Cari Blog Ini

Laman

Kamis, 18 November 2010

AKANKAH?

Siang menjelang, teriknya menyusup dari jendela yang terbuka. Gerah semakin menjadi. Aku baru saja terjaga ditengah hari yang hampa. Beberapa pesan singkat yang masuk kubaca kemudian kubalas sesuai topik. Segelas teh disusul beberapa puntung rokok terasa cukup untuk sekedar kusebut sarapan. Beberapa kertas laporan yang harus segera di fax, beberapa email yang musti direply. Dan beberepa lembar kenangan yang bermula dari mimpi. Oh. Semakin takut aku tentang tidur yang nyenyak. Entah sampai kapan mimpi itu akan berakhir. Lelah sudah aku bercumbu dengannya.

Keyboard komputer kembali berdecit karena ulah jari – jariku yang tergesa. Layarnya masih saja menyala sedari kemarin sebelum aku terseret lelap karena keletihan yang menghujam. Sebuah tarikan nafas yang dalam dan tersadar aku tentang janji yang terlupakan. “ ya Tuhan, semakin sulit rasanya hidup ini untuk sekedar dijalani”. Dua pesan singkat diponsel flip CDMA ku terlewat. Aku baru tersadar sekaligus kehilangan kata – kata untuk sekedar beralasan. “maaf” hanya sepatah kata itu yang bisa kukirim sebagi balasan. Sebuah SMS konfirmasi dan satu lagi setengah mencacai karena lagi – lagi aku lupa tentang janji.

Manusia memang tidak diciptakan untuk menjadi sempurna, wajar bila kesabarannya menyentuh batas terluar dan kemudian amarah yang mengambil alih semua kedamaian yang tersisa. Mungkin emosinya meledak ketika puluhan menit berlalu menunggu kedatanganku yang tak kunjung tiba. Mungkin semur daging yang sudah ia siapkan susah payah untuk disantap bersamaku dipagi yang cerah terlanjur mengendal seperti semangkok ice cream didalam kulkas. Dan aku memilih untuk tetap diam hingga emosinya mereda. Hingga aku lelah menerka – nerka tentang saat itu kan tiba.

Aku menemukannya sedang tersenyum ditengah himpitan masalah. Diantara celah waktu yang kelam. Aku membaca dari rautnya yang kusut kala itu. Tapi ia tetap mencoba tersenyum. Senyum sederhana yang mampu meyakinkanku untuk setidaknya perlahan beranjak dari lembah penyesalan dan masa lalu. Setelah beberapa upaya yang sedikit memaksa, juga basa – basi yang benar – benar basi. Sebuah contact baru bertuliskan namanya dan beberapa makan malam juga cuci mata disebuah pusat perbelanjaan disekitaran Jakarta pusat. Akhirnya aku benar – benar selangkah lebih jauh dari masa lalu yang biru.

Hari – hari kemudian berlalu seolah lebih ringan, gemintang menjadi lebih terang menyambut malam yang datang. Pelukan hangat, juga bahasa santun tentang hidup dan masa depanpun kini menjadi lebih bertujuan. Langkah sederhana untuk awal yang lebih berwarna. Sebuah kesederhanaan yang nyaris membuat iri segala macam kemewaham disana. “ akhirnya aku bisa kembali merasakan nikmatnya tertawa”. Terima kasih Tuhan.

Tapi hidup selalu saja membuat kata “mudah” menjadi sulit untuk terucap. Ada saja hal yang mampu membuat kening mengkerut. Dan pagi ini kita buka lembar baru dalam perjalan kisah kita dengan amarah yang merah. Seolah angka lima dibuku raport ketika kenaikan kelas dulu. Menyisakan tanda tanya tentang esok yang semakin abstrak. Ini bukan yang pertama. Bukan juga akan menjadi yang terakhir. Seperti yang sudah – sudah, konflik akan selalu menetaskan gundah. Ah. Ada baiknya bara menghindar dari bara. Karena jika keduanya disatukan, yang ada hanyalah nyala membakar hingga tiada bersisa.

Aku mencoba menyibukkan diri, mengalihkan perhatian. Berharap engkau hadir diusai adzan magrib dengan nafas terengal dan muka cemberut dengan beberapa desah juga kata – kata penuh amarah. Aku bembayangkan itu semua, akupun akan tetap diam hingga kemudian pelan – pelan menjelaskan apa yang terjadi lalu meminta maaf dengan kata – kata yang agak berlebihan dan sedikit gombal. Mengelus lembut rambut panjangmu yang hitam dan lurus, kemudian membenamkan marahmu dalm pelukan yang mesra.

Mangrib menelan matahari sehasta demi sehasta. Menenggelamkanya diujung senja yang menghitam, derap langkah terburumu – burumu belum juga terdengar menggaduhkan lantai kost – an ku. Sepertinya kamu tidak akan datang sore ini. Dan malam sudah siap menyambutku dengan pertanyaan juga kebimbangan yang panjang. Selamat malam cinta. Engkau yang tertidur pulas berselimut emosi. Mimpikan yang indah dalam tidurmu. Disini aku berjelaga memunguti mimpi – mimpi itu. Sambil berharap engkau terjaga disejuknya pagi yang tak pernah ingkar. Dengan sedikit maaf saja aku harap engkau untuk datang melabrak kehidupanku yang penuh alpa. Meneriaki aku dengan caci maki atau apapun yang mampu meredakan emosimu itu. datanglah! Karena seperti yang telah sama – sama kita ketahui aku akan terus diam tanpa tindakan. Tapi engkau, Jangan diam! Karena diam itu yang membunuh hubungan kita. Dan maaf. Aku tetap tidak bisa untuk bergerak. Karena aku adalah diam.



Ketika kemarin dirasa lebih berharga dari sekarang, pantaskah esok tetap menjadi milikku??? sebuah kesadaran naif "betapa engkau masih yang terindah".
maaf kan aku cinta! terlalu singkat untuk dapat menggeser keindahan "nya"!!!
dan bila mampu bertahan!! kau akan jadi yang terindah pula.... karena adakalanya manusia terjebak dalam perbandingan - perbadingan yang tolol.

jakarta, 18,nov,2010.. hentikan kebodohanku neng!!! please!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar