Jika senja indah adalah menatap alam terbuka dengan secangkir cokelat hangat sambil mendengarkan lagu jaz yang pelan. Tidak bagimu yang kini sedang menunggu malam datang ditengah musim kemarau yang semakin parau. Ada kerinduan dihatimu tentang seorang panglima besar revolusi yang berapi-api diatas mimbar kala ber-orasi. Luka bekas peluru dipunggung sebelah kirimu sudah nyaris tak berbekas lagi. Bersama semua kenangan heroik itu seutas senyum mengembang tiba-tiba. Sungguh bersahaja. Sekawanan merpati terbang menuju mega-mega, tatap mu berbinar sarat akan cahaya. Hampir tak percaya engkau menatap situasi ibu pertiwi saat ini, dan kau masih mengeluh dikursi rotanmu yang mulai lusuh. “65 tahun sudah kita merdeka” bisikmu lirih dan entah untuk siapa?. Kau masih sendiri ketika mentari tersisa separtuh ditelan bukit diujung barat sana. Angin semakin dingin mengusik tubuhmu. Engkau rapikan syal yang teruntai dileher keriputmu. Meski begitu Kau tetap gagah pahlawanku.
Jiwa pemberanimu masih terpancar dari serak suaramu yang bergetar. Ada api yang belum juga padam dan masih berkobar-kobar. Sertifikat kepahlawananmu tergantung rapi didinding kamar, namun engkau sudah semakin enggan untuk melihatnya. Bukan itu yang engkau cari dahulu. Kegelisahan mu masih bergolak sama persis ketika sebelum 1945 dulu. Bertubi-tubi jiwa patriotmu meronta. Dan engkau hanya bisa berkaca-kaca. Timbul tenggelam bagaimana pekikmu dulu, besenjata sederhana dan tanpa alas kaki tak gentar menhardik tentara nipon dan juka kompeni belanda. Sebuah kerelaan yang teramat sangat untuk negeri tercinta yang sudah tak sabar ingin merdeka. Kini terwujudkan sudah cita-cita mulia itu. Dan engkau masih terlihat gusar. Sebuah kecintaan terhadap nusa yang patut untuk diteladani. Terima kasih pahlawan.
Ditengah malam engkau terjaga, membungkuk diatas sajadah mendoakan si Amir adikmu, dan juga teman-teman yang dulu tak sempat menikmati kemerdekaan karena harus terkena timah panas saat serangan berlangsung. Ada tetes-tetes air mata meluncur dikedua pipimu yang semakin kisut, sebening embun diujung daun, jernih dan sarat ketulusan. Untaian doa-doa meluncur dari dasar hatimu, merasa bersalah pada mereka yang tak sempat engkau tanyakan namanya hingga kemudian nisan tanpa nama saja yang menyambut akhir pangabdian suci mereka. Ada rasa menyesal dalam hatimu, seolah ingin menghujat waktu yang sudah mengambil sebagian ingatanmu sehingga terasa amat sulit bagimu untuk sekedar mengingat beberapa orang yang menemanimu berjuang dalam perang kala itu. Engkau masih khusuk dalam sujudmu. Dan kadang sesekali disuatu malam seperti yang sudah-sudah, engkau tertidur hingga pagi menjelang. Tubuhmu semakin renta pahlawanku.
Agustus datang mebawa kabar bahagia bagimu, sepanjang tahun rasanya engkau tak jemu menanti kehadirannya. Kini tibalah waktu yang telah kau nantikan hampir disetiap detikmu. 30 hari yang sarat dengan nuansa merah putih, suasana dimana taman-taman makam para sahabatmu dibersihkan dan dikunjungi denga upacara-upacara kebangsaan yang layak. Sehingga pusara-pusara lusuh itu kemudian bertabur bunga yang penuh warna. Dan tidak harus menunggu rontoknya bunga kamboja. Kemudia engkau kembali terisak tangis dan tersedu. Dideretan tamu kehormatan engkau berdiri gagah perwira. Menynyikan dengan lantang lagu Indonesia Raya sambil menatap khusuk sang saka. Sekujur bulu romanmu berdiri, segudang kenangan indahmu menari. Ingin rasanya engkau melakukan upacara seperti ini setiap hari disisa hidupmu kini. Memberikan persembahan suci kepada teman-temanmu yang telah tiada. Sehingga kata “terima kasih pahlawan” tidak hanya dikumandankan setahun dua kali saja. Tetap tegar pahlawanku.
Seusai upacara, engkau melangkah gontai menuju pulang, berat rasanya kedua kakimu untuk terus berjalan. Belum cukup rasanya seremoni yang hanya beberapa jam ini. Sesaat engkau kembali menoleh, lalu kesepian yang panjang sudah menanti didepan sana, dan arak-arakan kenang-kenangan kabahagian agustus 1945 akan semakin tajam menusukmu di 13 hari yang tersisa. 10 november masih beberapa bulan lagi, akan terasa lama bagimu untuk menantikan saat itu. Sambil mencoba tetap tegar perlahan-lahan kau rapikan raut wajah yang sedikit berantakan karena pertempuran emosi tadi. Putra dan cucumu menunggu dipintu rumah, secangkir cokelat panas telah tersaji dimeja samping kursi rotan yang mulai lusuh. Engkau merapikan dudukmu setelah beberapa teguk cacau panas melumerkan peredaran darahmu. Matamu menatap kosong senja yang menguning jingga dicakrawala. Tampak seekor garuda terluka bersimbah darah. Terbang tertatih dengan sayap yang berantakan, hampir jatuh diterpa angin. Dan satu luka lagi siap mengisi hari-harimu. Jangan menangis pahlawanku!.
26,agustuS,2010.
Untuk para PAHLAWAN yang telah berjuang demi INDONESIA tercinta....
Persembahan tulus dari generasi tak becus.........
BAGIMU NEGRI........
JIWA RAGA .............
KAMI.................
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar