Aku masih saja membakar paru-paruku dengan nikotin.Bercengkrama dengan wajah malam yang tetap datar.Sunyi juga dingin masih mesra di kelam yang suram.Masa lalu menegur jiwa penuh sesal, pun juga kesal semakin menggumpal.
Entah sudah berapa lama aku tidak menulis lagi tentang semua ini? Hampir bosan aku bercumbu dengan kata-kata yang hanya slalu berkisah tentang luka hati dan perih. Bila saja tak mesti sakit yang harus tertuang? bila saja semua tentang tawa juga senyum bahagia penuh rona nan riang.
Banyak pergulatan emosi tersisa tiada kunjung berahir. Ingin segera terselasaikan tapi tidak ada jalan keluar.Semua menjadi beku seperti nanah yang semakin membusuk .pergolakan-pergolakan resah yang tidak kunjug berujung. Sungguh sangat memilukan. Berbahasa air mata bersuara isak merana.
Bumi seolah lautan darah yang merah.. Anak-anak adam lalu lalang hiruk pikuk tapi semua bisu tanpa suara.Aku semakin jauh terperosok dalam kesepian yang dalam. Sesak oleh kehampaan, beku oleh kekosongan. Hanya aku dan diriku, tiada lainnya. Selebihnya adalah tanda tanya tanpa jawaban. Terngiang samar suara tangis memekakkan telinga hati yang lelah oleh rasa kalah.
Dinding triplek kamar kostku tetap bisu tanpa komentar.Penghuni-penghuni yang lainpun sudah lelap oleh buayan mimpi-mimpi tidur. Aku masih berjelaga menghitung detak-detak detik yang terus menghitungku.Hanya suara radio sayup-sayup merayap bersama gamangnya udara. Sesungguhnya bersukurlah mereka yang hidup bersama mimpi-mimpi terwujud menjadi sebuah kenyataan . Dan berbahagialah mereka yang masih pumya mimpi. Karena mimpi adalah perjalanan bawah sadar yang sangat indah meski tidak harus terwujud seklipun. Oh Tuhanku yang maha memiliki dari semua hambanya dengan segala kekerdilan ini aku bersujud kepada Mu..
Gerimis gemericik rinainya perlahan membuat dataran dan seisi bumi menggigil. Aku semakin resah menghirup udara lembab sambil menyaksikan pagi yang enggan berbagi hangat. Daun beku di cengkram basah yang kuyup. Ada kebekuan suasana yang berat. Tanpa suara kata-kata mengalun seperti elegi menyambut sejuta malas anak-anak adam yang harus mulai terjaga oleh sepatah kata berbunyi “tanggung jawab”.
Jiwa-jiwa setengah hati perlahan meriuhkan dinginnya jalan-jalan setapak yang tak jarang penuh genangan. Langkah-langkah melukis jejak-jejak berbahasa “tujuan” berbait “kerja keras” dan berahir dengan kalimat hidup yaitu “harapan”. Pujangga, jurnalis,juga sastrawan berlomba mengabadikan setiap momen kehidupan dalam karyanya. Tapi tidak bagiku. Semua ini hanya terselip di hati membengkak dan enggan menjadi untaian prosa.
Hidup adalah sebenarnya suka dan duka bergantian. Silih berganti diantara dua pemahaman yang kurang jelas. Ambigu. Pengkaburan kesimpulan yang harus terus di telaah dengan syukur juga kelapangan dada,.tidak jarang juga de javu. Pengulangan tawa atau tangis yang sebenarnya diinginkan atau tidak tapi akan tetap terjadi dan terjadi lagi. Sulit untuk mengerti tentang apa yang benar dan apa yang benar-benar BENAR. Semua terangkum dalam lingkaran abu-abu sangat riskan untuk di terjemahkan hingga kemudian untuk di terapkan.
Semakin lama aku semakin asing dengan diriku sendiri. Seolah aku bukanlah aku yang dulu dan esok adalah aku yang semakin jauh dari sejatinya aku yang sebenarnya diriku. Perasaan lelah terus menyeret jiwa kedalam situasi gamang nan kosong. Kehampaan tak berujung memapah senja-senja jingga seolah tiada warna. Mega tidak lebih dari sekedar guratan nestapa corak motiv duka yang memerah padam karena luapan emosi. Malaikat pun juga peri-peri tertunduk lesu menatap samudera menelan sang surya. Hanya dewa kegelapan berteman dingin yang beku kini berkuasa melahap semesta dengan hitam yang kelam. Arah semakin hilang tak terlukis. Hanya rembulan melengkungkan sedih sebentuk sabit, secuil saja sinarnya lalu redup tertutup kabut. Aku semakin merasa aneh dengan diriku sendiri. Penat mencari jati diri yang hilang raib di telan nafas sang jaman. Telah banyak yang terlewat dari pelajaran sang waktu. Dan sedikit sesal menggeliat disela desah nan resah.
