Tak seperti biasanya, stasiun gondangdia malam ini lebih sepi. Hanya ada beberapa calon penumpang saja menunggu kedatangan kereta. Sebagian diantaranya adalah anak muda yang mungkin baru selesai nonton bioskop atau mungkin sekedar jalan-jalan ke mall diseputaran jakarta pusat, mereka tampak asik mendengar lagu dari handphone mereka dengan wajah berseri khas wajah-wajah malam minggu. Gondangdia tampak lebih tenang, damai tepatnya.tampak dikejauhan dengan mata telanjangku gedung-gedung diseputaran sarinah yang masih tetap angkuh,seolah menjabarkan penjelasan bahwa merekalah yang mencakar langit diatas jalan M.H. tamrin yang masih dan akan semakin mewah.Sementara itu, jalanan hanya menyisakan lembab juga tak jarang beberapa genangan becek disepanjang Cut Meutia tadi.sebuah suasana yang nyaris tak pernah berubah sejak pertama kali dulu aku melintasinya. Seperti transisi antara jakarta masa lalu dan saat ini. Sungguh romantis rasanya. Aku masih setia dengan headset yang menempel ditelinga meneriakkan lagu-lagu dari Superman Is Dead. Musik punk melodik yang mereka usung setidaknya sedikit membamtu untuk tetap berpikir kritis dan optimis ditengah suasana hati yang sedang dibekap sejuta rasa pesimis. Meski tak banyak membantu tapi setidaknya sedikit memotifasi hati yang sedang resah untuk tetap tegar.
Kereta ekonomi ac jurusan jakarta bogor yang aku tunggu mulai tampak diujung stasiun. Lantai dan rel yang menggigil dibuatnya bergetar. Tak seperti dugaanku, ternyata tak ada kursi yang masih tersisa. Seperti biasa, Jakarta - Lenteng Agungpun harus ditempuh dengan berdiri. Kaca kereta yang transparan kini menjadi reyban. Suasana didalam kereta yang lebih terang membuat keadaan diluar tak terlihat. Hanya bayanganku yang sepertinya menatapi tubuh nyataku. Kami seperti bertatap muka satu sama lain. Kusam, dekil berminyak, bahkan mungkin sedikit bau. Tapi yang lebih berantakan adalah isi hati yang hampir setiap saat berkecamuk. Aku jadi malu melihat bayangan diriku dicermin kehidupan yang semakin memprihatinkan.
Entah kenapa masalah datang silih berganti. Seolah hidup hanya ujian tak berujung dan harus dijalani dengan penuh kesabaran yang total. Sekali waktu, putus asa bukan hanya sekedar tamu bagi rumah jiwaku, ia seolah bagian dari diriku yang sangat sulit untuk diuraikan, mengendap, kemudian mengikat keras optimis yang tersisa hingga nyaris tak berkutik. Adakalanya akupun berlari menjadi orang lain yang aku sendiri dibuat tak mengenalinya. Memaksakan diri menjadi hedonis, merendahkan diri menjelma autis. Dan suatu ketika akupun nyaris menghujat Tuhan. Tapi Tuhan rupanya memang penyayang para hambanya. Hingga hal itu tidak sampai aku lakukan. Aku menilai dengan penilaian sinis. Menganggap hidup tak lebih dari sekedar sarkasme berkesinambungan. Walau sebenarnya hal itu hanya menambah berat beban yang menjerat.
Tak tersa stasiun demi stasiun telah terlewati. Tanjung barat tepat satu stasiun sebelum aku turun menyadarkan semua pikiran negatifku. Aku bersiap mengambil posisi didekat pintu agar bisa turun dengan segera. Stasiun lenteng Agung pun menyambut dengan dimensi yang tak jauh beda dengan Gondangdia tadi. Sunyi. nyaris tanpa calon penumpang, hanya penumpang yang baru turun berhamburan tergesa menuju pintu keluar. Seolah diluar stasiun adalah hari esok untuk mereka. Aku tetap lamban melangkah berpikir waktu akan berhenti disitu dan tak perlu ada esok yang masih tak pasti. Tepat diluar stasiun ditengah tawaran jasa para tukang ojek aku tersadar sesadar-sadarnya. Ini malam minggu. Malam yang sebenarnya sudah tidak berpengaruh untukku. Bukan lagi malam dimana besok adalah hari libur untuk mereganggkan otot, dan juga bukan pula malam yang harus dinikmati setiap menitnya dengan suka cita atau bahkan hura-hura. Seperti hari-hari yang lain bagiku, malam minggu ini akan menjadi malam kelabu tak ubahnya malam-malam lain akhir-akhir ini. Jalanan dipenuhi pasanagan muda-mudi berkendara motor hiruk pikuk dengan rona wajah yang sangat bombastis. Aku jadi sedikit iri pada mereka. Tapi sudahlah. Semua ada waktunya, untuk sekarang mungkin belum saatnya. Bahkan kini membawa diri sendiri saja belum tentu sanggup. Apa lagi harus membahagiakan orang lain. Aku tak yakin akan bisa dengan hal itu.
Srengseng sawah tempatku tiggal sementara ini selalu sepi dan kelam. Seperti ini bukan dari bagian dari Jakarta yang metropolitan. Suasana yang mengingatkan diriku pada kabupaten-kabupaten yang sedang berkembang didaerah jawa timur. Malm perlahan mulai meninggi. Memang belumlah larut benar keadaannya. Aku lebih suka memplesetkan semua suasana ini dengan kata ghotik dari pada sunyi. Lebih sedikit membantuku mendapatkan alasan untuk tetap betah berlama-lama disini. Setidaknya hingga nanti pilihan yang lebih baik datang menawarkan solusi. Meski sebenarnya sisi lain di bagian hatiku selalu tak sabar untuk segera hijrah. Tempat ini hanya mengingatkanku tentang rumah. Kampung halaman yang untuk sekarang adalah tempat yang haram untuk sepatah kata “pulang”..
Dingin yang ditiupkan oleh angin semakin menyadarkan tentang posisi dan porsi diriku kini. Terpuruk dan tak memiliki apapun.hanya ruangan kosong yang akan menyambut kedatanganku.tak ada teh hangat tersedia dimeja, pun juga suara untuk berbagi keluh kesah di jiwa. Meski sebenarnya aku yakin seyakin yakinnya Selalu ada harapan buat mereka yang tidak pernah menyerah. Aku jadi teringat dengan teman, keluarga, dan semua orng yang masih dan pernah memperdulikanku selama ini. Malam ini ketika anak kunci membuka pintu kontrakan. Dalam hati aku berujar. Mereka memang tak seruang lagi denganku. Aku harus menghadapi semua ini dengan keberanian. Tapi aku tersenyum ketika komputer mulai kunyalakan. Tersenyum karena telah menjadi orang yang beruntung. Dan meski sendiri lagi harus kulalui malam ini' aku bangga pernah dan mungkin akan masih memiliki mereka. Karena mereka selalu menyediakan cinta yang aku butuhkan. Terimakasih Tuhan. Sejenak setelah seteguk air putih dan beberapa puntung rokok, aku ceritakan semuanya kepada malam. Ditemani denting detak jam berdecak. Disunyi senyapnya sinar bulan yang menyebarkan kesepian. Titik air mulai tumpah berserakan dari atap malam yang pekat. Menabuh gemericik, meriuh rendahkan rinainya yang semakin deras. Aku berharap untuk segera mengantuk. Tapi sepertinya malam akan semkin panjang membentang. Seolah esok enngan menjelang. Dan kesabaran akan tetap menjadi tugas wajib untuk terus diterapkan.
ditulis pada pertengahan februari hingga awal maret 2010. sebuah diskusi hati yang selalu mampu mengingatkan aku tentang perjalanan antara Jakarta dan lenteng agung yang melankolis beberapa waktu yang lalu...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar