Cari Blog Ini

Laman

Kamis, 17 Juni 2010

YANG TAK PERNAH TERKIRIM

Bersama desir angin menyusup pelan meniup sejuk kesegenap ruang nan pengap, aku bercerita tentang luka yang terbawa dari suatu waktu yang t’lah lama. Menguraikan sedikit demi sedikit perih menjadi kata-kata . Berharap ada pengurangan sesal dengan berbagi bahasa. Malam belum begitu larut sekali. Tapi mimpi sudah membuai anak-anak adam melayang tinggi. Aku seolah tertinggal seorang diri di kota yang biasanya tidak pernah sunyi ini. Tanpa bunyi radio,tanpa bising mesin-mesin, dan bahkan tiada juga berisiknya tv. Hampir satu jam aku menatap monitor dan tombol keybord komputer tanpa sepatah kata tertumpah dari sejuta momen yang sedang bergolak didasar jiwa. Entah karena aku larut dengan kecamuk emosi bertubi, atau mungkin takut berterus terang tentang rasa yang masih mengambang. Aku hanya bisu sekaku dinding-dinding batu kamarku,diam mematung seperti terperangkap hening menyekap. Detak jam seolah terdengar nyaring melengking. Memekak didada terngiang ditelinga membengkak. Aku kembali diborgol perasaan kalah yang terus membuat diri serasa lemah. Kebodohan ini semakin menghantamku hingga berulang kali. Aku menjadi orang pintar berkoar tapi pengecut dalam bertidak. Pecundang yang memalukan ini kembali hanya terdiam. Disaksikan nyamuk dan beberapa cicak yang sedang pesta kawin.Sejenak aku rebahkan tubuhku di lantai, mersakan dinginya ubin berharap jalan keluar dari kebuntuan yang panjang. Hingga tiba-tiba saja aku teringat kata-kata ibuku “kita tdak akan pernah tahu apa yang akan terjadi jika kita takut untuk mengawali”. Aku langsung seketika bangkit dari tidurku kemudian perlahan kata demi kata aku ketik hingga akhirnya terus mengalir bagai sebuah cerita. Kuptuskan untuk menulis surat untuk masa lalu. Sebuah surat yang akan dibaca oleh masa depan dan akan dimuat disaat ini. Sebuah curahan rasa yang selama ini bersembunyi di ruang hati yang paling dalam dan sunyi. Sebuah plot yang selama ini hanya kutulis rapi dengan tinta air mata dan tak pernah terbaca oleh semua. Aku hanya ingin jujur pada jiwa-jiwa berjelaga dan berbagi pada hati-hati yang dahaga. Bersama dengan bintang-bintang yang mulai memudar menyambut mentari. Ditengah-tengah luas lembah penyesalan yang semakin lapang. Sebuah kesimpulan tentang seseorang yang selayaknya diberikan penghargaan tertinggi dan masih tetap dan akan selamanya dihati, aku coba pilihkan kata-kata terbaik dari semua kata. Merangkainya dengan cinta yang masih sama seperti kala itu saat kita bersama. Diatas sebuah kertas bersih nan putih yang wangi. Aku coba memberi tahunya lewat karya kecil yang mudah-mudahan akan terus dibaca oleh sang jaman. Sebuah hal tak berguna yang tidak akan mampu merubah apa-apa. Sebuah tindakan kecil yang aku harapkan bisa mengurangi sedikit beban yang sudah cukup lama aku emban. Sebuah pengakuan tulus tanpa satupun tujuan untuk mengusik hidupmu yang mungkin saat ini sudah cukup indah tanpaku. Sebuah pernohonan maaf juga ucapan terimakasih yang dahulu belum sempat aku utarakan. Sebuah persembahan konyol dari orang tolol yang telah menyia-nyiakan anugerah terindah yang pernah singgah. Tapi sudahlah. Ayam-ayam mulai terjaga membangunkan pagi. Tak banyak waktuku untuk sekedar mengasihani diri. Aku harus segera menyelesaikan surat untukmu. Sekelumit perasaan yang semoga saja menjadi penawar atau juga pelengkap bagi perasaan yang lainnya di jiwa. Karena ketika kita sendirian dan kespian itu belum seberapa pedih dibandingkan ketika bersama seseorang tapi kita masih merasa kesepian. Dan karena pearsaan inilah aku ingin memastikan bahwa engkau kini jauh lebih baik dari aku. Semoga Tuhan selalu beserta jiwa-jiwa yang pasrah. Inilah sebuah curahan isi hati terdalam untukmu yang tak boleh lagi aku ungkapkan. Sebuah rahasia yang akan terus aku bawa hingga dunia tak lagi aku diami. Hingga kemudian engkau tahu bahwa engkau tak pernah kehilangan aku tapi akulah yang kehilangan enkau. Tersenyumlah cinta, engkaulah mahluk elok yang tak akan penah terganti, diam-diam engkau bersemayam dalam hati. Diam-diam aku tetap mengasihi. Diam- diam hingga mati benar-benar membuatku terdiam. Selamat tinggal cita. Semoga kebahagiaan selalu tertuang dalam cawan tawamu. Semoga engkau tidak mengalami seperti yang aku jalani. Semoga.

SURAT CINTA UNTUK MASA LALU
Pagi cukup teduh ‘tak terlalu terik. Aku masih sendiri dengan semua kenangan yang terbawa dari kotamu dulu. Nyaris tidak ada kata-kata terucap, hanya sesal dikecap bersama segurat emosi yang sesekali masih menyala-nyala. Sejuta lukisan juga ribuan puisi yang sengaja aku tinggalkan di kotamu dulu kini terbaca kembali olehku disini yang tak pernah bisa lupa dengan semua yang pernah kita lewati bersama. Angin sayup-sayup meremas hasratku yang kembali terpercik, dan perlahan berkobar menyala membakar tawa-tawa tersisa. Langit biru pagi ini, bercengkrama dengan awan-awan putih berarak berkjar-kejaran mewarnai atap sang cakrawala. Ada wajahmu disitu. Dibalutan senyum dan tawa kecilmu yang khas. Aku terus menengadahkan kepala kearah bayanganmu di atas sana, dan kemudian silau bias sang surya membuyarkan semuanya, sadarkan mimpiku yang hanya berakhir sebagai sebuah ilusi. Hanya mimpi.Perih mengiris dihati lalu menuntun sadarku untuk tetap berpijak dibumi dan menerima kenyatan.
Elegi lagi-lagi elegi. Inilah elegi yang selalu lahir seperti biasa di setip pagi seperti ribuan pagi yang terlewat. Cambuk bengis untuk setiap air mata yang bergantian menetes dari hati dan juga kedua bola mata. Terus berulang hingga siang menjemput petang dan kembali terjadi lagi dipelukan dinginnya malam. Inilah kutukan dari sebuah konsekwensi kehidupan yang selalu dilematik. Sebuah sona abu-abu antara hitam dan putih yang tanpa ampun akan selalu memaksa semua anak adam untuk melaluinya. Sebuah senyum untuk yang lain tapi juga tangis buat yang lainnya lagi. Otak pintar orang-orang bijak membuat kita lebih bisa menerima kenyataan pahit. Sebuah kebenaran tidak selalu manis adanya. Bahwa kadang kita lebih rela kehilangan sedikit nyawa demi banyak nyawa yang harus diselamatkan. Kita harus ikhlas melihat 3 atau 4 orang mati tapi 100 orang yang lain dapat terus melanjutkan nafas kehidupan. Setidaknya nyawa-nyawa yang pergi itu bukan sebuah kesia-siaan, tapi itulah pengorbanan yang suci, itulah dalil atau mungkin sebuah pembenaran yang harus kita amini dengan lapang dada. Meskipun sejujurnya aku ingin melihat semuanya tetap hidup dan bersama-sama bergandeng tangan menatap fajar baru di pagi yang hangat. Tapi inilah kehidupan. Semua berputar dalam lingkaran dan isinya hanyalah sebuah pilihan.ya hanya pilihan, dan kita harus memilih.HARUS.
Salah satu hal terberat dalam hidup adalah merelakan apa yang sebenarnya adalah yang kita inginkan. Seperti halnya kita yang harus terberai demi kebahagian orang lain yang jumlahnya lebih dari sekedar “kau dan aku”. Tapi tegarlah! Aku akan selalu merasakan isak yang engkau sedang rasakan. Aku juga mengerang menahan perih seperti bagaimana yang kau rasakan karena menahan pedih . Tapi aku yakin kau juga tersenyum melihat orang-orang yang kita hormati juga kita kasihi bahagia karena kita tidak lagi terperangkap oleh ego yang bisa melukai mereka semua. Semoga Tuhan mencatat semua tetes air mata kita sebagai amal kebaikan untuk setidaknya kemudian bisa digunakan sebagai penebus dosa-dosa yang pernah kita kecap selama bersama dulu. Dosa-dosa terindah yang terus melekat dalam ingatan kita masing-masing. Kita adalah persembahan untuk sesuatu yang lebih baik. Kitalah tumbal untuk keadaan yang lebih harmonis, hingga tidak ada lagi tangis-tangis yang lain ,meskipun ironisnya kitalah esensi dari air mata itu sendiri.
Hingga kini aku masih banyak bercerita tentang dirimu yang dulu. Kepada teman-teman terdekatku, bahkan pada diriku sendiri. Tidak terasa dan tanpa kita sadari kita telah menggubah sebuah dongeng indah yang bisa saja tidak akan pernah lekang oleh waktu. Cerita tentang asmara yang bukan mustahil akan menjadi ispirasi atau mungkin sekedar bahan introspeksi diri. kasih, jangan engkau tiru perilaku bodohku ini. Aku hanya belum siap memahat masa depan hingga akhirnya sampai kini masih bermanja-manja dengan semua kenangan tentangmu.Berandai-andai seperti anak kecil yang naïf untuk kemudian bisa menghentikan waktu lalu berjalan mundur menuju masa dimana malam, siang, bahkan pagi buta yang beku masihlah milik kita berdua. Sungguh memalukan memang. Dan seperti engkau tahu aku lebih dari aku tahu diriku sendiri, inilah aku kini dan masih saja belum bisa bermetamorfosa dari aku yang lampau untuk menjadi aku yang baru yang lebih baik.
Percayalah!. Bahwa engkaulah selamanya terkasih yang masih bermukim disisi lain ruang hati terdalam. Tanpa dan tak akan terusik sedetikpun. Akan tetap tinggal hingga ajal menjemput jiwa lelahku, hingga raga terbaring ditimbun tanah bernisan. Engkaulah rahasia terindah yang selamanya akan tetap menjadi rahasia. Tersimpan rapi didalam ruang sanubari dengan dekorasi-dekorasi masterpiece dan dikelilingi peri-peri yang tidak akan pernah lelah memainkan harpa tentang lagu cinta yang merdu. Dan aku berjanji akan membawa semua ini hingga aku mati. Sehingga dimensi bukanlah lagi ruang yang bisa memenggal cinta. Kasih.. Hingga saat itu tiba lupakanlah semua tentang kita. Jalani hidupmu seperti ksatria-ksatria yang tetap tegar melanjutkan hidupnya seusai kalah dari medan laga.Teruslah warnai harimu seperti ilmuwan dengan inovasinya yang terus-menerus melukis corak masa depan. Berjanjilah kepadaku untuk menjadikan semua pengalaman pahit yang pernah kita alami sebagai suatu pelajaran untuk hidup yang lebih baik. Bergumamlah pada hatimu, dan disini aku masih mendengarmu. Dengan senyum seperti saat kita bersama dulu , dengan asa tentang akhir bahagia, meskipun sudah sangat pasti kita tdak akan bisa bersatu lagi. Percayalah! Bahwa cinta bukan selalu ada karena kebersamaan. Tapi cinta memang ada karena perasan tulus walau harus tanpa kebersamaan atau apapun juga. Seperti yang kita semua ketahui cinta ada karena cinta itu sendiri.
Jati diri bukan hanya setumpuk ego dan keangkuhan, aku tidak akan pernah lalai untuk mengingat itu. Dan engkau adalah salah satu orang yang telah membantuku dengan kesabaran kasih-sayang untuk terus tegar dalam perjalanan ekspedisiku yang liar. Memapahku untuk bangkit dari jatuh, menyemangatiku disaat malas dan kemudian menuntun langkah-langkahku yang salah menuju jalur yang benar. Sempat sesekali engkau marah, hingga kemudian engkau tersenyum lagi menebar kelembutan sikapmu dan dengan sendirinya aku telah menjadi sedikit lebih baik. Entah bagaimana cara aku untuk membalas semua kebaikan yang pernah engkau berikan padaku. Disetiap malam larut aku selalu berdoa dalam kesunyian, kepada Tuhan aku meminta agar engkau menemukan dunia yang selama ini seharusnya menjadi milikmu. Dunia yang jauh lebih baik dari apa yang telah kamu dapatkan selama bersama aku dulu. Kenangan adalah materi untuk kita baca dan kita pelajari agar menjadi bahan untuk kita terus tumbuh dewasa nantinya. Belajarlah dari semua yang telah terlewat dan berharaplah pada apa yang akan datang. Aku mendukungmu dengan doaku, terdengar ataupun tidak. Aku tetap selalu berdiri dibelakangmu, samar tak terlihat namun pasti memberi motivasi. Tanyakan tentang nyanyian embun-embun pagi yang bening kepada dingin dan hening! Dan setulus itulah doaku untuk dirimu yang telah terluka oleh ulahku. Setulus engkau dulu mengasihiku apa adanya. Tanpa pamrih tanpa imbalan tanpa bayaran tanpa keluh kesah dan tanpa upah.
Dalam nyenyak tidurmu untaian doa-doa kutabur. dalam sedihmu dukaku tak terukur, dan dalam tawamu bahagiaku terhibur. Berlayarlah sejauh samudera terhampar. dan bila badai datang ingatlah sakit yang pernah kita rasa. bertahanlah dari amukan topan itu! jangan biarkan semua yang pernah terjadi kembali menyakiti. bersyukurlah! karena ketika kau merasa tidak ada lagi satupun orang yang mendengarkan, masih ada seorang yang memperhatikanmu. Teruslah kembangkan layar sucimu hingga bila suatu ketika gelap membimbangkan dan mengombang ambingkan bahteramu, akan selalu ada sebuah bintang dilangit malam mencoba menuntun perjalananmu dengan sinarnya yang pucat. kasih.... Bahagiaku untukmu.



dengan cinta dan kasih
____faint___










gw lupa kapan ini ditulis, yg jelas antara kurun waktu pertengahan 2008.... di kost an nya (alm.aziz).. tengah malam di sunyinya jl. kaalipasir raya no13....

Selasa, 15 Juni 2010

MASIH MILIKMU

Aku masih saja membakar paru-paruku dengan nikotin.Bercengkrama dengan wajah malam yang tetap datar.Sunyi juga dingin masih mesra di kelam yang suram.Masa lalu menegur jiwa penuh sesal, pun juga kesal semakin menggumpal.
Entah sudah berapa lama aku tidak menulis lagi tentang semua ini? Hampir bosan aku bercumbu dengan kata-kata yang hanya slalu berkisah tentang luka hati dan perih. Bila saja tak mesti sakit yang harus tertuang? bila saja semua tentang tawa juga senyum bahagia penuh rona nan riang.
Banyak pergulatan emosi tersisa tiada kunjung berahir. Ingin segera terselasaikan tapi tidak ada jalan keluar.Semua menjadi beku seperti nanah yang semakin membusuk .pergolakan-pergolakan resah yang tidak kunjug berujung. Sungguh sangat memilukan. Berbahasa air mata bersuara isak merana.
Bumi seolah lautan darah yang merah.. Anak-anak adam lalu lalang hiruk pikuk tapi semua bisu tanpa suara.Aku semakin jauh terperosok dalam kesepian yang dalam. Sesak oleh kehampaan, beku oleh kekosongan. Hanya aku dan diriku, tiada lainnya. Selebihnya adalah tanda tanya tanpa jawaban. Terngiang samar suara tangis memekakkan telinga hati yang lelah oleh rasa kalah.
Dinding triplek kamar kostku tetap bisu tanpa komentar.Penghuni-penghuni yang lainpun sudah lelap oleh buayan mimpi-mimpi tidur. Aku masih berjelaga menghitung detak-detak detik yang terus menghitungku.Hanya suara radio sayup-sayup merayap bersama gamangnya udara. Sesungguhnya bersukurlah mereka yang hidup bersama mimpi-mimpi terwujud menjadi sebuah kenyataan . Dan berbahagialah mereka yang masih pumya mimpi. Karena mimpi adalah perjalanan bawah sadar yang sangat indah meski tidak harus terwujud seklipun. Oh Tuhanku yang maha memiliki dari semua hambanya dengan segala kekerdilan ini aku bersujud kepada Mu..
Gerimis gemericik rinainya perlahan membuat dataran dan seisi bumi menggigil. Aku semakin resah menghirup udara lembab sambil menyaksikan pagi yang enggan berbagi hangat. Daun beku di cengkram basah yang kuyup. Ada kebekuan suasana yang berat. Tanpa suara kata-kata mengalun seperti elegi menyambut sejuta malas anak-anak adam yang harus mulai terjaga oleh sepatah kata berbunyi “tanggung jawab”.
Jiwa-jiwa setengah hati perlahan meriuhkan dinginnya jalan-jalan setapak yang tak jarang penuh genangan. Langkah-langkah melukis jejak-jejak berbahasa “tujuan” berbait “kerja keras” dan berahir dengan kalimat hidup yaitu “harapan”. Pujangga, jurnalis,juga sastrawan berlomba mengabadikan setiap momen kehidupan dalam karyanya. Tapi tidak bagiku. Semua ini hanya terselip di hati membengkak dan enggan menjadi untaian prosa.
Hidup adalah sebenarnya suka dan duka bergantian. Silih berganti diantara dua pemahaman yang kurang jelas. Ambigu. Pengkaburan kesimpulan yang harus terus di telaah dengan syukur juga kelapangan dada,.tidak jarang juga de javu. Pengulangan tawa atau tangis yang sebenarnya diinginkan atau tidak tapi akan tetap terjadi dan terjadi lagi. Sulit untuk mengerti tentang apa yang benar dan apa yang benar-benar BENAR. Semua terangkum dalam lingkaran abu-abu sangat riskan untuk di terjemahkan hingga kemudian untuk di terapkan.
Semakin lama aku semakin asing dengan diriku sendiri. Seolah aku bukanlah aku yang dulu dan esok adalah aku yang semakin jauh dari sejatinya aku yang sebenarnya diriku. Perasaan lelah terus menyeret jiwa kedalam situasi gamang nan kosong. Kehampaan tak berujung memapah senja-senja jingga seolah tiada warna. Mega tidak lebih dari sekedar guratan nestapa corak motiv duka yang memerah padam karena luapan emosi. Malaikat pun juga peri-peri tertunduk lesu menatap samudera menelan sang surya. Hanya dewa kegelapan berteman dingin yang beku kini berkuasa melahap semesta dengan hitam yang kelam. Arah semakin hilang tak terlukis. Hanya rembulan melengkungkan sedih sebentuk sabit, secuil saja sinarnya lalu redup tertutup kabut. Aku semakin merasa aneh dengan diriku sendiri. Penat mencari jati diri yang hilang raib di telan nafas sang jaman. Telah banyak yang terlewat dari pelajaran sang waktu. Dan sedikit sesal menggeliat disela desah nan resah.
Wahai awan-awan perak berarak yang berlarian dibawah payung kelam sang angkasa. Dimana engkau sembunyikan bintang-bintang dan semua jawaban? Aku hampir lelah mendongak dan terus mencari. Hantarkan satu atau dua saja padaku. Biar aku selipkan digigi dan aku tak perlu malu untuk tersenyum Tidak usah engkau selimuti mereka teman-temanku yang senantiasa menuntun langkah-langkah melewati malam. Aku mohon! Tolonglah. Aku meminta demi hidupku yang semakin surut. Atau entah aku menangis karena hati yang mulai lupa dengan cara bersukyur? Oh tanda Tanya. Kenapa hanya enkau saja lahir di setiap bimbang persimpangan? Entah dari rahim siapa engkau seolah menetas terus tumbuh dan menelan optimisku perlahan-lahan hingga harapan seperti terbunuh. Aku terjebak dalam kekalutan yang jauh, terperosok, tergelincir lalu terjatuh. Jenuh, dalam basah peluh aku rubuh. Terkapar dan entah dimana aku terdampar.
Keputus asaan ini semakin manja menggelayuti jiwa-jiwa kalahku.situasi yang sebenarnya tidak boleh dibiarkan berlarut-larut tapi terus-menerus membuatku hanyut. Endapan frustasi menyingkirkan asa tanpa diminta. Aku semakin terombang ambing terseret arus deras rasa kalah nyaris tanpa denyut. Lembab merayap di trotar-toar sepi bertabur temaram buram sendu pijar mercury. Ada udara letih berhembus menampar kaki- kaki kecil yang menapaki bisunya kota. Aku semakin terperangkap dalam kesendirian yang pilu. Terjerat diantara kerumunan bisu tanpa tegur sapa bercengkrama. Ragaku transparan dan semua seolah bergerak cepat lalu lalang apatis acuhkan semua kegetiranku. Masa lalu terus mendera menjadi teman sejati kian setia mengikutiku yang semakin tak berdaya memikul kekalahan. Lembah duka meluas menjelma gurun gersang meretaskan dahaga nan gerah. Hati dengan hati-hati terus meraba mencoba mencari solusi. Dan lorong gelap masih panjang untuk ditapaki. Frustasi sedikit demi sedikit berinteraksi kemudian menginterograsi hingga lalu mengintimidasi. Aku semakin tak berdaya bertekuk lutut terjerat tanpa suara tanpa alibi. Situasi ini mengadili dan terus menghakimi. Pahit getir harus ditelan dan kenyataan tidak selalu sejalan degan apa yang kita inginkan. Semua akan berjalan dijalurnya tanpa peduli siapa kita. Karena manusia hakikatnya adalah murid sang waktu dan hamba sang norma. Jika kesalaham terbesar kita adalah karena mencampakkan diri sendiri kenapa justru aku terus melakukan tindakan bunuh diri?
Kepada daun-daun gugur aku berkeluh kesah dan pada dahan-dahan kering aku berbagi gelisah. Semoga embun-embun masih sempat basahi jiwaku yang kering. Dan bukanlah dosa jika manusia terus berharap dan meminta. Hanya Ia sang pengasih dan penyayang yang kemudian memutuskan. Jika ini episode kelam dalam perjalanan hidupku, tidak naifkah bila aku masih berharap tentang edisi pelangi seusai hujan? Bukankah habis gelap terbitlah terang? bukan kah badai pasti berlalu dan bukankah kekalahan adalah sukses yang tertunda? Semoga sisa nafasku ini masih cukup untuk menyambut hari yang di janjikan itu.

Ini adalah rentetan kejadian yang abadi dan tidak akan mudah dilupakan. Salah satu fase trindah dalam kehidupanku yang mulai payah. Ini tentang roman,tragedy dan juga elegi. Ini adalah ironi. Kisah bahagia yang berakhir duka. Ini tentang sebuah contoh bahwa hidup tidak selalu seperti yang kita inginkan. Bahwa apa yang telah kita perjuangkan dengan segenap jiwa dan raga namun tidak jua terwujud, itulah takdir.Bahwa apa yang sudah kita hindari sekuat tenaga dan tetap menimpa, itulah takdir. Ini tentang ketentuan yang harus kita jalani suka ataupun tidak. Ini tentang ujian sejauh mana kita mampu berlaku sebagai hamba. Ini adalah teropong untuk melihat setulus apa kita berlapang dada. Sepintar apa kita bersabar dan seikhlas apa kita menerima. Semua sudah ada ketetapamya. Ketentuan sang Empunya kehidupan itu akan datang tanpa harus di buru tergasa dan tidak perlu juga dicemaskan kehadirannya. Kita adalah bagiaan dari bagian yang lain.Seperti bila langit mendung berawan manusia selalu berpikir tentang turunnya hujan, dan bila mentari terik bersinar hampir pastilah gerah peluh mengeluh. Tapi hidup bukan selalu datar adanya. Mendung tak berarti hujan dan tidak selalu gerimis turun dari air mata sang awan . Ada banyak hal mustahil yang sulit diterima akal sehat namun tetap terjadi karena kuasa sang empunya kehidupan. Masih selalu banyak rahasia-rahasia misteri yang bukan tak mungkin akan menimpa pada diri kita. Sepatutnyalah kita terus berharap akan hidup yang lebih baik. Dan biarkan waktu menuntun kita hingga tiba pada apa yang kita harapkan. Dengan terus berupaya, dengan tak pernah lelah meminta. Seperti ombak tak pernah letih menerjang, seperti karang tak letih diterjang. Kehidupan selalu tentang keseimbangan, atas, bawah, kanan, kiri, tangis, tawa, hitam, putih, dan suka, duka, bergantian ,terus berulang. Kedewasaan menyikapi apa yang sedang kita hadapi akan dapat membantu membuat hidup kita selalu terasa lebih baik. Bersyukur intinya. Senantiasa menatap kebawah dan tetap melangkah kedepan. Tidak terlau memaksa namun bukan berarti hanya terdiam dengan apa yang sudah kita punya. Sadar dengan batasan diri dan tahu akan kemampuan yang kita miliki. Mengharhgai kehidupan menjaganya dan mencoba untuk menjadikanya lebih baik lagi. Perlahan atau secepat mungkin.kemudian serahkanlah kembali pada sang waktu yang akan mengantar jawaban dari sang Empunya keputusan.sejatinya manusia berada pada posisi yang sama. Berdiri pada kisaran tanggung jawab dan hak. Kewajiban mengerjakan tugas sebagai mahluk hidup dan memperjuangkan apa yang patut diterima. Kita memberi karena menerima dan menerima karena memberi. Kesetaraan yang seharusnya mutlak namun sering kita pungkiri.
Sengaja aku menutup pintu kamar mengurung diri dalam kesendirian yang sepi. Melakukan koreksi habis-habisan pada diri sendiri yang semakin resah kehilangan arah. Sangat menyedihkan terus berjalan di jalur yang salah sedangkan kita nyata menyadarinya. Dan lebih menyakitkan karena kita tidak punya pilihan lain. Kadang aku iri pada tumuhan-tumbuhan hijau yang dengan klorofilnya terus menerus berguna bagi kehidupan.Aku iri pada tabir surya yang selalu setia membantu proses fosintesis. Aku iri kepada semua yang berguna. Apa saja yang bermanfaat tanpa harus merugikan yang lain. Aku sangat ingin menjadi seperti itu semua. Menggerakkan roda-roda kehidupan tanpa harus peduli dengan sistem rantai makanan. Rasa frustasi ini menikamku semakin dalam. Membuat aku berfikir lemah dan menjadi orang kalah. Tapi bukankah hidup adalah perjuangan? Dan mulut bukan diciptakan hanya untuk berkeluh kesah. Waktu tidak berjalan seenaknya, tapi ialah shimphoni yang harmonis bergerak pasti tapa tergesa namun tidak pernah terlambat pula. Keputus asaan ini lambat laun menjadi reda namun bukan berarti selesai sudah semua gundah. Hanya nafas dalam-dalam kuhirup lalu kembali ku letakkan semua tanya pada malam yang mulai nyenyak oleh larut. Hingga tiba waktunya nanti semua pertanyaanku terjawab biarlah aku terus belajar dari apa yang terjadi dan akan aku hadapi. Bersama lelah juga mimpi-mimpi tidur aku nina bobokan kegelisan yang beku ini. Esok bersama fajar menyingsing dikaki langit sebelah timur aku sandarkan harap semoga semua ini mencair. Mengaliri sungai-sungai jiwa dengan riak-riak kecil dan menjadi rumah bagi ikan-ikan berenang. Sebuah esensi yang lahir dari pikiran letihku. Setidaknya ini lebih bisa melelapkan tidurku dan aku tak perlu selalu mengikuti alur pikiran orang lain, karena aku juga punya caraku sendiri untuk menjalani hidupku.Benih-benih yang kutanam nantinya akan jadi pohon serta aku tuai buahmya. Aku hanya bisa berpegang pada hati, mengikuti jejak naluri, membaca baik-baik situasi, dan terus bersandar pada kenyataan. Semoga Tuhan memaafkan semua kealpaan ini.



ditulis 28-03-2009.. suatu masa yang penuh dengan pergulatan emosi yang gaduh..

Rabu, 02 Juni 2010

PULANG

malam ini, ketika hampir semua barang yang ingin aku bawa besok sudah rapi dikemas kedalam tas ransel. langit merah padam karena mendung yang menutup rembulan diatas sana seperti iri karena bahagia yang bersinar pijar dihati. tanpa terasa kerinduan yang dalam terhadap rumah akan segera mencair. seolah telah tampak dipelupuk mata pohon mangga yang belum juga berbuah dihalaman rumah, senyum penuh kasih ibuku yang selalu hangat juga raut terkejut teman-teman kecilku setiap kali aku pulang dari perantauan. perasaan tak sabar untuk segera tiba diesok siang membuat mata ngantukku bertarung dengan gejolak rasa berdebar dihati, membuat tidur bagai sepatah kata yang sulit dieja.
satu tahun sudah sejak kepergianku yang terahir. rasanya begitu cepat waktu berlalau, dan entah kenapa justru enam jam kedepan ini terasa lebih lama dari semua malam yang telah khatam. ada perasaan tak sabar yang luar biasa untuk segera melintasi 10km sebelum rumah, sawah-sawah yang biasanya sudah mulai digarap untuk menyambut musim kemarau. tanah-tanah kering yang biasanya selalu menawarkan keuntungan lebih dari musim penghujan karena kesempatan bercocok tanam tembakau yang memiliki harga jual lebih mahal dari gabah. pemandangan klasik yang akan mengiringi setiap meter tertempuh dan akan selalu membuat hati terenyuh.
aku jadi hanyut kembali dengan kenangan-kenangan masa kecilku dulu. menangis karena kalah ketika bermain gundu. atau ketika tertawa setelah bermain bola diderasnya hujan. moment-moment sederhana tanpa ice cream dan tamia yang selalu membuat diri larut dalam kenaifan. aku berharap esok ketika dirumah, teman-teman kecilku juga sedang tidak kemana-mana. aku berharap bisa melewati malam sambil bercengkrama dengan mereka, seperti kemarin yang sudah-sudah.
sejak lulus sekolah, aku lebih banyak menghabiskan waktu dikampung orang. sebagai perantau, kesempatan pulang adalah anugerah tak terkira untuk dinikmati dan selalu menjadi salah satu hal yang paling dinanti. aku terlahir disebuah daerah yang belum begitu terestuh oleh timpangnya pembangunan, sehingga kesempatan adalah langka adanya. keluargaku tak memiliki ladang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang semakin melonjak, sehingga hijrah ketanah rantau menjadi sebuah adat yang lahir bukan dari istiadat, tapi menetas dari cangkang kebutuhan dan desakan situasi. lapangan kerja yang susah didapat membuat kota-kota semakin padat, dan desa-desa seperti kampung kami semakin lengang ditinggalkan pergi oleh penduduk pribumi yang harus hanyut oleh derasnya arus urbanisasi.
sebelum aku tunduk terhadap rasa kantuk, sebelum doa-doa larut mengantarkanku kegerbang nyanyak, sebelum mimpi-mimpi membuai malam indahku menjadi lebih indah. aku ingin berbagi kepada kalian yang sedang dijerat kerinduan dahsyat terhadap tanah kelahiran. aku ingin berbagi tentang perasaan tabah yang selalu mampu menaklukkan godaan. aku ingin meyakinkan bahwa suatu saat akan tiba giliran kalian. dan sebelum lelah benar-benar menengelamkan kantukku. aku ingin berbisik pada jiwa-jiwa risau itu, " hanya orang-orang yang melakukan perjalanan panjang seperti kitalah yang akan mengerti indahnya makna kata pulang". bertahan demi masa depan, bersabar demi hidup yang lebih besar, berbuat demi esok yang lebih kuat, dan tetep yakin kepada Nya yang akan memberi ijin.
selamat tidur saudara-saudaraku yang biasa dipanggil "pendatang", sandarkan penatmu dibunga tidur terindah, mimpikan mahkota dan singgasana yang mewah, saat inilah waktunya kalian lepas dari semua tekanan. dan percayalah. esok disebuah pagi yang akan tetap indah walu seperti apapun cuacanya, kau akan terjaga dan tergesa. seolah waktu akan berhenti disitu.seolah jalanan akan segera lenyap tak berbekas. dan kau akan berlari kencang lebih cepat dari waktu yang berjalan. saat-saat dimana kau akan mencerna dengan mata jiwamu sebaris kalimat sederhana yang selama ini dinanti. " hanya orang-orang yang melakukan perjalanan panjang seperti kitalah yang akan mengerti indahnya makna kata pulang". selamat tidur saudaraku. aku wakili kegundahanmu, aku mengerti risaumu. dan aku rasakan rindumu. sampai jumpa saudaraku.