Wahai awan-awan perak berarak yang berlarian dibawah payung kelam sang angkasa. Dimana engkau sembunyikan bintang-bintang dan semua jawaban? Aku hampir lelah mendongak dan terus mencari. Hantarkan satu atau dua saja padaku. Biar aku selipkan digigi dan aku tak perlu malu untuk tersenyum Tidak usah engkau selimuti mereka teman-temanku yang senantiasa menuntun langkah-langkah melewati malam. Aku mohon! Tolonglah. Aku meminta demi hidupku yang semakin surut. Atau entah aku menangis karena hati yang mulai lupa dengan cara bersukyur? Oh tanda Tanya. Kenapa hanya enkau saja lahir di setiap bimbang persimpangan? Entah dari rahim siapa engkau seolah menetas terus tumbuh dan menelan optimisku perlahan-lahan hingga harapan seperti terbunuh. Aku terjebak dalam kekalutan yang jauh, terperosok, tergelincir lalu terjatuh. Jenuh, dalam basah peluh aku rubuh. Terkapar dan entah dimana aku terdampar.
Keputus asaan ini semakin manja menggelayuti jiwa-jiwa kalahku.situasi yang sebenarnya tidak boleh dibiarkan berlarut-larut tapi terus-menerus membuatku hanyut. Endapan frustasi menyingkirkan asa tanpa diminta. Aku semakin terombang ambing terseret arus deras rasa kalah nyaris tanpa denyut. Lembab merayap di trotar-toar sepi bertabur temaram buram sendu pijar mercury. Ada udara letih berhembus menampar kaki- kaki kecil yang menapaki bisunya kota. Aku semakin terperangkap dalam kesendirian yang pilu. Terjerat diantara kerumunan bisu tanpa tegur sapa bercengkrama. Ragaku transparan dan semua seolah bergerak cepat lalu lalang apatis acuhkan semua kegetiranku. Masa lalu terus mendera menjadi teman sejati kian setia mengikutiku yang semakin tak berdaya memikul kekalahan. Lembah duka meluas menjelma gurun gersang meretaskan dahaga nan gerah. Hati dengan hati-hati terus meraba mencoba mencari solusi. Dan lorong gelap masih panjang untuk ditapaki. Frustasi sedikit demi sedikit berinteraksi kemudian menginterograsi hingga lalu mengintimidasi. Aku semakin tak berdaya bertekuk lutut terjerat tanpa suara tanpa alibi. Situasi ini mengadili dan terus menghakimi. Pahit getir harus ditelan dan kenyataan tidak selalu sejalan degan apa yang kita inginkan. Semua akan berjalan dijalurnya tanpa peduli siapa kita. Karena manusia hakikatnya adalah murid sang waktu dan hamba sang norma. Jika kesalaham terbesar kita adalah karena mencampakkan diri sendiri kenapa justru aku terus melakukan tindakan bunuh diri?
Kepada daun-daun gugur aku berkeluh kesah dan pada dahan-dahan kering aku berbagi gelisah. Semoga embun-embun masih sempat basahi jiwaku yang kering. Dan bukanlah dosa jika manusia terus berharap dan meminta. Hanya Ia sang pengasih dan penyayang yang kemudian memutuskan. Jika ini episode kelam dalam perjalanan hidupku, tidak naifkah bila aku masih berharap tentang edisi pelangi seusai hujan? Bukankah habis gelap terbitlah terang? bukan kah badai pasti berlalu dan bukankah kekalahan adalah sukses yang tertunda? Semoga sisa nafasku ini masih cukup untuk menyambut hari yang di janjikan itu.
Ini adalah rentetan kejadian yang abadi dan tidak akan mudah dilupakan. Salah satu fase trindah dalam kehidupanku yang mulai payah. Ini tentang roman,tragedy dan juga elegi. Ini adalah ironi. Kisah bahagia yang berakhir duka. Ini tentang sebuah contoh bahwa hidup tidak selalu seperti yang kita inginkan. Bahwa apa yang telah kita perjuangkan dengan segenap jiwa dan raga namun tidak jua terwujud, itulah takdir.Bahwa apa yang sudah kita hindari sekuat tenaga dan tetap menimpa, itulah takdir. Ini tentang ketentuan yang harus kita jalani suka ataupun tidak. Ini tentang ujian sejauh mana kita mampu berlaku sebagai hamba. Ini adalah teropong untuk melihat setulus apa kita berlapang dada. Sepintar apa kita bersabar dan seikhlas apa kita menerima. Semua sudah ada ketetapamya. Ketentuan sang Empunya kehidupan itu akan datang tanpa harus di buru tergasa dan tidak perlu juga dicemaskan kehadirannya. Kita adalah bagiaan dari bagian yang lain.Seperti bila langit mendung berawan manusia selalu berpikir tentang turunnya hujan, dan bila mentari terik bersinar hampir pastilah gerah peluh mengeluh. Tapi hidup bukan selalu datar adanya. Mendung tak berarti hujan dan tidak selalu gerimis turun dari air mata sang awan . Ada banyak hal mustahil yang sulit diterima akal sehat namun tetap terjadi karena kuasa sang empunya kehidupan. Masih selalu banyak rahasia-rahasia misteri yang bukan tak mungkin akan menimpa pada diri kita. Sepatutnyalah kita terus berharap akan hidup yang lebih baik. Dan biarkan waktu menuntun kita hingga tiba pada apa yang kita harapkan. Dengan terus berupaya, dengan tak pernah lelah meminta. Seperti ombak tak pernah letih menerjang, seperti karang tak letih diterjang. Kehidupan selalu tentang keseimbangan, atas, bawah, kanan, kiri, tangis, tawa, hitam, putih, dan suka, duka, bergantian ,terus berulang. Kedewasaan menyikapi apa yang sedang kita hadapi akan dapat membantu membuat hidup kita selalu terasa lebih baik. Bersyukur intinya. Senantiasa menatap kebawah dan tetap melangkah kedepan. Tidak terlau memaksa namun bukan berarti hanya terdiam dengan apa yang sudah kita punya. Sadar dengan batasan diri dan tahu akan kemampuan yang kita miliki. Mengharhgai kehidupan menjaganya dan mencoba untuk menjadikanya lebih baik lagi. Perlahan atau secepat mungkin.kemudian serahkanlah kembali pada sang waktu yang akan mengantar jawaban dari sang Empunya keputusan.sejatinya manusia berada pada posisi yang sama. Berdiri pada kisaran tanggung jawab dan hak. Kewajiban mengerjakan tugas sebagai mahluk hidup dan memperjuangkan apa yang patut diterima. Kita memberi karena menerima dan menerima karena memberi. Kesetaraan yang seharusnya mutlak namun sering kita pungkiri.
Sengaja aku menutup pintu kamar mengurung diri dalam kesendirian yang sepi. Melakukan koreksi habis-habisan pada diri sendiri yang semakin resah kehilangan arah. Sangat menyedihkan terus berjalan di jalur yang salah sedangkan kita nyata menyadarinya. Dan lebih menyakitkan karena kita tidak punya pilihan lain. Kadang aku iri pada tumuhan-tumbuhan hijau yang dengan klorofilnya terus menerus berguna bagi kehidupan.Aku iri pada tabir surya yang selalu setia membantu proses fosintesis. Aku iri kepada semua yang berguna. Apa saja yang bermanfaat tanpa harus merugikan yang lain. Aku sangat ingin menjadi seperti itu semua. Menggerakkan roda-roda kehidupan tanpa harus peduli dengan sistem rantai makanan. Rasa frustasi ini menikamku semakin dalam. Membuat aku berfikir lemah dan menjadi orang kalah. Tapi bukankah hidup adalah perjuangan? Dan mulut bukan diciptakan hanya untuk berkeluh kesah. Waktu tidak berjalan seenaknya, tapi ialah shimphoni yang harmonis bergerak pasti tapa tergesa namun tidak pernah terlambat pula. Keputus asaan ini lambat laun menjadi reda namun bukan berarti selesai sudah semua gundah. Hanya nafas dalam-dalam kuhirup lalu kembali ku letakkan semua tanya pada malam yang mulai nyenyak oleh larut. Hingga tiba waktunya nanti semua pertanyaanku terjawab biarlah aku terus belajar dari apa yang terjadi dan akan aku hadapi. Bersama lelah juga mimpi-mimpi tidur aku nina bobokan kegelisan yang beku ini. Esok bersama fajar menyingsing dikaki langit sebelah timur aku sandarkan harap semoga semua ini mencair. Mengaliri sungai-sungai jiwa dengan riak-riak kecil dan menjadi rumah bagi ikan-ikan berenang. Sebuah esensi yang lahir dari pikiran letihku. Setidaknya ini lebih bisa melelapkan tidurku dan aku tak perlu selalu mengikuti alur pikiran orang lain, karena aku juga punya caraku sendiri untuk menjalani hidupku.Benih-benih yang kutanam nantinya akan jadi pohon serta aku tuai buahmya. Aku hanya bisa berpegang pada hati, mengikuti jejak naluri, membaca baik-baik situasi, dan terus bersandar pada kenyataan. Semoga Tuhan memaafkan semua kealpaan ini.
ditulis 28-03-2009.. suatu masa yang penuh dengan pergulatan emosi yang gaduh..
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar