagia. Ya, mungkin saja. Semoga. Seolah semua pertanyaan yang dulu menghantui kita akan terjawab seketika. Nyatanya hidup tidak sesederhana pertambahan usia yang selalu saja terjadi hingga akhirnya nyaris tidak kita sadari. Bahwasanya umur kemudian menjadi tolak ukur yang kejam. Yang terus tumbuh membesar membuat waktu seperti semakin menyempit. Bila dulu kita yang disiram dengan kasih,sayang,cinta,perhatian,ilmu dan segala macam kebaikan. Kini kitalah petani yang tak boleh letih oleh panas dan tak boleh lelah oleh hujan. Dan sembari masih dan harus tetap terus belajar. Aku harap kalian lebih siap dariku kini teman.
Sekian lama sudah aku ingin berbagi kisah dan bertukar pikiran dengan kalian. Berbagi segelas kopi dipagi hari yang dingin menggigil. Bertutur tentang segala macam keluh kesah dengan bahasa yang mesra. Sambil menunggu waktu imsak tiba, kemudian kita sholat subuh disurau kecil sebelah sungai dekat rumahmu. Sungguh pemandangan yang kian terlukis indah dikalbuku. Ketika musholla dan mesjid berteriak-teriak membangunkan jiwa-jiwa yang lelap untuk segera sahur, ketika ruang sekitar otakku yang semakin sempit mulai penuh sesak oleh asap rokok, ketika kata-kata menjadi semakin sulit untuk dirangkai, ketika itulah gambar-gambar tentang kita bermunculan menyajikan kerinduan yang teramat sangat. Memunculkan kenaifan yang bergulir dahsyat.
Teman, siang itu kala mentari terik dipertengahan ramadhan yang semakin sulit. Entah perselisihan apa yang kita persoalkan hingga nyaris membuat batal puasa yang sedang kita jalani. Masih terlihat jelas dibenakku raut mukamu yang mengkerut menatap rupaku yang juga kusut. Sungguh menjadi sesuatu yang semakin lucu untuk di ingat kini. Kita saling terdiam hingga hampir waktu buka puasa tiba, setelah sebelumnya berbicara dengan nada tinggi penuh emosi. Tapi malam, selalu saja datang membawa solusi, seolah bintang-bintang adalah jaminan untuk kita kembali bersama tersenyum dan tertawa riang. Seolah kita adalah mutlak sebagai pemenang. Bersama angin kita terbang tinggi dan semakin menjadi.
Mungkin kita terlalu polos saat itu, hingga tak sempat merencanakan sebuah pertemuan kecil saja untuk mengisi saat-saat seperti sekarang. Atau mungkinkah kembali kita menyalahkan lagi sang waktu yang serarsa semakin kencang berlari, sehingga nyaris tidak ada celah untuk sekedar membuat peluang dan sekedar bersua ulang. Sama seperti kala itu, ketika kau harus pindah dan kita terpisah. Sama ketika itu aku harus pergi dan kita terberai. Kita larut dalam episode baru kehidupan kita masing-masing. Dan tentang kita pun sejenak terlupakan. Tertupup lembar-lembar baru yang menyibukkan hari-hari dibabak selanjutnya perjalanan hidup kita.
Malam ini sebelum puasa kembali dimulai, sebelum tiba menyingsing sang fajar. Aku yang mulai mengantuk berbisik pelan didalam hati, “ semoga masih ada waktu untuk kita bertemu lagi”. Aku ucapkan lirih seraya doa-doa suci. Dan bila menjadi kenyataan, aku ingin memeluk kalian walau seaat saja. Biar dunia tahu bahwa kita masih tetap sedekat saudara, seerat teman dan tetap utuh sebagai sahabat. Aku akan selalu menantikan masa itu datang, berdiri tersenyum diantara mimpi dan harapan. Dan aku masih akan selalu yakin bahwa kita solid teranyam rapi dalam bingkai berbunyi SAHABAT.
Semoga Tuhan masih memberikan kita kesempatan untuk sekedar bertemu bertegur sapa. Untuk sekedar berjumpa dan bernostalgia.Dan bahkan jauh hari sebelum idfulfitri tiba membawa kemenangan dan sukacita, aku sangat yakin bahwa kita sudah saling memaafkan. Masih teruntai doa-doaku untuk mu teman.
Alhamdulillah... setelah beberapa bulan ga ada new entri. akhirnya kelar juga.. Ini ditulis dari puasa hari pertama, 110810, dan hingga akhirnya selesai mlm ini.... untukmu para shabat-sahabat kecilku yang sekarang entah berada dimana... aku merindukan kalian semua... Akmal Alam, Syamsul Bachri, Rachmad Widodo, Agus Sugianto, Jufri.. dan semua yg tak disebutkan ..... i miz u guys!!!!!
Langit semakin pekat hitam tergurat, bersama malam yang perlahan menyongsong ujung-ujung lorong. Aku tak tahu lagi dimana kalian berada kini. Sosok yang menggaduhkan kelas ketika pelajaran sedang berjalan. Manusia- manusia yang ingin cepat tua dan rela berbagi sebatang rokok untuk dihisap bersama demi mengurai sepatah kata sakral bebunyi “solidaritas”. Aku juga tak tahu apakah kalian sudah mencapai apa yang sedari dulu dicita-citakan. Sejujurnya, aku juga hampir lupa bagai mana paras kalian yang bersama-sama dijemur seperti pakain basah ketika ketahuan oleh salah satu guru sedang asik tidur didapur kantin ketika jam pelajaran berlangsung. Sungguh kekonyolan yang kita lakukan bersama itulah yang membuat aku benar-benar tersiksa oleh rindu yang semakin menusuk ini. Rindu membiru yang berbalut tanda Tanya keingin tahuan tentang kalian yang dulu pernah mesra menemaniku melewati jalan setapak sang jaman yang indah.
Malam baru saja menggelar tirai hitamnya diujung bimasakti nan lapang. Sebentuk sabit bulan menggantung dibalik awan, penuh suka cita ia mengabarkan tentang datangnya ramadhan yang mulia. Aku semakin kerdil diantara semua kebodohan dan kealpaan yang terus menjadi. Dan aku semakin rindu dengan kalian sahabat kecilku. Sehabis tarawih yang tak pernah husuk karena canda kita yang nakal, kita selalu berhasil menggaduhkan malam dengan petasan dan gelak tawa yang tanpa beban. Seolah kita sedang berada dipuncak kehidupan tertinggi. Selalu ada kebahagiaan tersedia untuk merasa tak sabar menjelang waktu sahur tiba. Kita benar-benar berhasil melukis warna malam seolah penuh degan corak yang lebih kaya .
Waktu terus berjalan, mengantarkan kita menuju apa yang selama ini kita kejar dengan gusar “menjadi dewasa”. Seolah dengan menjadi lebih tua hidup akan lebih bahagia. Ya, mungkin saja. Semoga. Seolah semua pertanyaan yang dulu menghantui kita akan terjawab seketika. Nyatanya hidup tidak sesederhana pertambahan usia yang selalu saja terjadi hingga akhirnya nyaris tidak kita sadari. Bahwasanya umur kemudian menjadi tolak ukur yang kejam. Yang terus tumbuh membesar membuat waktu seperti semakin menyempit. Bila dulu kita yang disiram dengan kasih,sayang,cinta,perhatian,ilmu dan segala macam kebaikan. Kini kitalah petani yang tak boleh letih oleh panas dan tak boleh lelah oleh hujan. Dan sembari masih dan harus tetap terus belajar. Aku harap kalian lebih siap dariku kini teman.
Sekian lama sudah aku ingin berbagi kisah dan bertukar pikiran dengan kalian. Berbagi segelas kopi dipagi hari yang dingin menggigil. Bertutur tentang segala macam keluh kesah dengan bahasa yang mesra. Sambil menunggu waktu imsak tiba, kemudian kita sholat subuh disurau kecil sebelah sungai dekat rumahmu. Sungguh pemandangan yang kian terlukis indah dikalbuku. Ketika musholla dan mesjid berteriak-teriak membangunkan jiwa-jiwa yang lelap untuk segera sahur, ketika ruang sekitar otakku yang semakin sempit mulai penuh sesak oleh asap rokok, ketika kata-kata menjadi semakin sulit untuk dirangkai, ketika itulah gambar-gambar tentang kita bermunculan menyajikan kerinduan yang teramat sangat. Memunculkan kenaifan yang bergulir dahsyat.
Teman, siang itu kala mentari terik dipertengahan ramadhan yang semakin sulit. Entah perselisihan apa yang kita persoalkan hingga nyaris membuat batal puasa yang sedang kita jalani. Masih terlihat jelas dibenakku raut mukamu yang mengkerut menatap rupaku yang juga kusut. Sungguh menjadi sesuatu yang semakin lucu untuk di ingat kini. Kita saling terdiam hingga hampir waktu buka puasa tiba, setelah sebelumnya berbicara dengan nada tinggi penuh emosi. Tapi malam, selalu saja datang membawa solusi, seolah bintang-bintang adalah jaminan untuk kita kembali bersama tersenyum dan tertawa riang. Seolah kita adalah mutlak sebagai pemenang. Bersama angin kita terbang tinggi dan semakin menjadi.
Mungkin kita terlalu polos saat itu, hingga tak sempat merencanakan sebuah pertemuan kecil saja untuk mengisi saat-saat seperti sekarang. Atau mungkinkah kembali kita menyalahkan lagi sang waktu yang serarsa semakin kencang berlari, sehingga nyaris tidak ada celah untuk sekedar membuat peluang dan sekedar bersua ulang. Sama seperti kala itu, ketika kau harus pindah dan kita terpisah. Sama ketika itu aku harus pergi dan kita terberai. Kita larut dalam episode baru kehidupan kita masing-masing. Dan tentang kita pun sejenak terlupakan. Tertupup lembar-lembar baru yang menyibukkan hari-hari dibabak selanjutnya perjalanan hidup kita.
Malam ini sebelum puasa kembali dimulai, sebelum tiba menyingsing sang fajar. Aku yang mulai mengantuk berbisik pelan didalam hati, “ semoga masih ada waktu untuk kita bertemu lagi”. Aku ucapkan lirih seraya doa-doa suci. Dan bila menjadi kenyataan, aku ingin memeluk kalian walau seaat saja. Biar dunia tahu bahwa kita masih tetap sedekat saudara, seerat teman dan tetap utuh sebagai sahabat. Aku akan selalu menantikan masa itu datang, berdiri tersenyum diantara mimpi dan harapan. Dan aku masih akan selalu yakin bahwa kita solid teranyam rapi dalam bingkai berbunyi SAHABAT.
Semoga Tuhan masih memberikan kita kesempatan untuk sekedar bertemu bertegur sapa. Untuk sekedar berjumpa dan bernostalgia.Dan bahkan jauh hari sebelum idfulfitri tiba membawa kemenangan dan sukacita, aku sangat yakin bahwa kita sudah saling memaafkan. Masih teruntai doa-doaku untuk mu teman.
Alhamdulillah... setelah beberapa bulan ga ada new entri. akhirnya kelar juga.. Ini ditulis dari puasa hari pertama, 110810, dan hingga akhirnya selesai mlm ini.... untukmu para shabat-sahabat kecilku yang sekarang entah berada dimana... aku merindukan kalian semua... Akmal Alam, Syamsul Bachri, Rachmad Widodo, Agus Sugianto, Jufri.. dan semua yg tak disebutkan ..... i miz u guys!!!!!
Kamis, 17 Juni 2010
YANG TAK PERNAH TERKIRIM
Bersama desir angin menyusup pelan meniup sejuk kesegenap ruang nan pengap, aku bercerita tentang luka yang terbawa dari suatu waktu yang t’lah lama. Menguraikan sedikit demi sedikit perih menjadi kata-kata . Berharap ada pengurangan sesal dengan berbagi bahasa. Malam belum begitu larut sekali. Tapi mimpi sudah membuai anak-anak adam melayang tinggi. Aku seolah tertinggal seorang diri di kota yang biasanya tidak pernah sunyi ini. Tanpa bunyi radio,tanpa bising mesin-mesin, dan bahkan tiada juga berisiknya tv. Hampir satu jam aku menatap monitor dan tombol keybord komputer tanpa sepatah kata tertumpah dari sejuta momen yang sedang bergolak didasar jiwa. Entah karena aku larut dengan kecamuk emosi bertubi, atau mungkin takut berterus terang tentang rasa yang masih mengambang. Aku hanya bisu sekaku dinding-dinding batu kamarku,diam mematung seperti terperangkap hening menyekap. Detak jam seolah terdengar nyaring melengking. Memekak didada terngiang ditelinga membengkak. Aku kembali diborgol perasaan kalah yang terus membuat diri serasa lemah. Kebodohan ini semakin menghantamku hingga berulang kali. Aku menjadi orang pintar berkoar tapi pengecut dalam bertidak. Pecundang yang memalukan ini kembali hanya terdiam. Disaksikan nyamuk dan beberapa cicak yang sedang pesta kawin.Sejenak aku rebahkan tubuhku di lantai, mersakan dinginya ubin berharap jalan keluar dari kebuntuan yang panjang. Hingga tiba-tiba saja aku teringat kata-kata ibuku “kita tdak akan pernah tahu apa yang akan terjadi jika kita takut untuk mengawali”. Aku langsung seketika bangkit dari tidurku kemudian perlahan kata demi kata aku ketik hingga akhirnya terus mengalir bagai sebuah cerita. Kuptuskan untuk menulis surat untuk masa lalu. Sebuah surat yang akan dibaca oleh masa depan dan akan dimuat disaat ini. Sebuah curahan rasa yang selama ini bersembunyi di ruang hati yang paling dalam dan sunyi. Sebuah plot yang selama ini hanya kutulis rapi dengan tinta air mata dan tak pernah terbaca oleh semua. Aku hanya ingin jujur pada jiwa-jiwa berjelaga dan berbagi pada hati-hati yang dahaga. Bersama dengan bintang-bintang yang mulai memudar menyambut mentari. Ditengah-tengah luas lembah penyesalan yang semakin lapang. Sebuah kesimpulan tentang seseorang yang selayaknya diberikan penghargaan tertinggi dan masih tetap dan akan selamanya dihati, aku coba pilihkan kata-kata terbaik dari semua kata. Merangkainya dengan cinta yang masih sama seperti kala itu saat kita bersama. Diatas sebuah kertas bersih nan putih yang wangi. Aku coba memberi tahunya lewat karya kecil yang mudah-mudahan akan terus dibaca oleh sang jaman. Sebuah hal tak berguna yang tidak akan mampu merubah apa-apa. Sebuah tindakan kecil yang aku harapkan bisa mengurangi sedikit beban yang sudah cukup lama aku emban. Sebuah pengakuan tulus tanpa satupun tujuan untuk mengusik hidupmu yang mungkin saat ini sudah cukup indah tanpaku. Sebuah pernohonan maaf juga ucapan terimakasih yang dahulu belum sempat aku utarakan. Sebuah persembahan konyol dari orang tolol yang telah menyia-nyiakan anugerah terindah yang pernah singgah. Tapi sudahlah. Ayam-ayam mulai terjaga membangunkan pagi. Tak banyak waktuku untuk sekedar mengasihani diri. Aku harus segera menyelesaikan surat untukmu. Sekelumit perasaan yang semoga saja menjadi penawar atau juga pelengkap bagi perasaan yang lainnya di jiwa. Karena ketika kita sendirian dan kespian itu belum seberapa pedih dibandingkan ketika bersama seseorang tapi kita masih merasa kesepian. Dan karena pearsaan inilah aku ingin memastikan bahwa engkau kini jauh lebih baik dari aku. Semoga Tuhan selalu beserta jiwa-jiwa yang pasrah. Inilah sebuah curahan isi hati terdalam untukmu yang tak boleh lagi aku ungkapkan. Sebuah rahasia yang akan terus aku bawa hingga dunia tak lagi aku diami. Hingga kemudian engkau tahu bahwa engkau tak pernah kehilangan aku tapi akulah yang kehilangan enkau. Tersenyumlah cinta, engkaulah mahluk elok yang tak akan penah terganti, diam-diam engkau bersemayam dalam hati. Diam-diam aku tetap mengasihi. Diam- diam hingga mati benar-benar membuatku terdiam. Selamat tinggal cita. Semoga kebahagiaan selalu tertuang dalam cawan tawamu. Semoga engkau tidak mengalami seperti yang aku jalani. Semoga.
SURAT CINTA UNTUK MASA LALU
Pagi cukup teduh ‘tak terlalu terik. Aku masih sendiri dengan semua kenangan yang terbawa dari kotamu dulu. Nyaris tidak ada kata-kata terucap, hanya sesal dikecap bersama segurat emosi yang sesekali masih menyala-nyala. Sejuta lukisan juga ribuan puisi yang sengaja aku tinggalkan di kotamu dulu kini terbaca kembali olehku disini yang tak pernah bisa lupa dengan semua yang pernah kita lewati bersama. Angin sayup-sayup meremas hasratku yang kembali terpercik, dan perlahan berkobar menyala membakar tawa-tawa tersisa. Langit biru pagi ini, bercengkrama dengan awan-awan putih berarak berkjar-kejaran mewarnai atap sang cakrawala. Ada wajahmu disitu. Dibalutan senyum dan tawa kecilmu yang khas. Aku terus menengadahkan kepala kearah bayanganmu di atas sana, dan kemudian silau bias sang surya membuyarkan semuanya, sadarkan mimpiku yang hanya berakhir sebagai sebuah ilusi. Hanya mimpi.Perih mengiris dihati lalu menuntun sadarku untuk tetap berpijak dibumi dan menerima kenyatan.
Elegi lagi-lagi elegi. Inilah elegi yang selalu lahir seperti biasa di setip pagi seperti ribuan pagi yang terlewat. Cambuk bengis untuk setiap air mata yang bergantian menetes dari hati dan juga kedua bola mata. Terus berulang hingga siang menjemput petang dan kembali terjadi lagi dipelukan dinginnya malam. Inilah kutukan dari sebuah konsekwensi kehidupan yang selalu dilematik. Sebuah sona abu-abu antara hitam dan putih yang tanpa ampun akan selalu memaksa semua anak adam untuk melaluinya. Sebuah senyum untuk yang lain tapi juga tangis buat yang lainnya lagi. Otak pintar orang-orang bijak membuat kita lebih bisa menerima kenyataan pahit. Sebuah kebenaran tidak selalu manis adanya. Bahwa kadang kita lebih rela kehilangan sedikit nyawa demi banyak nyawa yang harus diselamatkan. Kita harus ikhlas melihat 3 atau 4 orang mati tapi 100 orang yang lain dapat terus melanjutkan nafas kehidupan. Setidaknya nyawa-nyawa yang pergi itu bukan sebuah kesia-siaan, tapi itulah pengorbanan yang suci, itulah dalil atau mungkin sebuah pembenaran yang harus kita amini dengan lapang dada. Meskipun sejujurnya aku ingin melihat semuanya tetap hidup dan bersama-sama bergandeng tangan menatap fajar baru di pagi yang hangat. Tapi inilah kehidupan. Semua berputar dalam lingkaran dan isinya hanyalah sebuah pilihan.ya hanya pilihan, dan kita harus memilih.HARUS.
Salah satu hal terberat dalam hidup adalah merelakan apa yang sebenarnya adalah yang kita inginkan. Seperti halnya kita yang harus terberai demi kebahagian orang lain yang jumlahnya lebih dari sekedar “kau dan aku”. Tapi tegarlah! Aku akan selalu merasakan isak yang engkau sedang rasakan. Aku juga mengerang menahan perih seperti bagaimana yang kau rasakan karena menahan pedih . Tapi aku yakin kau juga tersenyum melihat orang-orang yang kita hormati juga kita kasihi bahagia karena kita tidak lagi terperangkap oleh ego yang bisa melukai mereka semua. Semoga Tuhan mencatat semua tetes air mata kita sebagai amal kebaikan untuk setidaknya kemudian bisa digunakan sebagai penebus dosa-dosa yang pernah kita kecap selama bersama dulu. Dosa-dosa terindah yang terus melekat dalam ingatan kita masing-masing. Kita adalah persembahan untuk sesuatu yang lebih baik. Kitalah tumbal untuk keadaan yang lebih harmonis, hingga tidak ada lagi tangis-tangis yang lain ,meskipun ironisnya kitalah esensi dari air mata itu sendiri.
Hingga kini aku masih banyak bercerita tentang dirimu yang dulu. Kepada teman-teman terdekatku, bahkan pada diriku sendiri. Tidak terasa dan tanpa kita sadari kita telah menggubah sebuah dongeng indah yang bisa saja tidak akan pernah lekang oleh waktu. Cerita tentang asmara yang bukan mustahil akan menjadi ispirasi atau mungkin sekedar bahan introspeksi diri. kasih, jangan engkau tiru perilaku bodohku ini. Aku hanya belum siap memahat masa depan hingga akhirnya sampai kini masih bermanja-manja dengan semua kenangan tentangmu.Berandai-andai seperti anak kecil yang naïf untuk kemudian bisa menghentikan waktu lalu berjalan mundur menuju masa dimana malam, siang, bahkan pagi buta yang beku masihlah milik kita berdua. Sungguh memalukan memang. Dan seperti engkau tahu aku lebih dari aku tahu diriku sendiri, inilah aku kini dan masih saja belum bisa bermetamorfosa dari aku yang lampau untuk menjadi aku yang baru yang lebih baik.
Percayalah!. Bahwa engkaulah selamanya terkasih yang masih bermukim disisi lain ruang hati terdalam. Tanpa dan tak akan terusik sedetikpun. Akan tetap tinggal hingga ajal menjemput jiwa lelahku, hingga raga terbaring ditimbun tanah bernisan. Engkaulah rahasia terindah yang selamanya akan tetap menjadi rahasia. Tersimpan rapi didalam ruang sanubari dengan dekorasi-dekorasi masterpiece dan dikelilingi peri-peri yang tidak akan pernah lelah memainkan harpa tentang lagu cinta yang merdu. Dan aku berjanji akan membawa semua ini hingga aku mati. Sehingga dimensi bukanlah lagi ruang yang bisa memenggal cinta. Kasih.. Hingga saat itu tiba lupakanlah semua tentang kita. Jalani hidupmu seperti ksatria-ksatria yang tetap tegar melanjutkan hidupnya seusai kalah dari medan laga.Teruslah warnai harimu seperti ilmuwan dengan inovasinya yang terus-menerus melukis corak masa depan. Berjanjilah kepadaku untuk menjadikan semua pengalaman pahit yang pernah kita alami sebagai suatu pelajaran untuk hidup yang lebih baik. Bergumamlah pada hatimu, dan disini aku masih mendengarmu. Dengan senyum seperti saat kita bersama dulu , dengan asa tentang akhir bahagia, meskipun sudah sangat pasti kita tdak akan bisa bersatu lagi. Percayalah! Bahwa cinta bukan selalu ada karena kebersamaan. Tapi cinta memang ada karena perasan tulus walau harus tanpa kebersamaan atau apapun juga. Seperti yang kita semua ketahui cinta ada karena cinta itu sendiri.
Jati diri bukan hanya setumpuk ego dan keangkuhan, aku tidak akan pernah lalai untuk mengingat itu. Dan engkau adalah salah satu orang yang telah membantuku dengan kesabaran kasih-sayang untuk terus tegar dalam perjalanan ekspedisiku yang liar. Memapahku untuk bangkit dari jatuh, menyemangatiku disaat malas dan kemudian menuntun langkah-langkahku yang salah menuju jalur yang benar. Sempat sesekali engkau marah, hingga kemudian engkau tersenyum lagi menebar kelembutan sikapmu dan dengan sendirinya aku telah menjadi sedikit lebih baik. Entah bagaimana cara aku untuk membalas semua kebaikan yang pernah engkau berikan padaku. Disetiap malam larut aku selalu berdoa dalam kesunyian, kepada Tuhan aku meminta agar engkau menemukan dunia yang selama ini seharusnya menjadi milikmu. Dunia yang jauh lebih baik dari apa yang telah kamu dapatkan selama bersama aku dulu. Kenangan adalah materi untuk kita baca dan kita pelajari agar menjadi bahan untuk kita terus tumbuh dewasa nantinya. Belajarlah dari semua yang telah terlewat dan berharaplah pada apa yang akan datang. Aku mendukungmu dengan doaku, terdengar ataupun tidak. Aku tetap selalu berdiri dibelakangmu, samar tak terlihat namun pasti memberi motivasi. Tanyakan tentang nyanyian embun-embun pagi yang bening kepada dingin dan hening! Dan setulus itulah doaku untuk dirimu yang telah terluka oleh ulahku. Setulus engkau dulu mengasihiku apa adanya. Tanpa pamrih tanpa imbalan tanpa bayaran tanpa keluh kesah dan tanpa upah.
Dalam nyenyak tidurmu untaian doa-doa kutabur. dalam sedihmu dukaku tak terukur, dan dalam tawamu bahagiaku terhibur. Berlayarlah sejauh samudera terhampar. dan bila badai datang ingatlah sakit yang pernah kita rasa. bertahanlah dari amukan topan itu! jangan biarkan semua yang pernah terjadi kembali menyakiti. bersyukurlah! karena ketika kau merasa tidak ada lagi satupun orang yang mendengarkan, masih ada seorang yang memperhatikanmu. Teruslah kembangkan layar sucimu hingga bila suatu ketika gelap membimbangkan dan mengombang ambingkan bahteramu, akan selalu ada sebuah bintang dilangit malam mencoba menuntun perjalananmu dengan sinarnya yang pucat. kasih.... Bahagiaku untukmu.
dengan cinta dan kasih
____faint___
gw lupa kapan ini ditulis, yg jelas antara kurun waktu pertengahan 2008.... di kost an nya (alm.aziz).. tengah malam di sunyinya jl. kaalipasir raya no13....
SURAT CINTA UNTUK MASA LALU
Pagi cukup teduh ‘tak terlalu terik. Aku masih sendiri dengan semua kenangan yang terbawa dari kotamu dulu. Nyaris tidak ada kata-kata terucap, hanya sesal dikecap bersama segurat emosi yang sesekali masih menyala-nyala. Sejuta lukisan juga ribuan puisi yang sengaja aku tinggalkan di kotamu dulu kini terbaca kembali olehku disini yang tak pernah bisa lupa dengan semua yang pernah kita lewati bersama. Angin sayup-sayup meremas hasratku yang kembali terpercik, dan perlahan berkobar menyala membakar tawa-tawa tersisa. Langit biru pagi ini, bercengkrama dengan awan-awan putih berarak berkjar-kejaran mewarnai atap sang cakrawala. Ada wajahmu disitu. Dibalutan senyum dan tawa kecilmu yang khas. Aku terus menengadahkan kepala kearah bayanganmu di atas sana, dan kemudian silau bias sang surya membuyarkan semuanya, sadarkan mimpiku yang hanya berakhir sebagai sebuah ilusi. Hanya mimpi.Perih mengiris dihati lalu menuntun sadarku untuk tetap berpijak dibumi dan menerima kenyatan.
Elegi lagi-lagi elegi. Inilah elegi yang selalu lahir seperti biasa di setip pagi seperti ribuan pagi yang terlewat. Cambuk bengis untuk setiap air mata yang bergantian menetes dari hati dan juga kedua bola mata. Terus berulang hingga siang menjemput petang dan kembali terjadi lagi dipelukan dinginnya malam. Inilah kutukan dari sebuah konsekwensi kehidupan yang selalu dilematik. Sebuah sona abu-abu antara hitam dan putih yang tanpa ampun akan selalu memaksa semua anak adam untuk melaluinya. Sebuah senyum untuk yang lain tapi juga tangis buat yang lainnya lagi. Otak pintar orang-orang bijak membuat kita lebih bisa menerima kenyataan pahit. Sebuah kebenaran tidak selalu manis adanya. Bahwa kadang kita lebih rela kehilangan sedikit nyawa demi banyak nyawa yang harus diselamatkan. Kita harus ikhlas melihat 3 atau 4 orang mati tapi 100 orang yang lain dapat terus melanjutkan nafas kehidupan. Setidaknya nyawa-nyawa yang pergi itu bukan sebuah kesia-siaan, tapi itulah pengorbanan yang suci, itulah dalil atau mungkin sebuah pembenaran yang harus kita amini dengan lapang dada. Meskipun sejujurnya aku ingin melihat semuanya tetap hidup dan bersama-sama bergandeng tangan menatap fajar baru di pagi yang hangat. Tapi inilah kehidupan. Semua berputar dalam lingkaran dan isinya hanyalah sebuah pilihan.ya hanya pilihan, dan kita harus memilih.HARUS.
Salah satu hal terberat dalam hidup adalah merelakan apa yang sebenarnya adalah yang kita inginkan. Seperti halnya kita yang harus terberai demi kebahagian orang lain yang jumlahnya lebih dari sekedar “kau dan aku”. Tapi tegarlah! Aku akan selalu merasakan isak yang engkau sedang rasakan. Aku juga mengerang menahan perih seperti bagaimana yang kau rasakan karena menahan pedih . Tapi aku yakin kau juga tersenyum melihat orang-orang yang kita hormati juga kita kasihi bahagia karena kita tidak lagi terperangkap oleh ego yang bisa melukai mereka semua. Semoga Tuhan mencatat semua tetes air mata kita sebagai amal kebaikan untuk setidaknya kemudian bisa digunakan sebagai penebus dosa-dosa yang pernah kita kecap selama bersama dulu. Dosa-dosa terindah yang terus melekat dalam ingatan kita masing-masing. Kita adalah persembahan untuk sesuatu yang lebih baik. Kitalah tumbal untuk keadaan yang lebih harmonis, hingga tidak ada lagi tangis-tangis yang lain ,meskipun ironisnya kitalah esensi dari air mata itu sendiri.
Hingga kini aku masih banyak bercerita tentang dirimu yang dulu. Kepada teman-teman terdekatku, bahkan pada diriku sendiri. Tidak terasa dan tanpa kita sadari kita telah menggubah sebuah dongeng indah yang bisa saja tidak akan pernah lekang oleh waktu. Cerita tentang asmara yang bukan mustahil akan menjadi ispirasi atau mungkin sekedar bahan introspeksi diri. kasih, jangan engkau tiru perilaku bodohku ini. Aku hanya belum siap memahat masa depan hingga akhirnya sampai kini masih bermanja-manja dengan semua kenangan tentangmu.Berandai-andai seperti anak kecil yang naïf untuk kemudian bisa menghentikan waktu lalu berjalan mundur menuju masa dimana malam, siang, bahkan pagi buta yang beku masihlah milik kita berdua. Sungguh memalukan memang. Dan seperti engkau tahu aku lebih dari aku tahu diriku sendiri, inilah aku kini dan masih saja belum bisa bermetamorfosa dari aku yang lampau untuk menjadi aku yang baru yang lebih baik.
Percayalah!. Bahwa engkaulah selamanya terkasih yang masih bermukim disisi lain ruang hati terdalam. Tanpa dan tak akan terusik sedetikpun. Akan tetap tinggal hingga ajal menjemput jiwa lelahku, hingga raga terbaring ditimbun tanah bernisan. Engkaulah rahasia terindah yang selamanya akan tetap menjadi rahasia. Tersimpan rapi didalam ruang sanubari dengan dekorasi-dekorasi masterpiece dan dikelilingi peri-peri yang tidak akan pernah lelah memainkan harpa tentang lagu cinta yang merdu. Dan aku berjanji akan membawa semua ini hingga aku mati. Sehingga dimensi bukanlah lagi ruang yang bisa memenggal cinta. Kasih.. Hingga saat itu tiba lupakanlah semua tentang kita. Jalani hidupmu seperti ksatria-ksatria yang tetap tegar melanjutkan hidupnya seusai kalah dari medan laga.Teruslah warnai harimu seperti ilmuwan dengan inovasinya yang terus-menerus melukis corak masa depan. Berjanjilah kepadaku untuk menjadikan semua pengalaman pahit yang pernah kita alami sebagai suatu pelajaran untuk hidup yang lebih baik. Bergumamlah pada hatimu, dan disini aku masih mendengarmu. Dengan senyum seperti saat kita bersama dulu , dengan asa tentang akhir bahagia, meskipun sudah sangat pasti kita tdak akan bisa bersatu lagi. Percayalah! Bahwa cinta bukan selalu ada karena kebersamaan. Tapi cinta memang ada karena perasan tulus walau harus tanpa kebersamaan atau apapun juga. Seperti yang kita semua ketahui cinta ada karena cinta itu sendiri.
Jati diri bukan hanya setumpuk ego dan keangkuhan, aku tidak akan pernah lalai untuk mengingat itu. Dan engkau adalah salah satu orang yang telah membantuku dengan kesabaran kasih-sayang untuk terus tegar dalam perjalanan ekspedisiku yang liar. Memapahku untuk bangkit dari jatuh, menyemangatiku disaat malas dan kemudian menuntun langkah-langkahku yang salah menuju jalur yang benar. Sempat sesekali engkau marah, hingga kemudian engkau tersenyum lagi menebar kelembutan sikapmu dan dengan sendirinya aku telah menjadi sedikit lebih baik. Entah bagaimana cara aku untuk membalas semua kebaikan yang pernah engkau berikan padaku. Disetiap malam larut aku selalu berdoa dalam kesunyian, kepada Tuhan aku meminta agar engkau menemukan dunia yang selama ini seharusnya menjadi milikmu. Dunia yang jauh lebih baik dari apa yang telah kamu dapatkan selama bersama aku dulu. Kenangan adalah materi untuk kita baca dan kita pelajari agar menjadi bahan untuk kita terus tumbuh dewasa nantinya. Belajarlah dari semua yang telah terlewat dan berharaplah pada apa yang akan datang. Aku mendukungmu dengan doaku, terdengar ataupun tidak. Aku tetap selalu berdiri dibelakangmu, samar tak terlihat namun pasti memberi motivasi. Tanyakan tentang nyanyian embun-embun pagi yang bening kepada dingin dan hening! Dan setulus itulah doaku untuk dirimu yang telah terluka oleh ulahku. Setulus engkau dulu mengasihiku apa adanya. Tanpa pamrih tanpa imbalan tanpa bayaran tanpa keluh kesah dan tanpa upah.
Dalam nyenyak tidurmu untaian doa-doa kutabur. dalam sedihmu dukaku tak terukur, dan dalam tawamu bahagiaku terhibur. Berlayarlah sejauh samudera terhampar. dan bila badai datang ingatlah sakit yang pernah kita rasa. bertahanlah dari amukan topan itu! jangan biarkan semua yang pernah terjadi kembali menyakiti. bersyukurlah! karena ketika kau merasa tidak ada lagi satupun orang yang mendengarkan, masih ada seorang yang memperhatikanmu. Teruslah kembangkan layar sucimu hingga bila suatu ketika gelap membimbangkan dan mengombang ambingkan bahteramu, akan selalu ada sebuah bintang dilangit malam mencoba menuntun perjalananmu dengan sinarnya yang pucat. kasih.... Bahagiaku untukmu.
dengan cinta dan kasih
____faint___
gw lupa kapan ini ditulis, yg jelas antara kurun waktu pertengahan 2008.... di kost an nya (alm.aziz).. tengah malam di sunyinya jl. kaalipasir raya no13....
Selasa, 15 Juni 2010
MASIH MILIKMU
Aku masih saja membakar paru-paruku dengan nikotin.Bercengkrama dengan wajah malam yang tetap datar.Sunyi juga dingin masih mesra di kelam yang suram.Masa lalu menegur jiwa penuh sesal, pun juga kesal semakin menggumpal.
Entah sudah berapa lama aku tidak menulis lagi tentang semua ini? Hampir bosan aku bercumbu dengan kata-kata yang hanya slalu berkisah tentang luka hati dan perih. Bila saja tak mesti sakit yang harus tertuang? bila saja semua tentang tawa juga senyum bahagia penuh rona nan riang.
Banyak pergulatan emosi tersisa tiada kunjung berahir. Ingin segera terselasaikan tapi tidak ada jalan keluar.Semua menjadi beku seperti nanah yang semakin membusuk .pergolakan-pergolakan resah yang tidak kunjug berujung. Sungguh sangat memilukan. Berbahasa air mata bersuara isak merana.
Bumi seolah lautan darah yang merah.. Anak-anak adam lalu lalang hiruk pikuk tapi semua bisu tanpa suara.Aku semakin jauh terperosok dalam kesepian yang dalam. Sesak oleh kehampaan, beku oleh kekosongan. Hanya aku dan diriku, tiada lainnya. Selebihnya adalah tanda tanya tanpa jawaban. Terngiang samar suara tangis memekakkan telinga hati yang lelah oleh rasa kalah.
Dinding triplek kamar kostku tetap bisu tanpa komentar.Penghuni-penghuni yang lainpun sudah lelap oleh buayan mimpi-mimpi tidur. Aku masih berjelaga menghitung detak-detak detik yang terus menghitungku.Hanya suara radio sayup-sayup merayap bersama gamangnya udara. Sesungguhnya bersukurlah mereka yang hidup bersama mimpi-mimpi terwujud menjadi sebuah kenyataan . Dan berbahagialah mereka yang masih pumya mimpi. Karena mimpi adalah perjalanan bawah sadar yang sangat indah meski tidak harus terwujud seklipun. Oh Tuhanku yang maha memiliki dari semua hambanya dengan segala kekerdilan ini aku bersujud kepada Mu..
Gerimis gemericik rinainya perlahan membuat dataran dan seisi bumi menggigil. Aku semakin resah menghirup udara lembab sambil menyaksikan pagi yang enggan berbagi hangat. Daun beku di cengkram basah yang kuyup. Ada kebekuan suasana yang berat. Tanpa suara kata-kata mengalun seperti elegi menyambut sejuta malas anak-anak adam yang harus mulai terjaga oleh sepatah kata berbunyi “tanggung jawab”.
Jiwa-jiwa setengah hati perlahan meriuhkan dinginnya jalan-jalan setapak yang tak jarang penuh genangan. Langkah-langkah melukis jejak-jejak berbahasa “tujuan” berbait “kerja keras” dan berahir dengan kalimat hidup yaitu “harapan”. Pujangga, jurnalis,juga sastrawan berlomba mengabadikan setiap momen kehidupan dalam karyanya. Tapi tidak bagiku. Semua ini hanya terselip di hati membengkak dan enggan menjadi untaian prosa.
Hidup adalah sebenarnya suka dan duka bergantian. Silih berganti diantara dua pemahaman yang kurang jelas. Ambigu. Pengkaburan kesimpulan yang harus terus di telaah dengan syukur juga kelapangan dada,.tidak jarang juga de javu. Pengulangan tawa atau tangis yang sebenarnya diinginkan atau tidak tapi akan tetap terjadi dan terjadi lagi. Sulit untuk mengerti tentang apa yang benar dan apa yang benar-benar BENAR. Semua terangkum dalam lingkaran abu-abu sangat riskan untuk di terjemahkan hingga kemudian untuk di terapkan.
Semakin lama aku semakin asing dengan diriku sendiri. Seolah aku bukanlah aku yang dulu dan esok adalah aku yang semakin jauh dari sejatinya aku yang sebenarnya diriku. Perasaan lelah terus menyeret jiwa kedalam situasi gamang nan kosong. Kehampaan tak berujung memapah senja-senja jingga seolah tiada warna. Mega tidak lebih dari sekedar guratan nestapa corak motiv duka yang memerah padam karena luapan emosi. Malaikat pun juga peri-peri tertunduk lesu menatap samudera menelan sang surya. Hanya dewa kegelapan berteman dingin yang beku kini berkuasa melahap semesta dengan hitam yang kelam. Arah semakin hilang tak terlukis. Hanya rembulan melengkungkan sedih sebentuk sabit, secuil saja sinarnya lalu redup tertutup kabut. Aku semakin merasa aneh dengan diriku sendiri. Penat mencari jati diri yang hilang raib di telan nafas sang jaman. Telah banyak yang terlewat dari pelajaran sang waktu. Dan sedikit sesal menggeliat disela desah nan resah.
Wahai awan-awan perak berarak yang berlarian dibawah payung kelam sang angkasa. Dimana engkau sembunyikan bintang-bintang dan semua jawaban? Aku hampir lelah mendongak dan terus mencari. Hantarkan satu atau dua saja padaku. Biar aku selipkan digigi dan aku tak perlu malu untuk tersenyum Tidak usah engkau selimuti mereka teman-temanku yang senantiasa menuntun langkah-langkah melewati malam. Aku mohon! Tolonglah. Aku meminta demi hidupku yang semakin surut. Atau entah aku menangis karena hati yang mulai lupa dengan cara bersukyur? Oh tanda Tanya. Kenapa hanya enkau saja lahir di setiap bimbang persimpangan? Entah dari rahim siapa engkau seolah menetas terus tumbuh dan menelan optimisku perlahan-lahan hingga harapan seperti terbunuh. Aku terjebak dalam kekalutan yang jauh, terperosok, tergelincir lalu terjatuh. Jenuh, dalam basah peluh aku rubuh. Terkapar dan entah dimana aku terdampar.
Keputus asaan ini semakin manja menggelayuti jiwa-jiwa kalahku.situasi yang sebenarnya tidak boleh dibiarkan berlarut-larut tapi terus-menerus membuatku hanyut. Endapan frustasi menyingkirkan asa tanpa diminta. Aku semakin terombang ambing terseret arus deras rasa kalah nyaris tanpa denyut. Lembab merayap di trotar-toar sepi bertabur temaram buram sendu pijar mercury. Ada udara letih berhembus menampar kaki- kaki kecil yang menapaki bisunya kota. Aku semakin terperangkap dalam kesendirian yang pilu. Terjerat diantara kerumunan bisu tanpa tegur sapa bercengkrama. Ragaku transparan dan semua seolah bergerak cepat lalu lalang apatis acuhkan semua kegetiranku. Masa lalu terus mendera menjadi teman sejati kian setia mengikutiku yang semakin tak berdaya memikul kekalahan. Lembah duka meluas menjelma gurun gersang meretaskan dahaga nan gerah. Hati dengan hati-hati terus meraba mencoba mencari solusi. Dan lorong gelap masih panjang untuk ditapaki. Frustasi sedikit demi sedikit berinteraksi kemudian menginterograsi hingga lalu mengintimidasi. Aku semakin tak berdaya bertekuk lutut terjerat tanpa suara tanpa alibi. Situasi ini mengadili dan terus menghakimi. Pahit getir harus ditelan dan kenyataan tidak selalu sejalan degan apa yang kita inginkan. Semua akan berjalan dijalurnya tanpa peduli siapa kita. Karena manusia hakikatnya adalah murid sang waktu dan hamba sang norma. Jika kesalaham terbesar kita adalah karena mencampakkan diri sendiri kenapa justru aku terus melakukan tindakan bunuh diri?
Kepada daun-daun gugur aku berkeluh kesah dan pada dahan-dahan kering aku berbagi gelisah. Semoga embun-embun masih sempat basahi jiwaku yang kering. Dan bukanlah dosa jika manusia terus berharap dan meminta. Hanya Ia sang pengasih dan penyayang yang kemudian memutuskan. Jika ini episode kelam dalam perjalanan hidupku, tidak naifkah bila aku masih berharap tentang edisi pelangi seusai hujan? Bukankah habis gelap terbitlah terang? bukan kah badai pasti berlalu dan bukankah kekalahan adalah sukses yang tertunda? Semoga sisa nafasku ini masih cukup untuk menyambut hari yang di janjikan itu.
Ini adalah rentetan kejadian yang abadi dan tidak akan mudah dilupakan. Salah satu fase trindah dalam kehidupanku yang mulai payah. Ini tentang roman,tragedy dan juga elegi. Ini adalah ironi. Kisah bahagia yang berakhir duka. Ini tentang sebuah contoh bahwa hidup tidak selalu seperti yang kita inginkan. Bahwa apa yang telah kita perjuangkan dengan segenap jiwa dan raga namun tidak jua terwujud, itulah takdir.Bahwa apa yang sudah kita hindari sekuat tenaga dan tetap menimpa, itulah takdir. Ini tentang ketentuan yang harus kita jalani suka ataupun tidak. Ini tentang ujian sejauh mana kita mampu berlaku sebagai hamba. Ini adalah teropong untuk melihat setulus apa kita berlapang dada. Sepintar apa kita bersabar dan seikhlas apa kita menerima. Semua sudah ada ketetapamya. Ketentuan sang Empunya kehidupan itu akan datang tanpa harus di buru tergasa dan tidak perlu juga dicemaskan kehadirannya. Kita adalah bagiaan dari bagian yang lain.Seperti bila langit mendung berawan manusia selalu berpikir tentang turunnya hujan, dan bila mentari terik bersinar hampir pastilah gerah peluh mengeluh. Tapi hidup bukan selalu datar adanya. Mendung tak berarti hujan dan tidak selalu gerimis turun dari air mata sang awan . Ada banyak hal mustahil yang sulit diterima akal sehat namun tetap terjadi karena kuasa sang empunya kehidupan. Masih selalu banyak rahasia-rahasia misteri yang bukan tak mungkin akan menimpa pada diri kita. Sepatutnyalah kita terus berharap akan hidup yang lebih baik. Dan biarkan waktu menuntun kita hingga tiba pada apa yang kita harapkan. Dengan terus berupaya, dengan tak pernah lelah meminta. Seperti ombak tak pernah letih menerjang, seperti karang tak letih diterjang. Kehidupan selalu tentang keseimbangan, atas, bawah, kanan, kiri, tangis, tawa, hitam, putih, dan suka, duka, bergantian ,terus berulang. Kedewasaan menyikapi apa yang sedang kita hadapi akan dapat membantu membuat hidup kita selalu terasa lebih baik. Bersyukur intinya. Senantiasa menatap kebawah dan tetap melangkah kedepan. Tidak terlau memaksa namun bukan berarti hanya terdiam dengan apa yang sudah kita punya. Sadar dengan batasan diri dan tahu akan kemampuan yang kita miliki. Mengharhgai kehidupan menjaganya dan mencoba untuk menjadikanya lebih baik lagi. Perlahan atau secepat mungkin.kemudian serahkanlah kembali pada sang waktu yang akan mengantar jawaban dari sang Empunya keputusan.sejatinya manusia berada pada posisi yang sama. Berdiri pada kisaran tanggung jawab dan hak. Kewajiban mengerjakan tugas sebagai mahluk hidup dan memperjuangkan apa yang patut diterima. Kita memberi karena menerima dan menerima karena memberi. Kesetaraan yang seharusnya mutlak namun sering kita pungkiri.
Sengaja aku menutup pintu kamar mengurung diri dalam kesendirian yang sepi. Melakukan koreksi habis-habisan pada diri sendiri yang semakin resah kehilangan arah. Sangat menyedihkan terus berjalan di jalur yang salah sedangkan kita nyata menyadarinya. Dan lebih menyakitkan karena kita tidak punya pilihan lain. Kadang aku iri pada tumuhan-tumbuhan hijau yang dengan klorofilnya terus menerus berguna bagi kehidupan.Aku iri pada tabir surya yang selalu setia membantu proses fosintesis. Aku iri kepada semua yang berguna. Apa saja yang bermanfaat tanpa harus merugikan yang lain. Aku sangat ingin menjadi seperti itu semua. Menggerakkan roda-roda kehidupan tanpa harus peduli dengan sistem rantai makanan. Rasa frustasi ini menikamku semakin dalam. Membuat aku berfikir lemah dan menjadi orang kalah. Tapi bukankah hidup adalah perjuangan? Dan mulut bukan diciptakan hanya untuk berkeluh kesah. Waktu tidak berjalan seenaknya, tapi ialah shimphoni yang harmonis bergerak pasti tapa tergesa namun tidak pernah terlambat pula. Keputus asaan ini lambat laun menjadi reda namun bukan berarti selesai sudah semua gundah. Hanya nafas dalam-dalam kuhirup lalu kembali ku letakkan semua tanya pada malam yang mulai nyenyak oleh larut. Hingga tiba waktunya nanti semua pertanyaanku terjawab biarlah aku terus belajar dari apa yang terjadi dan akan aku hadapi. Bersama lelah juga mimpi-mimpi tidur aku nina bobokan kegelisan yang beku ini. Esok bersama fajar menyingsing dikaki langit sebelah timur aku sandarkan harap semoga semua ini mencair. Mengaliri sungai-sungai jiwa dengan riak-riak kecil dan menjadi rumah bagi ikan-ikan berenang. Sebuah esensi yang lahir dari pikiran letihku. Setidaknya ini lebih bisa melelapkan tidurku dan aku tak perlu selalu mengikuti alur pikiran orang lain, karena aku juga punya caraku sendiri untuk menjalani hidupku.Benih-benih yang kutanam nantinya akan jadi pohon serta aku tuai buahmya. Aku hanya bisa berpegang pada hati, mengikuti jejak naluri, membaca baik-baik situasi, dan terus bersandar pada kenyataan. Semoga Tuhan memaafkan semua kealpaan ini.
ditulis 28-03-2009.. suatu masa yang penuh dengan pergulatan emosi yang gaduh..
Entah sudah berapa lama aku tidak menulis lagi tentang semua ini? Hampir bosan aku bercumbu dengan kata-kata yang hanya slalu berkisah tentang luka hati dan perih. Bila saja tak mesti sakit yang harus tertuang? bila saja semua tentang tawa juga senyum bahagia penuh rona nan riang.
Banyak pergulatan emosi tersisa tiada kunjung berahir. Ingin segera terselasaikan tapi tidak ada jalan keluar.Semua menjadi beku seperti nanah yang semakin membusuk .pergolakan-pergolakan resah yang tidak kunjug berujung. Sungguh sangat memilukan. Berbahasa air mata bersuara isak merana.
Bumi seolah lautan darah yang merah.. Anak-anak adam lalu lalang hiruk pikuk tapi semua bisu tanpa suara.Aku semakin jauh terperosok dalam kesepian yang dalam. Sesak oleh kehampaan, beku oleh kekosongan. Hanya aku dan diriku, tiada lainnya. Selebihnya adalah tanda tanya tanpa jawaban. Terngiang samar suara tangis memekakkan telinga hati yang lelah oleh rasa kalah.
Dinding triplek kamar kostku tetap bisu tanpa komentar.Penghuni-penghuni yang lainpun sudah lelap oleh buayan mimpi-mimpi tidur. Aku masih berjelaga menghitung detak-detak detik yang terus menghitungku.Hanya suara radio sayup-sayup merayap bersama gamangnya udara. Sesungguhnya bersukurlah mereka yang hidup bersama mimpi-mimpi terwujud menjadi sebuah kenyataan . Dan berbahagialah mereka yang masih pumya mimpi. Karena mimpi adalah perjalanan bawah sadar yang sangat indah meski tidak harus terwujud seklipun. Oh Tuhanku yang maha memiliki dari semua hambanya dengan segala kekerdilan ini aku bersujud kepada Mu..
Gerimis gemericik rinainya perlahan membuat dataran dan seisi bumi menggigil. Aku semakin resah menghirup udara lembab sambil menyaksikan pagi yang enggan berbagi hangat. Daun beku di cengkram basah yang kuyup. Ada kebekuan suasana yang berat. Tanpa suara kata-kata mengalun seperti elegi menyambut sejuta malas anak-anak adam yang harus mulai terjaga oleh sepatah kata berbunyi “tanggung jawab”.
Jiwa-jiwa setengah hati perlahan meriuhkan dinginnya jalan-jalan setapak yang tak jarang penuh genangan. Langkah-langkah melukis jejak-jejak berbahasa “tujuan” berbait “kerja keras” dan berahir dengan kalimat hidup yaitu “harapan”. Pujangga, jurnalis,juga sastrawan berlomba mengabadikan setiap momen kehidupan dalam karyanya. Tapi tidak bagiku. Semua ini hanya terselip di hati membengkak dan enggan menjadi untaian prosa.
Hidup adalah sebenarnya suka dan duka bergantian. Silih berganti diantara dua pemahaman yang kurang jelas. Ambigu. Pengkaburan kesimpulan yang harus terus di telaah dengan syukur juga kelapangan dada,.tidak jarang juga de javu. Pengulangan tawa atau tangis yang sebenarnya diinginkan atau tidak tapi akan tetap terjadi dan terjadi lagi. Sulit untuk mengerti tentang apa yang benar dan apa yang benar-benar BENAR. Semua terangkum dalam lingkaran abu-abu sangat riskan untuk di terjemahkan hingga kemudian untuk di terapkan.
Semakin lama aku semakin asing dengan diriku sendiri. Seolah aku bukanlah aku yang dulu dan esok adalah aku yang semakin jauh dari sejatinya aku yang sebenarnya diriku. Perasaan lelah terus menyeret jiwa kedalam situasi gamang nan kosong. Kehampaan tak berujung memapah senja-senja jingga seolah tiada warna. Mega tidak lebih dari sekedar guratan nestapa corak motiv duka yang memerah padam karena luapan emosi. Malaikat pun juga peri-peri tertunduk lesu menatap samudera menelan sang surya. Hanya dewa kegelapan berteman dingin yang beku kini berkuasa melahap semesta dengan hitam yang kelam. Arah semakin hilang tak terlukis. Hanya rembulan melengkungkan sedih sebentuk sabit, secuil saja sinarnya lalu redup tertutup kabut. Aku semakin merasa aneh dengan diriku sendiri. Penat mencari jati diri yang hilang raib di telan nafas sang jaman. Telah banyak yang terlewat dari pelajaran sang waktu. Dan sedikit sesal menggeliat disela desah nan resah.
Wahai awan-awan perak berarak yang berlarian dibawah payung kelam sang angkasa. Dimana engkau sembunyikan bintang-bintang dan semua jawaban? Aku hampir lelah mendongak dan terus mencari. Hantarkan satu atau dua saja padaku. Biar aku selipkan digigi dan aku tak perlu malu untuk tersenyum Tidak usah engkau selimuti mereka teman-temanku yang senantiasa menuntun langkah-langkah melewati malam. Aku mohon! Tolonglah. Aku meminta demi hidupku yang semakin surut. Atau entah aku menangis karena hati yang mulai lupa dengan cara bersukyur? Oh tanda Tanya. Kenapa hanya enkau saja lahir di setiap bimbang persimpangan? Entah dari rahim siapa engkau seolah menetas terus tumbuh dan menelan optimisku perlahan-lahan hingga harapan seperti terbunuh. Aku terjebak dalam kekalutan yang jauh, terperosok, tergelincir lalu terjatuh. Jenuh, dalam basah peluh aku rubuh. Terkapar dan entah dimana aku terdampar.
Keputus asaan ini semakin manja menggelayuti jiwa-jiwa kalahku.situasi yang sebenarnya tidak boleh dibiarkan berlarut-larut tapi terus-menerus membuatku hanyut. Endapan frustasi menyingkirkan asa tanpa diminta. Aku semakin terombang ambing terseret arus deras rasa kalah nyaris tanpa denyut. Lembab merayap di trotar-toar sepi bertabur temaram buram sendu pijar mercury. Ada udara letih berhembus menampar kaki- kaki kecil yang menapaki bisunya kota. Aku semakin terperangkap dalam kesendirian yang pilu. Terjerat diantara kerumunan bisu tanpa tegur sapa bercengkrama. Ragaku transparan dan semua seolah bergerak cepat lalu lalang apatis acuhkan semua kegetiranku. Masa lalu terus mendera menjadi teman sejati kian setia mengikutiku yang semakin tak berdaya memikul kekalahan. Lembah duka meluas menjelma gurun gersang meretaskan dahaga nan gerah. Hati dengan hati-hati terus meraba mencoba mencari solusi. Dan lorong gelap masih panjang untuk ditapaki. Frustasi sedikit demi sedikit berinteraksi kemudian menginterograsi hingga lalu mengintimidasi. Aku semakin tak berdaya bertekuk lutut terjerat tanpa suara tanpa alibi. Situasi ini mengadili dan terus menghakimi. Pahit getir harus ditelan dan kenyataan tidak selalu sejalan degan apa yang kita inginkan. Semua akan berjalan dijalurnya tanpa peduli siapa kita. Karena manusia hakikatnya adalah murid sang waktu dan hamba sang norma. Jika kesalaham terbesar kita adalah karena mencampakkan diri sendiri kenapa justru aku terus melakukan tindakan bunuh diri?
Kepada daun-daun gugur aku berkeluh kesah dan pada dahan-dahan kering aku berbagi gelisah. Semoga embun-embun masih sempat basahi jiwaku yang kering. Dan bukanlah dosa jika manusia terus berharap dan meminta. Hanya Ia sang pengasih dan penyayang yang kemudian memutuskan. Jika ini episode kelam dalam perjalanan hidupku, tidak naifkah bila aku masih berharap tentang edisi pelangi seusai hujan? Bukankah habis gelap terbitlah terang? bukan kah badai pasti berlalu dan bukankah kekalahan adalah sukses yang tertunda? Semoga sisa nafasku ini masih cukup untuk menyambut hari yang di janjikan itu.
Ini adalah rentetan kejadian yang abadi dan tidak akan mudah dilupakan. Salah satu fase trindah dalam kehidupanku yang mulai payah. Ini tentang roman,tragedy dan juga elegi. Ini adalah ironi. Kisah bahagia yang berakhir duka. Ini tentang sebuah contoh bahwa hidup tidak selalu seperti yang kita inginkan. Bahwa apa yang telah kita perjuangkan dengan segenap jiwa dan raga namun tidak jua terwujud, itulah takdir.Bahwa apa yang sudah kita hindari sekuat tenaga dan tetap menimpa, itulah takdir. Ini tentang ketentuan yang harus kita jalani suka ataupun tidak. Ini tentang ujian sejauh mana kita mampu berlaku sebagai hamba. Ini adalah teropong untuk melihat setulus apa kita berlapang dada. Sepintar apa kita bersabar dan seikhlas apa kita menerima. Semua sudah ada ketetapamya. Ketentuan sang Empunya kehidupan itu akan datang tanpa harus di buru tergasa dan tidak perlu juga dicemaskan kehadirannya. Kita adalah bagiaan dari bagian yang lain.Seperti bila langit mendung berawan manusia selalu berpikir tentang turunnya hujan, dan bila mentari terik bersinar hampir pastilah gerah peluh mengeluh. Tapi hidup bukan selalu datar adanya. Mendung tak berarti hujan dan tidak selalu gerimis turun dari air mata sang awan . Ada banyak hal mustahil yang sulit diterima akal sehat namun tetap terjadi karena kuasa sang empunya kehidupan. Masih selalu banyak rahasia-rahasia misteri yang bukan tak mungkin akan menimpa pada diri kita. Sepatutnyalah kita terus berharap akan hidup yang lebih baik. Dan biarkan waktu menuntun kita hingga tiba pada apa yang kita harapkan. Dengan terus berupaya, dengan tak pernah lelah meminta. Seperti ombak tak pernah letih menerjang, seperti karang tak letih diterjang. Kehidupan selalu tentang keseimbangan, atas, bawah, kanan, kiri, tangis, tawa, hitam, putih, dan suka, duka, bergantian ,terus berulang. Kedewasaan menyikapi apa yang sedang kita hadapi akan dapat membantu membuat hidup kita selalu terasa lebih baik. Bersyukur intinya. Senantiasa menatap kebawah dan tetap melangkah kedepan. Tidak terlau memaksa namun bukan berarti hanya terdiam dengan apa yang sudah kita punya. Sadar dengan batasan diri dan tahu akan kemampuan yang kita miliki. Mengharhgai kehidupan menjaganya dan mencoba untuk menjadikanya lebih baik lagi. Perlahan atau secepat mungkin.kemudian serahkanlah kembali pada sang waktu yang akan mengantar jawaban dari sang Empunya keputusan.sejatinya manusia berada pada posisi yang sama. Berdiri pada kisaran tanggung jawab dan hak. Kewajiban mengerjakan tugas sebagai mahluk hidup dan memperjuangkan apa yang patut diterima. Kita memberi karena menerima dan menerima karena memberi. Kesetaraan yang seharusnya mutlak namun sering kita pungkiri.
Sengaja aku menutup pintu kamar mengurung diri dalam kesendirian yang sepi. Melakukan koreksi habis-habisan pada diri sendiri yang semakin resah kehilangan arah. Sangat menyedihkan terus berjalan di jalur yang salah sedangkan kita nyata menyadarinya. Dan lebih menyakitkan karena kita tidak punya pilihan lain. Kadang aku iri pada tumuhan-tumbuhan hijau yang dengan klorofilnya terus menerus berguna bagi kehidupan.Aku iri pada tabir surya yang selalu setia membantu proses fosintesis. Aku iri kepada semua yang berguna. Apa saja yang bermanfaat tanpa harus merugikan yang lain. Aku sangat ingin menjadi seperti itu semua. Menggerakkan roda-roda kehidupan tanpa harus peduli dengan sistem rantai makanan. Rasa frustasi ini menikamku semakin dalam. Membuat aku berfikir lemah dan menjadi orang kalah. Tapi bukankah hidup adalah perjuangan? Dan mulut bukan diciptakan hanya untuk berkeluh kesah. Waktu tidak berjalan seenaknya, tapi ialah shimphoni yang harmonis bergerak pasti tapa tergesa namun tidak pernah terlambat pula. Keputus asaan ini lambat laun menjadi reda namun bukan berarti selesai sudah semua gundah. Hanya nafas dalam-dalam kuhirup lalu kembali ku letakkan semua tanya pada malam yang mulai nyenyak oleh larut. Hingga tiba waktunya nanti semua pertanyaanku terjawab biarlah aku terus belajar dari apa yang terjadi dan akan aku hadapi. Bersama lelah juga mimpi-mimpi tidur aku nina bobokan kegelisan yang beku ini. Esok bersama fajar menyingsing dikaki langit sebelah timur aku sandarkan harap semoga semua ini mencair. Mengaliri sungai-sungai jiwa dengan riak-riak kecil dan menjadi rumah bagi ikan-ikan berenang. Sebuah esensi yang lahir dari pikiran letihku. Setidaknya ini lebih bisa melelapkan tidurku dan aku tak perlu selalu mengikuti alur pikiran orang lain, karena aku juga punya caraku sendiri untuk menjalani hidupku.Benih-benih yang kutanam nantinya akan jadi pohon serta aku tuai buahmya. Aku hanya bisa berpegang pada hati, mengikuti jejak naluri, membaca baik-baik situasi, dan terus bersandar pada kenyataan. Semoga Tuhan memaafkan semua kealpaan ini.
ditulis 28-03-2009.. suatu masa yang penuh dengan pergulatan emosi yang gaduh..
Rabu, 02 Juni 2010
PULANG
malam ini, ketika hampir semua barang yang ingin aku bawa besok sudah rapi dikemas kedalam tas ransel. langit merah padam karena mendung yang menutup rembulan diatas sana seperti iri karena bahagia yang bersinar pijar dihati. tanpa terasa kerinduan yang dalam terhadap rumah akan segera mencair. seolah telah tampak dipelupuk mata pohon mangga yang belum juga berbuah dihalaman rumah, senyum penuh kasih ibuku yang selalu hangat juga raut terkejut teman-teman kecilku setiap kali aku pulang dari perantauan. perasaan tak sabar untuk segera tiba diesok siang membuat mata ngantukku bertarung dengan gejolak rasa berdebar dihati, membuat tidur bagai sepatah kata yang sulit dieja.
satu tahun sudah sejak kepergianku yang terahir. rasanya begitu cepat waktu berlalau, dan entah kenapa justru enam jam kedepan ini terasa lebih lama dari semua malam yang telah khatam. ada perasaan tak sabar yang luar biasa untuk segera melintasi 10km sebelum rumah, sawah-sawah yang biasanya sudah mulai digarap untuk menyambut musim kemarau. tanah-tanah kering yang biasanya selalu menawarkan keuntungan lebih dari musim penghujan karena kesempatan bercocok tanam tembakau yang memiliki harga jual lebih mahal dari gabah. pemandangan klasik yang akan mengiringi setiap meter tertempuh dan akan selalu membuat hati terenyuh.
aku jadi hanyut kembali dengan kenangan-kenangan masa kecilku dulu. menangis karena kalah ketika bermain gundu. atau ketika tertawa setelah bermain bola diderasnya hujan. moment-moment sederhana tanpa ice cream dan tamia yang selalu membuat diri larut dalam kenaifan. aku berharap esok ketika dirumah, teman-teman kecilku juga sedang tidak kemana-mana. aku berharap bisa melewati malam sambil bercengkrama dengan mereka, seperti kemarin yang sudah-sudah.
sejak lulus sekolah, aku lebih banyak menghabiskan waktu dikampung orang. sebagai perantau, kesempatan pulang adalah anugerah tak terkira untuk dinikmati dan selalu menjadi salah satu hal yang paling dinanti. aku terlahir disebuah daerah yang belum begitu terestuh oleh timpangnya pembangunan, sehingga kesempatan adalah langka adanya. keluargaku tak memiliki ladang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang semakin melonjak, sehingga hijrah ketanah rantau menjadi sebuah adat yang lahir bukan dari istiadat, tapi menetas dari cangkang kebutuhan dan desakan situasi. lapangan kerja yang susah didapat membuat kota-kota semakin padat, dan desa-desa seperti kampung kami semakin lengang ditinggalkan pergi oleh penduduk pribumi yang harus hanyut oleh derasnya arus urbanisasi.
sebelum aku tunduk terhadap rasa kantuk, sebelum doa-doa larut mengantarkanku kegerbang nyanyak, sebelum mimpi-mimpi membuai malam indahku menjadi lebih indah. aku ingin berbagi kepada kalian yang sedang dijerat kerinduan dahsyat terhadap tanah kelahiran. aku ingin berbagi tentang perasaan tabah yang selalu mampu menaklukkan godaan. aku ingin meyakinkan bahwa suatu saat akan tiba giliran kalian. dan sebelum lelah benar-benar menengelamkan kantukku. aku ingin berbisik pada jiwa-jiwa risau itu, " hanya orang-orang yang melakukan perjalanan panjang seperti kitalah yang akan mengerti indahnya makna kata pulang". bertahan demi masa depan, bersabar demi hidup yang lebih besar, berbuat demi esok yang lebih kuat, dan tetep yakin kepada Nya yang akan memberi ijin.
selamat tidur saudara-saudaraku yang biasa dipanggil "pendatang", sandarkan penatmu dibunga tidur terindah, mimpikan mahkota dan singgasana yang mewah, saat inilah waktunya kalian lepas dari semua tekanan. dan percayalah. esok disebuah pagi yang akan tetap indah walu seperti apapun cuacanya, kau akan terjaga dan tergesa. seolah waktu akan berhenti disitu.seolah jalanan akan segera lenyap tak berbekas. dan kau akan berlari kencang lebih cepat dari waktu yang berjalan. saat-saat dimana kau akan mencerna dengan mata jiwamu sebaris kalimat sederhana yang selama ini dinanti. " hanya orang-orang yang melakukan perjalanan panjang seperti kitalah yang akan mengerti indahnya makna kata pulang". selamat tidur saudaraku. aku wakili kegundahanmu, aku mengerti risaumu. dan aku rasakan rindumu. sampai jumpa saudaraku.
satu tahun sudah sejak kepergianku yang terahir. rasanya begitu cepat waktu berlalau, dan entah kenapa justru enam jam kedepan ini terasa lebih lama dari semua malam yang telah khatam. ada perasaan tak sabar yang luar biasa untuk segera melintasi 10km sebelum rumah, sawah-sawah yang biasanya sudah mulai digarap untuk menyambut musim kemarau. tanah-tanah kering yang biasanya selalu menawarkan keuntungan lebih dari musim penghujan karena kesempatan bercocok tanam tembakau yang memiliki harga jual lebih mahal dari gabah. pemandangan klasik yang akan mengiringi setiap meter tertempuh dan akan selalu membuat hati terenyuh.
aku jadi hanyut kembali dengan kenangan-kenangan masa kecilku dulu. menangis karena kalah ketika bermain gundu. atau ketika tertawa setelah bermain bola diderasnya hujan. moment-moment sederhana tanpa ice cream dan tamia yang selalu membuat diri larut dalam kenaifan. aku berharap esok ketika dirumah, teman-teman kecilku juga sedang tidak kemana-mana. aku berharap bisa melewati malam sambil bercengkrama dengan mereka, seperti kemarin yang sudah-sudah.
sejak lulus sekolah, aku lebih banyak menghabiskan waktu dikampung orang. sebagai perantau, kesempatan pulang adalah anugerah tak terkira untuk dinikmati dan selalu menjadi salah satu hal yang paling dinanti. aku terlahir disebuah daerah yang belum begitu terestuh oleh timpangnya pembangunan, sehingga kesempatan adalah langka adanya. keluargaku tak memiliki ladang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang semakin melonjak, sehingga hijrah ketanah rantau menjadi sebuah adat yang lahir bukan dari istiadat, tapi menetas dari cangkang kebutuhan dan desakan situasi. lapangan kerja yang susah didapat membuat kota-kota semakin padat, dan desa-desa seperti kampung kami semakin lengang ditinggalkan pergi oleh penduduk pribumi yang harus hanyut oleh derasnya arus urbanisasi.
sebelum aku tunduk terhadap rasa kantuk, sebelum doa-doa larut mengantarkanku kegerbang nyanyak, sebelum mimpi-mimpi membuai malam indahku menjadi lebih indah. aku ingin berbagi kepada kalian yang sedang dijerat kerinduan dahsyat terhadap tanah kelahiran. aku ingin berbagi tentang perasaan tabah yang selalu mampu menaklukkan godaan. aku ingin meyakinkan bahwa suatu saat akan tiba giliran kalian. dan sebelum lelah benar-benar menengelamkan kantukku. aku ingin berbisik pada jiwa-jiwa risau itu, " hanya orang-orang yang melakukan perjalanan panjang seperti kitalah yang akan mengerti indahnya makna kata pulang". bertahan demi masa depan, bersabar demi hidup yang lebih besar, berbuat demi esok yang lebih kuat, dan tetep yakin kepada Nya yang akan memberi ijin.
selamat tidur saudara-saudaraku yang biasa dipanggil "pendatang", sandarkan penatmu dibunga tidur terindah, mimpikan mahkota dan singgasana yang mewah, saat inilah waktunya kalian lepas dari semua tekanan. dan percayalah. esok disebuah pagi yang akan tetap indah walu seperti apapun cuacanya, kau akan terjaga dan tergesa. seolah waktu akan berhenti disitu.seolah jalanan akan segera lenyap tak berbekas. dan kau akan berlari kencang lebih cepat dari waktu yang berjalan. saat-saat dimana kau akan mencerna dengan mata jiwamu sebaris kalimat sederhana yang selama ini dinanti. " hanya orang-orang yang melakukan perjalanan panjang seperti kitalah yang akan mengerti indahnya makna kata pulang". selamat tidur saudaraku. aku wakili kegundahanmu, aku mengerti risaumu. dan aku rasakan rindumu. sampai jumpa saudaraku.
Sabtu, 29 Mei 2010
SEPERTI KATA IBUKU
jarum jam sudah menunjuk pukul 9:30. matahari mulai meninngi dengan sinarnya yang terik. Aku masih enggan membuka mata ketika handphone berteriak memberi tahukan sebuah panggilan masuk. salah seorang temanku rupanya, dengan malas aku mengangkat dan memaksakan untuk berbicara. ia mau datang, tubuhku seperti remuk seolah tak mampu lagi untuk bangkit, tapi aku selalu teringat petuah ibu, "tamu adalah rejeki". dengan segala daya usaha aku bergegas untuk mandi dan membereska kamar kos yang seperti biasanya, berantakan.
tadi malam ada teman yang lain mengajak aku untuk menemaninya kedaerah jakarta barat. meminta untuk ditemani membeli jas untuk pesta perkawinan saudaranya bulan depan. kita pergi ke salah satu mall paling wah disekitaran sana. Mall Taman Anggrek tepatnya. Tapi bukan itu point utamanya. entah kenapa dari dulu aku hampir tak pernah terkesan dengan yang namanya pusat perbelanjaan. seolah yang terlihat oleh mata telanjangku adalah daftar harga berserakan dari ujung keujung. selain rayuan-rayuan licik bertema sale dan discount. sebubuah kompilasi jitu untuk membuat orang-orang seperti aku selalalu berjaga jarak dengan yang namnya departement store.
perjalanan pulangnya kita coba ambil arah tambora maksud hati sih ingin sekalian mampir ke kota tua. Maklum sudah beberapa bulan ini aku jarang main ke kawasan wisata yang murah meriah itu. Ada kerinduan tentang suasananya yang penuh nostalgia. Sepanjang perjalanan, kami disuguhkan pendangan yang tak terlalu asing bagi orang-orang yang tinggal di Jakarta. Kendaraan yang lalu lalang,polusi, pengemis diperempatan lampu merah dan segala macam pemandangan khas ibu kota tercinta lainnya. Tidak ketinggalan, jalur khusus busway tentunya. salah satu jenis transportasi yang masih ada di Jakarta saja. Yang membedakan mungkin jalur grogol -pluit yang entah masuk koridor berapa dan belum dipergunakan alias masih belum beroprasi. Padahal kalo aku tidak salah ingat proyek ini sudah satu tahun lebih rampungnya. Sekarang malah terkesan sia-sia, mubazir dan bahkan mungkin buang-buang uang. Selain karena sudah banyak yang rusak pembatas jalannya, halte-haltenya pun malah mulai lusuh tak terurus, sedikit merusak pemandangan jalanan jakarta yang memang sudah rusak.
Dengan ditemani bulan yang nyaris sempurna bulatnya kita terus menyusuri jalan Latumenten. Sebuah kebiasaan anehku yang selalu sering mendongak keatas langit ketika berboncengan. Seperti ritual wajib untuk membuat berkendara lebih tenang. Selainuntuk memastikan cuaca, aku pasti selalu merasa lega ketika melihat langit. Karena ternyata ditengah carut marutnya Jakarta yang makin penuh sesak masih ada ruang lapang nan luas. Ya. Itu adalah langit.yang hitam dikala malam dan mendung, biru ketika pagi menyapa dan jingga kala senja melambaikan tangan.Tidak terasa kita sudah sampai dijalan Muara Anke, itu berarti tak jauh lagi taman Fatahillah akan kami capai.
Setelah puas menikmati suasana feodal kololonial, kami yang duduk disebuah bola beton menghadap Museum keramik diseberang jalan, setelah teh botol hanya tersisa botol dan sedotannya saja. Kami beranjak untuk segera pulang, malam sudah semakin larut tanpa kita sadari dan tidak akan pernah kita sadari bila tidak membawa jam. Karena lalau-lalang kendaraan di jakarta yang selalu ramai sebelum benar-benar tengah malam tiba, akan membuat kita tetap selalu merasa bahwa hari masih sore. Mungkin ukuran larut disebuah kota berbeda-beda. Tapi buat aku yang tumbuh dan besar dikota kecil larut itu dimulai dari jam 22:00 dan ini sudah lewat beberapa menit.
Kami pun bergegas pulang melewati jalur Hayam wuruk yang nyaris tidak pernah sepi. Sebelum ahirnya sampai disekitaran Monas yang lumayan sejuk karena hutan lindungnya. Beberapa kali aku dan temanku berbincang tentang kesenjangan sosial yang masih sangat kontras di Jakarta sejak pertama kali berangkat dari rumah tadi. Temanku yang satu ini memang selalu kritis dengan lingkungan sekitar. Dan mungkin itulah satu-satunnya alasan mengapa kita bisa tetap dekat sampai sekarang. Meskipun sebenarnya kami sudah punya kesibukan sendiri-sendiri. Pasti saja ada topik untuk di bahas bila kita bertemu walau kadang tak jarang hanya sekedar ngelantur kesana kemari.
Sesampainya di kost an jam hampir menunjuk jam 23:00. Para penghuni yang lain sudah mulai lelap dan akupun mulai merasakan capek yang tersisa setalah perjalanan tadi. Parahnya lagi kebiasaan insomniaku kambuh dan matapun tidak mau terpejam hinga jam tiga dini hari. Itulah sebab musababnya kenapa pagi ini terasa sangat sangat berat.
Sehabis mandi dan menyalakan komputer, aku berjuang melawan letih dan sisa kantukku membereskan kamar yang berantakan. Setelah akhirnya rapi, secangkir kopi dan beberapa puntung kretek menemaniku menanti kedatangan temanku yang menelpon tadi. Sambil mendengarkan beberapa lagu dari album milik THE S.I.G.I.T. serta browsing dan update status pula tentunya akhirnya teman yang dinantipun datang. Dan seperti yang dikatakan ibuku, “tamu adalah rejeki”. Memang benar. Dipagi yang membutaku malas untuk kewarteg ini, diaKhir bulan yang selalu memaksa untuk lebih hemat. Temanku datang membawakan nasi bungkus dan rokok kesayangan. Bukan hal yang terlalu berharga mungkin, tapi sangat berarti bagiku. Jadilah pagi ini sebagai pembuka hari yang sempurna. Dan akan kita isi dengan hal-hal bergua tentunya. Semoga.Amin.
tadi malam ada teman yang lain mengajak aku untuk menemaninya kedaerah jakarta barat. meminta untuk ditemani membeli jas untuk pesta perkawinan saudaranya bulan depan. kita pergi ke salah satu mall paling wah disekitaran sana. Mall Taman Anggrek tepatnya. Tapi bukan itu point utamanya. entah kenapa dari dulu aku hampir tak pernah terkesan dengan yang namanya pusat perbelanjaan. seolah yang terlihat oleh mata telanjangku adalah daftar harga berserakan dari ujung keujung. selain rayuan-rayuan licik bertema sale dan discount. sebubuah kompilasi jitu untuk membuat orang-orang seperti aku selalalu berjaga jarak dengan yang namnya departement store.
perjalanan pulangnya kita coba ambil arah tambora maksud hati sih ingin sekalian mampir ke kota tua. Maklum sudah beberapa bulan ini aku jarang main ke kawasan wisata yang murah meriah itu. Ada kerinduan tentang suasananya yang penuh nostalgia. Sepanjang perjalanan, kami disuguhkan pendangan yang tak terlalu asing bagi orang-orang yang tinggal di Jakarta. Kendaraan yang lalu lalang,polusi, pengemis diperempatan lampu merah dan segala macam pemandangan khas ibu kota tercinta lainnya. Tidak ketinggalan, jalur khusus busway tentunya. salah satu jenis transportasi yang masih ada di Jakarta saja. Yang membedakan mungkin jalur grogol -pluit yang entah masuk koridor berapa dan belum dipergunakan alias masih belum beroprasi. Padahal kalo aku tidak salah ingat proyek ini sudah satu tahun lebih rampungnya. Sekarang malah terkesan sia-sia, mubazir dan bahkan mungkin buang-buang uang. Selain karena sudah banyak yang rusak pembatas jalannya, halte-haltenya pun malah mulai lusuh tak terurus, sedikit merusak pemandangan jalanan jakarta yang memang sudah rusak.
Dengan ditemani bulan yang nyaris sempurna bulatnya kita terus menyusuri jalan Latumenten. Sebuah kebiasaan anehku yang selalu sering mendongak keatas langit ketika berboncengan. Seperti ritual wajib untuk membuat berkendara lebih tenang. Selainuntuk memastikan cuaca, aku pasti selalu merasa lega ketika melihat langit. Karena ternyata ditengah carut marutnya Jakarta yang makin penuh sesak masih ada ruang lapang nan luas. Ya. Itu adalah langit.yang hitam dikala malam dan mendung, biru ketika pagi menyapa dan jingga kala senja melambaikan tangan.Tidak terasa kita sudah sampai dijalan Muara Anke, itu berarti tak jauh lagi taman Fatahillah akan kami capai.
Setelah puas menikmati suasana feodal kololonial, kami yang duduk disebuah bola beton menghadap Museum keramik diseberang jalan, setelah teh botol hanya tersisa botol dan sedotannya saja. Kami beranjak untuk segera pulang, malam sudah semakin larut tanpa kita sadari dan tidak akan pernah kita sadari bila tidak membawa jam. Karena lalau-lalang kendaraan di jakarta yang selalu ramai sebelum benar-benar tengah malam tiba, akan membuat kita tetap selalu merasa bahwa hari masih sore. Mungkin ukuran larut disebuah kota berbeda-beda. Tapi buat aku yang tumbuh dan besar dikota kecil larut itu dimulai dari jam 22:00 dan ini sudah lewat beberapa menit.
Kami pun bergegas pulang melewati jalur Hayam wuruk yang nyaris tidak pernah sepi. Sebelum ahirnya sampai disekitaran Monas yang lumayan sejuk karena hutan lindungnya. Beberapa kali aku dan temanku berbincang tentang kesenjangan sosial yang masih sangat kontras di Jakarta sejak pertama kali berangkat dari rumah tadi. Temanku yang satu ini memang selalu kritis dengan lingkungan sekitar. Dan mungkin itulah satu-satunnya alasan mengapa kita bisa tetap dekat sampai sekarang. Meskipun sebenarnya kami sudah punya kesibukan sendiri-sendiri. Pasti saja ada topik untuk di bahas bila kita bertemu walau kadang tak jarang hanya sekedar ngelantur kesana kemari.
Sesampainya di kost an jam hampir menunjuk jam 23:00. Para penghuni yang lain sudah mulai lelap dan akupun mulai merasakan capek yang tersisa setalah perjalanan tadi. Parahnya lagi kebiasaan insomniaku kambuh dan matapun tidak mau terpejam hinga jam tiga dini hari. Itulah sebab musababnya kenapa pagi ini terasa sangat sangat berat.
Sehabis mandi dan menyalakan komputer, aku berjuang melawan letih dan sisa kantukku membereskan kamar yang berantakan. Setelah akhirnya rapi, secangkir kopi dan beberapa puntung kretek menemaniku menanti kedatangan temanku yang menelpon tadi. Sambil mendengarkan beberapa lagu dari album milik THE S.I.G.I.T. serta browsing dan update status pula tentunya akhirnya teman yang dinantipun datang. Dan seperti yang dikatakan ibuku, “tamu adalah rejeki”. Memang benar. Dipagi yang membutaku malas untuk kewarteg ini, diaKhir bulan yang selalu memaksa untuk lebih hemat. Temanku datang membawakan nasi bungkus dan rokok kesayangan. Bukan hal yang terlalu berharga mungkin, tapi sangat berarti bagiku. Jadilah pagi ini sebagai pembuka hari yang sempurna. Dan akan kita isi dengan hal-hal bergua tentunya. Semoga.Amin.
Kamis, 27 Mei 2010
JEJAK SUNYI
Tak seperti biasanya, stasiun gondangdia malam ini lebih sepi. Hanya ada beberapa calon penumpang saja menunggu kedatangan kereta. Sebagian diantaranya adalah anak muda yang mungkin baru selesai nonton bioskop atau mungkin sekedar jalan-jalan ke mall diseputaran jakarta pusat, mereka tampak asik mendengar lagu dari handphone mereka dengan wajah berseri khas wajah-wajah malam minggu. Gondangdia tampak lebih tenang, damai tepatnya.tampak dikejauhan dengan mata telanjangku gedung-gedung diseputaran sarinah yang masih tetap angkuh,seolah menjabarkan penjelasan bahwa merekalah yang mencakar langit diatas jalan M.H. tamrin yang masih dan akan semakin mewah.Sementara itu, jalanan hanya menyisakan lembab juga tak jarang beberapa genangan becek disepanjang Cut Meutia tadi.sebuah suasana yang nyaris tak pernah berubah sejak pertama kali dulu aku melintasinya. Seperti transisi antara jakarta masa lalu dan saat ini. Sungguh romantis rasanya. Aku masih setia dengan headset yang menempel ditelinga meneriakkan lagu-lagu dari Superman Is Dead. Musik punk melodik yang mereka usung setidaknya sedikit membamtu untuk tetap berpikir kritis dan optimis ditengah suasana hati yang sedang dibekap sejuta rasa pesimis. Meski tak banyak membantu tapi setidaknya sedikit memotifasi hati yang sedang resah untuk tetap tegar.
Kereta ekonomi ac jurusan jakarta bogor yang aku tunggu mulai tampak diujung stasiun. Lantai dan rel yang menggigil dibuatnya bergetar. Tak seperti dugaanku, ternyata tak ada kursi yang masih tersisa. Seperti biasa, Jakarta - Lenteng Agungpun harus ditempuh dengan berdiri. Kaca kereta yang transparan kini menjadi reyban. Suasana didalam kereta yang lebih terang membuat keadaan diluar tak terlihat. Hanya bayanganku yang sepertinya menatapi tubuh nyataku. Kami seperti bertatap muka satu sama lain. Kusam, dekil berminyak, bahkan mungkin sedikit bau. Tapi yang lebih berantakan adalah isi hati yang hampir setiap saat berkecamuk. Aku jadi malu melihat bayangan diriku dicermin kehidupan yang semakin memprihatinkan.
Entah kenapa masalah datang silih berganti. Seolah hidup hanya ujian tak berujung dan harus dijalani dengan penuh kesabaran yang total. Sekali waktu, putus asa bukan hanya sekedar tamu bagi rumah jiwaku, ia seolah bagian dari diriku yang sangat sulit untuk diuraikan, mengendap, kemudian mengikat keras optimis yang tersisa hingga nyaris tak berkutik. Adakalanya akupun berlari menjadi orang lain yang aku sendiri dibuat tak mengenalinya. Memaksakan diri menjadi hedonis, merendahkan diri menjelma autis. Dan suatu ketika akupun nyaris menghujat Tuhan. Tapi Tuhan rupanya memang penyayang para hambanya. Hingga hal itu tidak sampai aku lakukan. Aku menilai dengan penilaian sinis. Menganggap hidup tak lebih dari sekedar sarkasme berkesinambungan. Walau sebenarnya hal itu hanya menambah berat beban yang menjerat.
Tak tersa stasiun demi stasiun telah terlewati. Tanjung barat tepat satu stasiun sebelum aku turun menyadarkan semua pikiran negatifku. Aku bersiap mengambil posisi didekat pintu agar bisa turun dengan segera. Stasiun lenteng Agung pun menyambut dengan dimensi yang tak jauh beda dengan Gondangdia tadi. Sunyi. nyaris tanpa calon penumpang, hanya penumpang yang baru turun berhamburan tergesa menuju pintu keluar. Seolah diluar stasiun adalah hari esok untuk mereka. Aku tetap lamban melangkah berpikir waktu akan berhenti disitu dan tak perlu ada esok yang masih tak pasti. Tepat diluar stasiun ditengah tawaran jasa para tukang ojek aku tersadar sesadar-sadarnya. Ini malam minggu. Malam yang sebenarnya sudah tidak berpengaruh untukku. Bukan lagi malam dimana besok adalah hari libur untuk mereganggkan otot, dan juga bukan pula malam yang harus dinikmati setiap menitnya dengan suka cita atau bahkan hura-hura. Seperti hari-hari yang lain bagiku, malam minggu ini akan menjadi malam kelabu tak ubahnya malam-malam lain akhir-akhir ini. Jalanan dipenuhi pasanagan muda-mudi berkendara motor hiruk pikuk dengan rona wajah yang sangat bombastis. Aku jadi sedikit iri pada mereka. Tapi sudahlah. Semua ada waktunya, untuk sekarang mungkin belum saatnya. Bahkan kini membawa diri sendiri saja belum tentu sanggup. Apa lagi harus membahagiakan orang lain. Aku tak yakin akan bisa dengan hal itu.
Srengseng sawah tempatku tiggal sementara ini selalu sepi dan kelam. Seperti ini bukan dari bagian dari Jakarta yang metropolitan. Suasana yang mengingatkan diriku pada kabupaten-kabupaten yang sedang berkembang didaerah jawa timur. Malm perlahan mulai meninggi. Memang belumlah larut benar keadaannya. Aku lebih suka memplesetkan semua suasana ini dengan kata ghotik dari pada sunyi. Lebih sedikit membantuku mendapatkan alasan untuk tetap betah berlama-lama disini. Setidaknya hingga nanti pilihan yang lebih baik datang menawarkan solusi. Meski sebenarnya sisi lain di bagian hatiku selalu tak sabar untuk segera hijrah. Tempat ini hanya mengingatkanku tentang rumah. Kampung halaman yang untuk sekarang adalah tempat yang haram untuk sepatah kata “pulang”..
Dingin yang ditiupkan oleh angin semakin menyadarkan tentang posisi dan porsi diriku kini. Terpuruk dan tak memiliki apapun.hanya ruangan kosong yang akan menyambut kedatanganku.tak ada teh hangat tersedia dimeja, pun juga suara untuk berbagi keluh kesah di jiwa. Meski sebenarnya aku yakin seyakin yakinnya Selalu ada harapan buat mereka yang tidak pernah menyerah. Aku jadi teringat dengan teman, keluarga, dan semua orng yang masih dan pernah memperdulikanku selama ini. Malam ini ketika anak kunci membuka pintu kontrakan. Dalam hati aku berujar. Mereka memang tak seruang lagi denganku. Aku harus menghadapi semua ini dengan keberanian. Tapi aku tersenyum ketika komputer mulai kunyalakan. Tersenyum karena telah menjadi orang yang beruntung. Dan meski sendiri lagi harus kulalui malam ini' aku bangga pernah dan mungkin akan masih memiliki mereka. Karena mereka selalu menyediakan cinta yang aku butuhkan. Terimakasih Tuhan. Sejenak setelah seteguk air putih dan beberapa puntung rokok, aku ceritakan semuanya kepada malam. Ditemani denting detak jam berdecak. Disunyi senyapnya sinar bulan yang menyebarkan kesepian. Titik air mulai tumpah berserakan dari atap malam yang pekat. Menabuh gemericik, meriuh rendahkan rinainya yang semakin deras. Aku berharap untuk segera mengantuk. Tapi sepertinya malam akan semkin panjang membentang. Seolah esok enngan menjelang. Dan kesabaran akan tetap menjadi tugas wajib untuk terus diterapkan.
ditulis pada pertengahan februari hingga awal maret 2010. sebuah diskusi hati yang selalu mampu mengingatkan aku tentang perjalanan antara Jakarta dan lenteng agung yang melankolis beberapa waktu yang lalu...
Kereta ekonomi ac jurusan jakarta bogor yang aku tunggu mulai tampak diujung stasiun. Lantai dan rel yang menggigil dibuatnya bergetar. Tak seperti dugaanku, ternyata tak ada kursi yang masih tersisa. Seperti biasa, Jakarta - Lenteng Agungpun harus ditempuh dengan berdiri. Kaca kereta yang transparan kini menjadi reyban. Suasana didalam kereta yang lebih terang membuat keadaan diluar tak terlihat. Hanya bayanganku yang sepertinya menatapi tubuh nyataku. Kami seperti bertatap muka satu sama lain. Kusam, dekil berminyak, bahkan mungkin sedikit bau. Tapi yang lebih berantakan adalah isi hati yang hampir setiap saat berkecamuk. Aku jadi malu melihat bayangan diriku dicermin kehidupan yang semakin memprihatinkan.
Entah kenapa masalah datang silih berganti. Seolah hidup hanya ujian tak berujung dan harus dijalani dengan penuh kesabaran yang total. Sekali waktu, putus asa bukan hanya sekedar tamu bagi rumah jiwaku, ia seolah bagian dari diriku yang sangat sulit untuk diuraikan, mengendap, kemudian mengikat keras optimis yang tersisa hingga nyaris tak berkutik. Adakalanya akupun berlari menjadi orang lain yang aku sendiri dibuat tak mengenalinya. Memaksakan diri menjadi hedonis, merendahkan diri menjelma autis. Dan suatu ketika akupun nyaris menghujat Tuhan. Tapi Tuhan rupanya memang penyayang para hambanya. Hingga hal itu tidak sampai aku lakukan. Aku menilai dengan penilaian sinis. Menganggap hidup tak lebih dari sekedar sarkasme berkesinambungan. Walau sebenarnya hal itu hanya menambah berat beban yang menjerat.
Tak tersa stasiun demi stasiun telah terlewati. Tanjung barat tepat satu stasiun sebelum aku turun menyadarkan semua pikiran negatifku. Aku bersiap mengambil posisi didekat pintu agar bisa turun dengan segera. Stasiun lenteng Agung pun menyambut dengan dimensi yang tak jauh beda dengan Gondangdia tadi. Sunyi. nyaris tanpa calon penumpang, hanya penumpang yang baru turun berhamburan tergesa menuju pintu keluar. Seolah diluar stasiun adalah hari esok untuk mereka. Aku tetap lamban melangkah berpikir waktu akan berhenti disitu dan tak perlu ada esok yang masih tak pasti. Tepat diluar stasiun ditengah tawaran jasa para tukang ojek aku tersadar sesadar-sadarnya. Ini malam minggu. Malam yang sebenarnya sudah tidak berpengaruh untukku. Bukan lagi malam dimana besok adalah hari libur untuk mereganggkan otot, dan juga bukan pula malam yang harus dinikmati setiap menitnya dengan suka cita atau bahkan hura-hura. Seperti hari-hari yang lain bagiku, malam minggu ini akan menjadi malam kelabu tak ubahnya malam-malam lain akhir-akhir ini. Jalanan dipenuhi pasanagan muda-mudi berkendara motor hiruk pikuk dengan rona wajah yang sangat bombastis. Aku jadi sedikit iri pada mereka. Tapi sudahlah. Semua ada waktunya, untuk sekarang mungkin belum saatnya. Bahkan kini membawa diri sendiri saja belum tentu sanggup. Apa lagi harus membahagiakan orang lain. Aku tak yakin akan bisa dengan hal itu.
Srengseng sawah tempatku tiggal sementara ini selalu sepi dan kelam. Seperti ini bukan dari bagian dari Jakarta yang metropolitan. Suasana yang mengingatkan diriku pada kabupaten-kabupaten yang sedang berkembang didaerah jawa timur. Malm perlahan mulai meninggi. Memang belumlah larut benar keadaannya. Aku lebih suka memplesetkan semua suasana ini dengan kata ghotik dari pada sunyi. Lebih sedikit membantuku mendapatkan alasan untuk tetap betah berlama-lama disini. Setidaknya hingga nanti pilihan yang lebih baik datang menawarkan solusi. Meski sebenarnya sisi lain di bagian hatiku selalu tak sabar untuk segera hijrah. Tempat ini hanya mengingatkanku tentang rumah. Kampung halaman yang untuk sekarang adalah tempat yang haram untuk sepatah kata “pulang”..
Dingin yang ditiupkan oleh angin semakin menyadarkan tentang posisi dan porsi diriku kini. Terpuruk dan tak memiliki apapun.hanya ruangan kosong yang akan menyambut kedatanganku.tak ada teh hangat tersedia dimeja, pun juga suara untuk berbagi keluh kesah di jiwa. Meski sebenarnya aku yakin seyakin yakinnya Selalu ada harapan buat mereka yang tidak pernah menyerah. Aku jadi teringat dengan teman, keluarga, dan semua orng yang masih dan pernah memperdulikanku selama ini. Malam ini ketika anak kunci membuka pintu kontrakan. Dalam hati aku berujar. Mereka memang tak seruang lagi denganku. Aku harus menghadapi semua ini dengan keberanian. Tapi aku tersenyum ketika komputer mulai kunyalakan. Tersenyum karena telah menjadi orang yang beruntung. Dan meski sendiri lagi harus kulalui malam ini' aku bangga pernah dan mungkin akan masih memiliki mereka. Karena mereka selalu menyediakan cinta yang aku butuhkan. Terimakasih Tuhan. Sejenak setelah seteguk air putih dan beberapa puntung rokok, aku ceritakan semuanya kepada malam. Ditemani denting detak jam berdecak. Disunyi senyapnya sinar bulan yang menyebarkan kesepian. Titik air mulai tumpah berserakan dari atap malam yang pekat. Menabuh gemericik, meriuh rendahkan rinainya yang semakin deras. Aku berharap untuk segera mengantuk. Tapi sepertinya malam akan semkin panjang membentang. Seolah esok enngan menjelang. Dan kesabaran akan tetap menjadi tugas wajib untuk terus diterapkan.
ditulis pada pertengahan februari hingga awal maret 2010. sebuah diskusi hati yang selalu mampu mengingatkan aku tentang perjalanan antara Jakarta dan lenteng agung yang melankolis beberapa waktu yang lalu...
langkah kecil
ini adalah sebuah langah kecil dari seseorang yang bukan siapa-siapa dan belum menjadi apa-apa. sebuah harapan sederhana tentang mimpi, yang semakin lama semakin menjadi sekedar ilusi. ini bukan ratap pesimis dari hati yang tersedu menangis. hanya sebuah keinginan tulus untuk mengarahkan kegelisahan kearah yang lebih positif. dan semoga bermanfaat bagi siapapun yang membaca dan pernah sama-sama merasakannya. karena menurut saya pribadi dan entah bisa diterima atau tidak terkadang ada kalanya waktu terlalu sempit untuk hal-hal yang besar, sehingga kita butuh sarana lain untuk mengkonfersinya.
ini adalah suara jujur yang berbisik dari dalam hati. suara lirih tentang kerinduan mendalam, kesepian menghujam, tawa yang tak teredam, suka cita yang terekam, atau apapun itu yang sedang terjadi. lewat niat tulus sedehana ini kita coba berbagi. berusaha memberi warna lain diantara warna-warna yang sudah tergurat seindah pelangi.
sebuah harapan sederhana untuk sekedar bisa diterima dan dicerna. sehingga langkah kecil ini menjadi jejak yang terus maju menapaki luasnya cakrawala kehidupan yang semakin cepat jauh berlari.
ini adalah suara jujur yang berbisik dari dalam hati. suara lirih tentang kerinduan mendalam, kesepian menghujam, tawa yang tak teredam, suka cita yang terekam, atau apapun itu yang sedang terjadi. lewat niat tulus sedehana ini kita coba berbagi. berusaha memberi warna lain diantara warna-warna yang sudah tergurat seindah pelangi.
sebuah harapan sederhana untuk sekedar bisa diterima dan dicerna. sehingga langkah kecil ini menjadi jejak yang terus maju menapaki luasnya cakrawala kehidupan yang semakin cepat jauh berlari.
Langganan:
Komentar (Atom)
