Cari Blog Ini

Laman

Kamis, 19 Agustus 2010

NOSTALGIA ABU-ABU

Ketika jakarta berselimut mendung tebal bergumpal-gumpal disuatu senja nan limbung. Aku teringat dengan kalian yang penah berlari dilapangan dekat rumah bermandi gemericik rinai air mata langit. Dibawah kilatan petir dan deru gemuruhnya yang marah, kita tak gentar dan terus berlari. Masa yang sangat indah pada suatu sore hari yang sebenarnya lebih pekat dari sekarang ini. Kita nyaris tak bisa berhenti menahan tawa sambil tertawa melihat pohon dan daun-daunnya yang menggigil. Seolah tanah yang kita pijak bergetar karena deru langkah kita yang riang. Kala itu ketika usia masih belasan dan terburu-buru untuk menjadi dewasa seperti sekarang, ketika tindakan-tindakan konyol jadi lebih berarti karena merasa hal itulah yang terhebat.
Langit semakin pekat hitam tergurat, bersama malam yang perlahan menyongsong ujung-ujung lorong. Aku tak tahu lagi dimana kalian berada kini. Sosok yang menggaduhkan kelas ketika pelajaran sedang berjalan. Manusia- manusia yang ingin cepat tua dan rela berbagi sebatang rokok untuk dihisap bersama demi mengurai sepatah kata sakral bebunyi “solidaritas”. Aku juga tak tahu apakah kalian sudah mencapai apa yang sedari dulu dicita-citakan. Sejujurnya, aku juga hampir lupa bagai mana paras kalian yang bersama-sama dijemur seperti pakain basah ketika ketahuan oleh salah satu guru sedang asik tidur didapur kantin ketika jam pelajaran berlangsung. Sungguh kekonyolan yang kita lakukan bersama itulah yang membuat aku benar-benar tersiksa oleh rindu yang semakin menusuk ini. Rindu membiru yang berbalut tanda Tanya keingin tahuan tentang kalian yang dulu pernah mesra menemaniku melewati jalan setapak sang jaman yang indah.
Malam baru saja menggelar tirai hitamnya diujung bimasakti nan lapang. Sebentuk sabit bulan menggantung dibalik awan, penuh suka cita ia mengabarkan tentang datangnya ramadhan yang mulia. Aku semakin kerdil diantara semua kebodohan dan kealpaan yang terus menjadi. Dan aku semakin rindu dengan kalian sahabat kecilku. Sehabis tarawih yang tak pernah husuk karena canda kita yang nakal, kita selalu berhasil menggaduhkan malam dengan petasan dan gelak tawa yang tanpa beban. Seolah kita sedang berada dipuncak kehidupan tertinggi. Selalu ada kebahagiaan tersedia untuk merasa tak sabar menjelang waktu sahur tiba. Kita benar-benar berhasil melukis warna malam seolah penuh degan corak yang lebih kaya .
Waktu terus berjalan, mengantarkan kita menuju apa yang selama ini kita kejar dengan gusar “menjadi dewasa”. Seolah dengan menjadi lebih tua hidup akan lebih bahagia. Ya, mungkin saja. Semoga. Seolah semua pertanyaan yang dulu menghantui kita akan terjawab seketika. Nyatanya hidup tidak sesederhana pertambahan usia yang selalu saja terjadi hingga akhirnya nyaris tidak kita sadari. Bahwasanya umur kemudian menjadi tolak ukur yang kejam. Yang terus tumbuh membesar membuat waktu seperti semakin menyempit. Bila dulu kita yang disiram dengan kasih,sayang,cinta,perhatian,ilmu dan segala macam kebaikan. Kini kitalah petani yang tak boleh letih oleh panas dan tak boleh lelah oleh hujan. Dan sembari masih dan harus tetap terus belajar. Aku harap kalian lebih siap dariku kini teman.
Sekian lama sudah aku ingin berbagi kisah dan bertukar pikiran dengan kalian. Berbagi segelas kopi dipagi hari yang dingin menggigil. Bertutur tentang segala macam keluh kesah dengan bahasa yang mesra. Sambil menunggu waktu imsak tiba, kemudian kita sholat subuh disurau kecil sebelah sungai dekat rumahmu. Sungguh pemandangan yang kian terlukis indah dikalbuku. Ketika musholla dan mesjid berteriak-teriak membangunkan jiwa-jiwa yang lelap untuk segera sahur, ketika ruang sekitar otakku yang semakin sempit mulai penuh sesak oleh asap rokok, ketika kata-kata menjadi semakin sulit untuk dirangkai, ketika itulah gambar-gambar tentang kita bermunculan menyajikan kerinduan yang teramat sangat. Memunculkan kenaifan yang bergulir dahsyat.
Teman, siang itu kala mentari terik dipertengahan ramadhan yang semakin sulit. Entah perselisihan apa yang kita persoalkan hingga nyaris membuat batal puasa yang sedang kita jalani. Masih terlihat jelas dibenakku raut mukamu yang mengkerut menatap rupaku yang juga kusut. Sungguh menjadi sesuatu yang semakin lucu untuk di ingat kini. Kita saling terdiam hingga hampir waktu buka puasa tiba, setelah sebelumnya berbicara dengan nada tinggi penuh emosi. Tapi malam, selalu saja datang membawa solusi, seolah bintang-bintang adalah jaminan untuk kita kembali bersama tersenyum dan tertawa riang. Seolah kita adalah mutlak sebagai pemenang. Bersama angin kita terbang tinggi dan semakin menjadi.
Mungkin kita terlalu polos saat itu, hingga tak sempat merencanakan sebuah pertemuan kecil saja untuk mengisi saat-saat seperti sekarang. Atau mungkinkah kembali kita menyalahkan lagi sang waktu yang serarsa semakin kencang berlari, sehingga nyaris tidak ada celah untuk sekedar membuat peluang dan sekedar bersua ulang. Sama seperti kala itu, ketika kau harus pindah dan kita terpisah. Sama ketika itu aku harus pergi dan kita terberai. Kita larut dalam episode baru kehidupan kita masing-masing. Dan tentang kita pun sejenak terlupakan. Tertupup lembar-lembar baru yang menyibukkan hari-hari dibabak selanjutnya perjalanan hidup kita.
Malam ini sebelum puasa kembali dimulai, sebelum tiba menyingsing sang fajar. Aku yang mulai mengantuk berbisik pelan didalam hati, “ semoga masih ada waktu untuk kita bertemu lagi”. Aku ucapkan lirih seraya doa-doa suci. Dan bila menjadi kenyataan, aku ingin memeluk kalian walau seaat saja. Biar dunia tahu bahwa kita masih tetap sedekat saudara, seerat teman dan tetap utuh sebagai sahabat. Aku akan selalu menantikan masa itu datang, berdiri tersenyum diantara mimpi dan harapan. Dan aku masih akan selalu yakin bahwa kita solid teranyam rapi dalam bingkai berbunyi SAHABAT.
Semoga Tuhan masih memberikan kita kesempatan untuk sekedar bertemu bertegur sapa. Untuk sekedar berjumpa dan bernostalgia.Dan bahkan jauh hari sebelum idfulfitri tiba membawa kemenangan dan sukacita, aku sangat yakin bahwa kita sudah saling memaafkan. Masih teruntai doa-doaku untuk mu teman.




Alhamdulillah... setelah beberapa bulan ga ada new entri. akhirnya kelar juga.. Ini ditulis dari puasa hari pertama, 110810, dan hingga akhirnya selesai mlm ini.... untukmu para shabat-sahabat kecilku yang sekarang entah berada dimana... aku merindukan kalian semua... Akmal Alam, Syamsul Bachri, Rachmad Widodo, Agus Sugianto, Jufri.. dan semua yg tak disebutkan ..... i miz u guys!!!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar