jarum jam sudah menunjuk pukul 9:30. matahari mulai meninngi dengan sinarnya yang terik. Aku masih enggan membuka mata ketika handphone berteriak memberi tahukan sebuah panggilan masuk. salah seorang temanku rupanya, dengan malas aku mengangkat dan memaksakan untuk berbicara. ia mau datang, tubuhku seperti remuk seolah tak mampu lagi untuk bangkit, tapi aku selalu teringat petuah ibu, "tamu adalah rejeki". dengan segala daya usaha aku bergegas untuk mandi dan membereska kamar kos yang seperti biasanya, berantakan.
tadi malam ada teman yang lain mengajak aku untuk menemaninya kedaerah jakarta barat. meminta untuk ditemani membeli jas untuk pesta perkawinan saudaranya bulan depan. kita pergi ke salah satu mall paling wah disekitaran sana. Mall Taman Anggrek tepatnya. Tapi bukan itu point utamanya. entah kenapa dari dulu aku hampir tak pernah terkesan dengan yang namanya pusat perbelanjaan. seolah yang terlihat oleh mata telanjangku adalah daftar harga berserakan dari ujung keujung. selain rayuan-rayuan licik bertema sale dan discount. sebubuah kompilasi jitu untuk membuat orang-orang seperti aku selalalu berjaga jarak dengan yang namnya departement store.
perjalanan pulangnya kita coba ambil arah tambora maksud hati sih ingin sekalian mampir ke kota tua. Maklum sudah beberapa bulan ini aku jarang main ke kawasan wisata yang murah meriah itu. Ada kerinduan tentang suasananya yang penuh nostalgia. Sepanjang perjalanan, kami disuguhkan pendangan yang tak terlalu asing bagi orang-orang yang tinggal di Jakarta. Kendaraan yang lalu lalang,polusi, pengemis diperempatan lampu merah dan segala macam pemandangan khas ibu kota tercinta lainnya. Tidak ketinggalan, jalur khusus busway tentunya. salah satu jenis transportasi yang masih ada di Jakarta saja. Yang membedakan mungkin jalur grogol -pluit yang entah masuk koridor berapa dan belum dipergunakan alias masih belum beroprasi. Padahal kalo aku tidak salah ingat proyek ini sudah satu tahun lebih rampungnya. Sekarang malah terkesan sia-sia, mubazir dan bahkan mungkin buang-buang uang. Selain karena sudah banyak yang rusak pembatas jalannya, halte-haltenya pun malah mulai lusuh tak terurus, sedikit merusak pemandangan jalanan jakarta yang memang sudah rusak.
Dengan ditemani bulan yang nyaris sempurna bulatnya kita terus menyusuri jalan Latumenten. Sebuah kebiasaan anehku yang selalu sering mendongak keatas langit ketika berboncengan. Seperti ritual wajib untuk membuat berkendara lebih tenang. Selainuntuk memastikan cuaca, aku pasti selalu merasa lega ketika melihat langit. Karena ternyata ditengah carut marutnya Jakarta yang makin penuh sesak masih ada ruang lapang nan luas. Ya. Itu adalah langit.yang hitam dikala malam dan mendung, biru ketika pagi menyapa dan jingga kala senja melambaikan tangan.Tidak terasa kita sudah sampai dijalan Muara Anke, itu berarti tak jauh lagi taman Fatahillah akan kami capai.
Setelah puas menikmati suasana feodal kololonial, kami yang duduk disebuah bola beton menghadap Museum keramik diseberang jalan, setelah teh botol hanya tersisa botol dan sedotannya saja. Kami beranjak untuk segera pulang, malam sudah semakin larut tanpa kita sadari dan tidak akan pernah kita sadari bila tidak membawa jam. Karena lalau-lalang kendaraan di jakarta yang selalu ramai sebelum benar-benar tengah malam tiba, akan membuat kita tetap selalu merasa bahwa hari masih sore. Mungkin ukuran larut disebuah kota berbeda-beda. Tapi buat aku yang tumbuh dan besar dikota kecil larut itu dimulai dari jam 22:00 dan ini sudah lewat beberapa menit.
Kami pun bergegas pulang melewati jalur Hayam wuruk yang nyaris tidak pernah sepi. Sebelum ahirnya sampai disekitaran Monas yang lumayan sejuk karena hutan lindungnya. Beberapa kali aku dan temanku berbincang tentang kesenjangan sosial yang masih sangat kontras di Jakarta sejak pertama kali berangkat dari rumah tadi. Temanku yang satu ini memang selalu kritis dengan lingkungan sekitar. Dan mungkin itulah satu-satunnya alasan mengapa kita bisa tetap dekat sampai sekarang. Meskipun sebenarnya kami sudah punya kesibukan sendiri-sendiri. Pasti saja ada topik untuk di bahas bila kita bertemu walau kadang tak jarang hanya sekedar ngelantur kesana kemari.
Sesampainya di kost an jam hampir menunjuk jam 23:00. Para penghuni yang lain sudah mulai lelap dan akupun mulai merasakan capek yang tersisa setalah perjalanan tadi. Parahnya lagi kebiasaan insomniaku kambuh dan matapun tidak mau terpejam hinga jam tiga dini hari. Itulah sebab musababnya kenapa pagi ini terasa sangat sangat berat.
Sehabis mandi dan menyalakan komputer, aku berjuang melawan letih dan sisa kantukku membereskan kamar yang berantakan. Setelah akhirnya rapi, secangkir kopi dan beberapa puntung kretek menemaniku menanti kedatangan temanku yang menelpon tadi. Sambil mendengarkan beberapa lagu dari album milik THE S.I.G.I.T. serta browsing dan update status pula tentunya akhirnya teman yang dinantipun datang. Dan seperti yang dikatakan ibuku, “tamu adalah rejeki”. Memang benar. Dipagi yang membutaku malas untuk kewarteg ini, diaKhir bulan yang selalu memaksa untuk lebih hemat. Temanku datang membawakan nasi bungkus dan rokok kesayangan. Bukan hal yang terlalu berharga mungkin, tapi sangat berarti bagiku. Jadilah pagi ini sebagai pembuka hari yang sempurna. Dan akan kita isi dengan hal-hal bergua tentunya. Semoga.Amin.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar