Bersama desir angin menyusup pelan meniup sejuk kesegenap ruang nan pengap, aku bercerita tentang luka yang terbawa dari suatu waktu yang t’lah lama. Menguraikan sedikit demi sedikit perih menjadi kata-kata . Berharap ada pengurangan sesal dengan berbagi bahasa. Malam belum begitu larut sekali. Tapi mimpi sudah membuai anak-anak adam melayang tinggi. Aku seolah tertinggal seorang diri di kota yang biasanya tidak pernah sunyi ini. Tanpa bunyi radio,tanpa bising mesin-mesin, dan bahkan tiada juga berisiknya tv. Hampir satu jam aku menatap monitor dan tombol keybord komputer tanpa sepatah kata tertumpah dari sejuta momen yang sedang bergolak didasar jiwa. Entah karena aku larut dengan kecamuk emosi bertubi, atau mungkin takut berterus terang tentang rasa yang masih mengambang. Aku hanya bisu sekaku dinding-dinding batu kamarku,diam mematung seperti terperangkap hening menyekap. Detak jam seolah terdengar nyaring melengking. Memekak didada terngiang ditelinga membengkak. Aku kembali diborgol perasaan kalah yang terus membuat diri serasa lemah. Kebodohan ini semakin menghantamku hingga berulang kali. Aku menjadi orang pintar berkoar tapi pengecut dalam bertidak. Pecundang yang memalukan ini kembali hanya terdiam. Disaksikan nyamuk dan beberapa cicak yang sedang pesta kawin.Sejenak aku rebahkan tubuhku di lantai, mersakan dinginya ubin berharap jalan keluar dari kebuntuan yang panjang. Hingga tiba-tiba saja aku teringat kata-kata ibuku “kita tdak akan pernah tahu apa yang akan terjadi jika kita takut untuk mengawali”. Aku langsung seketika bangkit dari tidurku kemudian perlahan kata demi kata aku ketik hingga akhirnya terus mengalir bagai sebuah cerita. Kuptuskan untuk menulis surat untuk masa lalu. Sebuah surat yang akan dibaca oleh masa depan dan akan dimuat disaat ini. Sebuah curahan rasa yang selama ini bersembunyi di ruang hati yang paling dalam dan sunyi. Sebuah plot yang selama ini hanya kutulis rapi dengan tinta air mata dan tak pernah terbaca oleh semua. Aku hanya ingin jujur pada jiwa-jiwa berjelaga dan berbagi pada hati-hati yang dahaga. Bersama dengan bintang-bintang yang mulai memudar menyambut mentari. Ditengah-tengah luas lembah penyesalan yang semakin lapang. Sebuah kesimpulan tentang seseorang yang selayaknya diberikan penghargaan tertinggi dan masih tetap dan akan selamanya dihati, aku coba pilihkan kata-kata terbaik dari semua kata. Merangkainya dengan cinta yang masih sama seperti kala itu saat kita bersama. Diatas sebuah kertas bersih nan putih yang wangi. Aku coba memberi tahunya lewat karya kecil yang mudah-mudahan akan terus dibaca oleh sang jaman. Sebuah hal tak berguna yang tidak akan mampu merubah apa-apa. Sebuah tindakan kecil yang aku harapkan bisa mengurangi sedikit beban yang sudah cukup lama aku emban. Sebuah pengakuan tulus tanpa satupun tujuan untuk mengusik hidupmu yang mungkin saat ini sudah cukup indah tanpaku. Sebuah pernohonan maaf juga ucapan terimakasih yang dahulu belum sempat aku utarakan. Sebuah persembahan konyol dari orang tolol yang telah menyia-nyiakan anugerah terindah yang pernah singgah. Tapi sudahlah. Ayam-ayam mulai terjaga membangunkan pagi. Tak banyak waktuku untuk sekedar mengasihani diri. Aku harus segera menyelesaikan surat untukmu. Sekelumit perasaan yang semoga saja menjadi penawar atau juga pelengkap bagi perasaan yang lainnya di jiwa. Karena ketika kita sendirian dan kespian itu belum seberapa pedih dibandingkan ketika bersama seseorang tapi kita masih merasa kesepian. Dan karena pearsaan inilah aku ingin memastikan bahwa engkau kini jauh lebih baik dari aku. Semoga Tuhan selalu beserta jiwa-jiwa yang pasrah. Inilah sebuah curahan isi hati terdalam untukmu yang tak boleh lagi aku ungkapkan. Sebuah rahasia yang akan terus aku bawa hingga dunia tak lagi aku diami. Hingga kemudian engkau tahu bahwa engkau tak pernah kehilangan aku tapi akulah yang kehilangan enkau. Tersenyumlah cinta, engkaulah mahluk elok yang tak akan penah terganti, diam-diam engkau bersemayam dalam hati. Diam-diam aku tetap mengasihi. Diam- diam hingga mati benar-benar membuatku terdiam. Selamat tinggal cita. Semoga kebahagiaan selalu tertuang dalam cawan tawamu. Semoga engkau tidak mengalami seperti yang aku jalani. Semoga.
SURAT CINTA UNTUK MASA LALU
Pagi cukup teduh ‘tak terlalu terik. Aku masih sendiri dengan semua kenangan yang terbawa dari kotamu dulu. Nyaris tidak ada kata-kata terucap, hanya sesal dikecap bersama segurat emosi yang sesekali masih menyala-nyala. Sejuta lukisan juga ribuan puisi yang sengaja aku tinggalkan di kotamu dulu kini terbaca kembali olehku disini yang tak pernah bisa lupa dengan semua yang pernah kita lewati bersama. Angin sayup-sayup meremas hasratku yang kembali terpercik, dan perlahan berkobar menyala membakar tawa-tawa tersisa. Langit biru pagi ini, bercengkrama dengan awan-awan putih berarak berkjar-kejaran mewarnai atap sang cakrawala. Ada wajahmu disitu. Dibalutan senyum dan tawa kecilmu yang khas. Aku terus menengadahkan kepala kearah bayanganmu di atas sana, dan kemudian silau bias sang surya membuyarkan semuanya, sadarkan mimpiku yang hanya berakhir sebagai sebuah ilusi. Hanya mimpi.Perih mengiris dihati lalu menuntun sadarku untuk tetap berpijak dibumi dan menerima kenyatan.
Elegi lagi-lagi elegi. Inilah elegi yang selalu lahir seperti biasa di setip pagi seperti ribuan pagi yang terlewat. Cambuk bengis untuk setiap air mata yang bergantian menetes dari hati dan juga kedua bola mata. Terus berulang hingga siang menjemput petang dan kembali terjadi lagi dipelukan dinginnya malam. Inilah kutukan dari sebuah konsekwensi kehidupan yang selalu dilematik. Sebuah sona abu-abu antara hitam dan putih yang tanpa ampun akan selalu memaksa semua anak adam untuk melaluinya. Sebuah senyum untuk yang lain tapi juga tangis buat yang lainnya lagi. Otak pintar orang-orang bijak membuat kita lebih bisa menerima kenyataan pahit. Sebuah kebenaran tidak selalu manis adanya. Bahwa kadang kita lebih rela kehilangan sedikit nyawa demi banyak nyawa yang harus diselamatkan. Kita harus ikhlas melihat 3 atau 4 orang mati tapi 100 orang yang lain dapat terus melanjutkan nafas kehidupan. Setidaknya nyawa-nyawa yang pergi itu bukan sebuah kesia-siaan, tapi itulah pengorbanan yang suci, itulah dalil atau mungkin sebuah pembenaran yang harus kita amini dengan lapang dada. Meskipun sejujurnya aku ingin melihat semuanya tetap hidup dan bersama-sama bergandeng tangan menatap fajar baru di pagi yang hangat. Tapi inilah kehidupan. Semua berputar dalam lingkaran dan isinya hanyalah sebuah pilihan.ya hanya pilihan, dan kita harus memilih.HARUS.
Salah satu hal terberat dalam hidup adalah merelakan apa yang sebenarnya adalah yang kita inginkan. Seperti halnya kita yang harus terberai demi kebahagian orang lain yang jumlahnya lebih dari sekedar “kau dan aku”. Tapi tegarlah! Aku akan selalu merasakan isak yang engkau sedang rasakan. Aku juga mengerang menahan perih seperti bagaimana yang kau rasakan karena menahan pedih . Tapi aku yakin kau juga tersenyum melihat orang-orang yang kita hormati juga kita kasihi bahagia karena kita tidak lagi terperangkap oleh ego yang bisa melukai mereka semua. Semoga Tuhan mencatat semua tetes air mata kita sebagai amal kebaikan untuk setidaknya kemudian bisa digunakan sebagai penebus dosa-dosa yang pernah kita kecap selama bersama dulu. Dosa-dosa terindah yang terus melekat dalam ingatan kita masing-masing. Kita adalah persembahan untuk sesuatu yang lebih baik. Kitalah tumbal untuk keadaan yang lebih harmonis, hingga tidak ada lagi tangis-tangis yang lain ,meskipun ironisnya kitalah esensi dari air mata itu sendiri.
Hingga kini aku masih banyak bercerita tentang dirimu yang dulu. Kepada teman-teman terdekatku, bahkan pada diriku sendiri. Tidak terasa dan tanpa kita sadari kita telah menggubah sebuah dongeng indah yang bisa saja tidak akan pernah lekang oleh waktu. Cerita tentang asmara yang bukan mustahil akan menjadi ispirasi atau mungkin sekedar bahan introspeksi diri. kasih, jangan engkau tiru perilaku bodohku ini. Aku hanya belum siap memahat masa depan hingga akhirnya sampai kini masih bermanja-manja dengan semua kenangan tentangmu.Berandai-andai seperti anak kecil yang naïf untuk kemudian bisa menghentikan waktu lalu berjalan mundur menuju masa dimana malam, siang, bahkan pagi buta yang beku masihlah milik kita berdua. Sungguh memalukan memang. Dan seperti engkau tahu aku lebih dari aku tahu diriku sendiri, inilah aku kini dan masih saja belum bisa bermetamorfosa dari aku yang lampau untuk menjadi aku yang baru yang lebih baik.
Percayalah!. Bahwa engkaulah selamanya terkasih yang masih bermukim disisi lain ruang hati terdalam. Tanpa dan tak akan terusik sedetikpun. Akan tetap tinggal hingga ajal menjemput jiwa lelahku, hingga raga terbaring ditimbun tanah bernisan. Engkaulah rahasia terindah yang selamanya akan tetap menjadi rahasia. Tersimpan rapi didalam ruang sanubari dengan dekorasi-dekorasi masterpiece dan dikelilingi peri-peri yang tidak akan pernah lelah memainkan harpa tentang lagu cinta yang merdu. Dan aku berjanji akan membawa semua ini hingga aku mati. Sehingga dimensi bukanlah lagi ruang yang bisa memenggal cinta. Kasih.. Hingga saat itu tiba lupakanlah semua tentang kita. Jalani hidupmu seperti ksatria-ksatria yang tetap tegar melanjutkan hidupnya seusai kalah dari medan laga.Teruslah warnai harimu seperti ilmuwan dengan inovasinya yang terus-menerus melukis corak masa depan. Berjanjilah kepadaku untuk menjadikan semua pengalaman pahit yang pernah kita alami sebagai suatu pelajaran untuk hidup yang lebih baik. Bergumamlah pada hatimu, dan disini aku masih mendengarmu. Dengan senyum seperti saat kita bersama dulu , dengan asa tentang akhir bahagia, meskipun sudah sangat pasti kita tdak akan bisa bersatu lagi. Percayalah! Bahwa cinta bukan selalu ada karena kebersamaan. Tapi cinta memang ada karena perasan tulus walau harus tanpa kebersamaan atau apapun juga. Seperti yang kita semua ketahui cinta ada karena cinta itu sendiri.
Jati diri bukan hanya setumpuk ego dan keangkuhan, aku tidak akan pernah lalai untuk mengingat itu. Dan engkau adalah salah satu orang yang telah membantuku dengan kesabaran kasih-sayang untuk terus tegar dalam perjalanan ekspedisiku yang liar. Memapahku untuk bangkit dari jatuh, menyemangatiku disaat malas dan kemudian menuntun langkah-langkahku yang salah menuju jalur yang benar. Sempat sesekali engkau marah, hingga kemudian engkau tersenyum lagi menebar kelembutan sikapmu dan dengan sendirinya aku telah menjadi sedikit lebih baik. Entah bagaimana cara aku untuk membalas semua kebaikan yang pernah engkau berikan padaku. Disetiap malam larut aku selalu berdoa dalam kesunyian, kepada Tuhan aku meminta agar engkau menemukan dunia yang selama ini seharusnya menjadi milikmu. Dunia yang jauh lebih baik dari apa yang telah kamu dapatkan selama bersama aku dulu. Kenangan adalah materi untuk kita baca dan kita pelajari agar menjadi bahan untuk kita terus tumbuh dewasa nantinya. Belajarlah dari semua yang telah terlewat dan berharaplah pada apa yang akan datang. Aku mendukungmu dengan doaku, terdengar ataupun tidak. Aku tetap selalu berdiri dibelakangmu, samar tak terlihat namun pasti memberi motivasi. Tanyakan tentang nyanyian embun-embun pagi yang bening kepada dingin dan hening! Dan setulus itulah doaku untuk dirimu yang telah terluka oleh ulahku. Setulus engkau dulu mengasihiku apa adanya. Tanpa pamrih tanpa imbalan tanpa bayaran tanpa keluh kesah dan tanpa upah.
Dalam nyenyak tidurmu untaian doa-doa kutabur. dalam sedihmu dukaku tak terukur, dan dalam tawamu bahagiaku terhibur. Berlayarlah sejauh samudera terhampar. dan bila badai datang ingatlah sakit yang pernah kita rasa. bertahanlah dari amukan topan itu! jangan biarkan semua yang pernah terjadi kembali menyakiti. bersyukurlah! karena ketika kau merasa tidak ada lagi satupun orang yang mendengarkan, masih ada seorang yang memperhatikanmu. Teruslah kembangkan layar sucimu hingga bila suatu ketika gelap membimbangkan dan mengombang ambingkan bahteramu, akan selalu ada sebuah bintang dilangit malam mencoba menuntun perjalananmu dengan sinarnya yang pucat. kasih.... Bahagiaku untukmu.
dengan cinta dan kasih
____faint___
gw lupa kapan ini ditulis, yg jelas antara kurun waktu pertengahan 2008.... di kost an nya (alm.aziz).. tengah malam di sunyinya jl. kaalipasir raya no13....
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar