Cari Blog Ini

Laman

Jumat, 03 September 2010

HINGGA UJUNG NAFAS

Sore semakin letih menggantung diujung barat cakrawala yang mulai gelap. Kidung puji-pujian yang biasanya teracuhkan oleh sibuknya jakarta kali ini sedikit lebih jelas terdengar. Ramadhan dengan segala kemuliaan dan keajaibannya hampir selalu mampu menghusyukkan jiwa-jiwa yang biasanya terserak bertebaran dijalanan, untuk larut dalam kebersamaan yang hangat. Tapi tidak bagi mu. Engkau yang masih berkucur keringat digerbang senja yang tampak biasa. Bersama gerobak dan isinya yang sudah lebih dari separuh. Engkau melafalkan hamdalah dan kemudian beberapa teguk teh manis yang hampir basi kau tenggak dari botol bekas air mineral. Teh manis yang kau rebus tadi pagi sebelum pergi mengelilingi jakarta. Keringat kau seka dengan handuk kecil yang sudah seharian kau gunakan. Langkahmu belum berhenti, kembali roda – roda itu menggelinding mencari mesjid atau musholla terdekat. Dan hidupmu harus terus berjalan.
Tahun ini ada ruang kosong nan hampa di hatimu, mak Inah istrimu biasa dipanggil tak lagi menemani perjalanan hidupmu yang semakin renta. Belum genap 100 hari semenjak kepergiannya menghadap sang maha kuasa. Karena sakit yang sampai kini tidak diketahui karena ketidak mampuanmu untuk memeriksakannya kedokter. Engkau seorang pendatang di Jakarta, berpuluh-puluh tahun tanpa kartu tanda penduduk resmi, itulah juga yang membuat engkau kesulitan untuk mengurus surat keterangan keluarga tidak mampu. Engkau hanya menggerutu kala itu “ jadi orang miskin aja kok ya masih butuh surat ijin”. Sendiri sudah sisa hidup harus engkau jalani. Membuat engkau memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrakan tempat tinggalmu. Menjadi tuna wisma berkelana dari ujung kota ke ujung yang lainnya, bersama tekad, kenangan, dan gerobak kesayangan. Dan setiap malam-malam yang dingin kini kau lewati dengan tidur disudut-sudut kota atau bawah-bawah jebatan layang. Engkau semakin larut dalam pengembaraan.
Dibawah pohon mangga tepat dipojok kanan sebelah pagar kau bungkus gerobakmu dengan terpal berwarna biru. Cukup rapi dan tidak menggangu pemandangan. Setelah sholat magrib kau tunaikan, untaian doa-doa suci tulus kau haturkan untuk almarhumah istri tercinta dan anak cucu, serta almarhum kedua orang tuamu. Masih lekat rasanya pedih kala terkenang sat-saat terahir kalinya kau antar jasad mak Inah keliang lahat. Dan dengan air mata kau antar ia kesurga. Engkau masih larut dalam doa-doamu ketika orang-orang berdatangan memenuhi mesjid untuk menyongsong isyak dan tarawih yang sudah mulai sepi disepuluh malam terahir menjelang idul fitri. Mungkin mereka sudah mulai lelah dengan ramadhan, atau mungkin mulai sibuk menyerbu pusat perbelanjaan yang dihias dengan beduk dan ketupat bertuliskan sale dan discount. Engkau tak bergeming dengan pikiran khusukmu untuk lebih dekat kepada Tuhan. Engkau tidak peduli, hanya sekali kau menoleh kebelakang dan mengelus dada sambil mengucap istigfar. Engkau pun kembali hanyut dalam ibadah sunnah yang pahalanya sama dengan ibadah wajib dalam hari-hari biasa.
Jam menunjuk angka 22:15. Ketika tadarus selesai dan hampir sebagian besar jamaah meninggalkan rumah Tuhan itu untuk kembali berkumpul bersama keluarga mereka dirumah. Hanya tersisa engkau, pengurus mejid, dan beberapa lelaki separuh baya juga beberapa orang tua seumuran denganmu yang masih khusuk dan semakin khusuk dalam iktikaf. Sesekali air mata matamu menetes disela dzikirmu yang lirih. Ada banyak kenangan dan permohonan yang tulus yang masih sampai saat ini selalu saja mampu menggetarkan palung hatimu. Sebuah permintaan dan harapan yang tetap kau bungkus dengan keyakinan penuh dah tak pernah tersentuh oleh kata menyerah. Sebuah keteguhan hati yang kokoh dan selayaknya dicontoh. Manusia serba kekurangan yang selalu tahu tentang bagaimana caranya bersyukur. Manusia serba terbatas namun sangat jarang mengeluh. Engkaulah tubuh renta yang perkasa dan tak gentar memahat perjalanan sang jaman yang keras menjadi lebih bercorak.
Suara pengeras suara mengagetkan husyukmu, para pengurus mesjid mulai aktif membangunkan warga sekitar untuk segera bergegas makan sahur. Engkau beranjak untuk segera mencari warteg terdekat, setelah melipat kain sarungmu, membukus dengan plastik dan menggantugkannya pada paku bagian depan gerobamu. Kini kau telah kembali siap mengitari belahan kota lainnya bersama malam yang dingin dan kehampaan yang kau idap. Setelah bebrapa saat kau berjalan dan sebungkus nasi dengan lauk tahu, tempe siap disantap. Seperti malam-malam sebelumnya yang sepi. Kini kau menuju kebawah jembatan layang terdekat berharap ada salah satu temanmu yang juga makan sahur disitu dan kau setidaknya tidak perlu menyantap makan sahurmu dengan perasaan hambar. Dari seberang jalan tampak Giman teman seprofesimu sedang asik menghisap rokok bercengkrama dengan beberapa temanmu yang lain. Tergesa engkau untuk segera bergabung, hingga tanpa kau sadari sebuah sedan berwarna hitam meluncur kencang tepat dihadapanmu. Gerobakmu terserak setelah terpental cukup jauh, botol plastik dan semua isinya berhamburan. Engkau terkapar tak berdaya tak bernfas lagi. Teman-temanmu yang dibawah layang berlarian mencoba melakukan pertolongan semampunya. Tapi kau tetap hening tak bergeming. Tunai sudah kewajibanmu didunia ini, pak tua.
Beberapa hari sebelum kecelakan yang berujung maut ini, engkau sempat mengutarakan keraguan antara mudik menimang cucumu dikampung halaman, atau bersiarah kemakam istrimu dipojok sebelah timur Jakarta. Tapi hidup selalu menyimpan misteri yang tidak selalu harus terjawab. Giman yang tidak terlalu pintar tentang ilmu agama hanya mampu berujar “kini kau bisa mudik berdua bersama mak Inah pak tua!?”. Tak ada karangan bunga ucapan bela sungkawa,hanya setumpuk tanah basah bernisan sepenggal papan seadanya, dan doa tulus dari teman-temanmu tentunya. Kau pun terbaring dibawah gundukan tanah tepat disamping istrimu yang telah terlebih dulu pergi.
Ketika malam hampir usai, Dibawah layang dipusatnya jakarta yang sepi, Giman menatap kosong kearah istri dan anaknya yang pulas berselimut debu jalanan. Dalam hatinya ia berbisik “aku merindukanmu pak tua, istirahatlah yang tenang?!. “Mimpi para tuna wisma sepeti kita untuk punya rumah sepertinya akan hanya menjadi sekedar mimpi belaka”, gerutu giman pada didrinya sendiri. “Mereka orang-pintar itu butuh tempat yang lebih besar dan mahal. Kita harus kembali mengalah, dan gorong-gorong juga bawah layang semakin padat juga sesak”. Seolah tak perduli dengan penghuni bawah layang yang lain giman masih menggerutu dan mengerutu. Hingga ia teringat kata-kata pak tua teman dekat yang sudah dianggapnya seperti orang tua sendiri, “jangan menyerah Man, Gusti Allah pasti mengabulkan doa-doa kita”. Giman pun terdiam lalu tersenyum dan menitikkan air mata sambil kembali mendengarkan takbir yang sudah semalaman berkumandang tanpa lelah dimasjid- masjid juga musholla. Idul fitri yang dinanti sudah tiba. Dan giman hanya tersenyum kecil. Entah senyum duka atau bahagia. Entahlah.


30-08-2010 sampai 03-09-2010.. untuk saudara-saudaraku yang mesra memeluk jalanan ibu kota, juga untuk kalian yang sedang membangun hotel bintang lima di senayan sana.. bijaklah!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar