Cari Blog Ini

Laman

Kamis, 26 Agustus 2010

DARI SEORANG VETERAN

Jika senja indah adalah menatap alam terbuka dengan secangkir cokelat hangat sambil mendengarkan lagu jaz yang pelan. Tidak bagimu yang kini sedang menunggu malam datang ditengah musim kemarau yang semakin parau. Ada kerinduan dihatimu tentang seorang panglima besar revolusi yang berapi-api diatas mimbar kala ber-orasi. Luka bekas peluru dipunggung sebelah kirimu sudah nyaris tak berbekas lagi. Bersama semua kenangan heroik itu seutas senyum mengembang tiba-tiba. Sungguh bersahaja. Sekawanan merpati terbang menuju mega-mega, tatap mu berbinar sarat akan cahaya. Hampir tak percaya engkau menatap situasi ibu pertiwi saat ini, dan kau masih mengeluh dikursi rotanmu yang mulai lusuh. “65 tahun sudah kita merdeka” bisikmu lirih dan entah untuk siapa?. Kau masih sendiri ketika mentari tersisa separtuh ditelan bukit diujung barat sana. Angin semakin dingin mengusik tubuhmu. Engkau rapikan syal yang teruntai dileher keriputmu. Meski begitu Kau tetap gagah pahlawanku.
Jiwa pemberanimu masih terpancar dari serak suaramu yang bergetar. Ada api yang belum juga padam dan masih berkobar-kobar. Sertifikat kepahlawananmu tergantung rapi didinding kamar, namun engkau sudah semakin enggan untuk melihatnya. Bukan itu yang engkau cari dahulu. Kegelisahan mu masih bergolak sama persis ketika sebelum 1945 dulu. Bertubi-tubi jiwa patriotmu meronta. Dan engkau hanya bisa berkaca-kaca. Timbul tenggelam bagaimana pekikmu dulu, besenjata sederhana dan tanpa alas kaki tak gentar menhardik tentara nipon dan juka kompeni belanda. Sebuah kerelaan yang teramat sangat untuk negeri tercinta yang sudah tak sabar ingin merdeka. Kini terwujudkan sudah cita-cita mulia itu. Dan engkau masih terlihat gusar. Sebuah kecintaan terhadap nusa yang patut untuk diteladani. Terima kasih pahlawan.
Ditengah malam engkau terjaga, membungkuk diatas sajadah mendoakan si Amir adikmu, dan juga teman-teman yang dulu tak sempat menikmati kemerdekaan karena harus terkena timah panas saat serangan berlangsung. Ada tetes-tetes air mata meluncur dikedua pipimu yang semakin kisut, sebening embun diujung daun, jernih dan sarat ketulusan. Untaian doa-doa meluncur dari dasar hatimu, merasa bersalah pada mereka yang tak sempat engkau tanyakan namanya hingga kemudian nisan tanpa nama saja yang menyambut akhir pangabdian suci mereka. Ada rasa menyesal dalam hatimu, seolah ingin menghujat waktu yang sudah mengambil sebagian ingatanmu sehingga terasa amat sulit bagimu untuk sekedar mengingat beberapa orang yang menemanimu berjuang dalam perang kala itu. Engkau masih khusuk dalam sujudmu. Dan kadang sesekali disuatu malam seperti yang sudah-sudah, engkau tertidur hingga pagi menjelang. Tubuhmu semakin renta pahlawanku.
Agustus datang mebawa kabar bahagia bagimu, sepanjang tahun rasanya engkau tak jemu menanti kehadirannya. Kini tibalah waktu yang telah kau nantikan hampir disetiap detikmu. 30 hari yang sarat dengan nuansa merah putih, suasana dimana taman-taman makam para sahabatmu dibersihkan dan dikunjungi denga upacara-upacara kebangsaan yang layak. Sehingga pusara-pusara lusuh itu kemudian bertabur bunga yang penuh warna. Dan tidak harus menunggu rontoknya bunga kamboja. Kemudia engkau kembali terisak tangis dan tersedu. Dideretan tamu kehormatan engkau berdiri gagah perwira. Menynyikan dengan lantang lagu Indonesia Raya sambil menatap khusuk sang saka. Sekujur bulu romanmu berdiri, segudang kenangan indahmu menari. Ingin rasanya engkau melakukan upacara seperti ini setiap hari disisa hidupmu kini. Memberikan persembahan suci kepada teman-temanmu yang telah tiada. Sehingga kata “terima kasih pahlawan” tidak hanya dikumandankan setahun dua kali saja. Tetap tegar pahlawanku.
Seusai upacara, engkau melangkah gontai menuju pulang, berat rasanya kedua kakimu untuk terus berjalan. Belum cukup rasanya seremoni yang hanya beberapa jam ini. Sesaat engkau kembali menoleh, lalu kesepian yang panjang sudah menanti didepan sana, dan arak-arakan kenang-kenangan kabahagian agustus 1945 akan semakin tajam menusukmu di 13 hari yang tersisa. 10 november masih beberapa bulan lagi, akan terasa lama bagimu untuk menantikan saat itu. Sambil mencoba tetap tegar perlahan-lahan kau rapikan raut wajah yang sedikit berantakan karena pertempuran emosi tadi. Putra dan cucumu menunggu dipintu rumah, secangkir cokelat panas telah tersaji dimeja samping kursi rotan yang mulai lusuh. Engkau merapikan dudukmu setelah beberapa teguk cacau panas melumerkan peredaran darahmu. Matamu menatap kosong senja yang menguning jingga dicakrawala. Tampak seekor garuda terluka bersimbah darah. Terbang tertatih dengan sayap yang berantakan, hampir jatuh diterpa angin. Dan satu luka lagi siap mengisi hari-harimu. Jangan menangis pahlawanku!.


26,agustuS,2010.
Untuk para PAHLAWAN yang telah berjuang demi INDONESIA tercinta....
Persembahan tulus dari generasi tak becus.........
BAGIMU NEGRI........
JIWA RAGA .............
KAMI.................

Kamis, 19 Agustus 2010

NOSTALGIA ABU-ABU

Ketika jakarta berselimut mendung tebal bergumpal-gumpal disuatu senja nan limbung. Aku teringat dengan kalian yang penah berlari dilapangan dekat rumah bermandi gemericik rinai air mata langit. Dibawah kilatan petir dan deru gemuruhnya yang marah, kita tak gentar dan terus berlari. Masa yang sangat indah pada suatu sore hari yang sebenarnya lebih pekat dari sekarang ini. Kita nyaris tak bisa berhenti menahan tawa sambil tertawa melihat pohon dan daun-daunnya yang menggigil. Seolah tanah yang kita pijak bergetar karena deru langkah kita yang riang. Kala itu ketika usia masih belasan dan terburu-buru untuk menjadi dewasa seperti sekarang, ketika tindakan-tindakan konyol jadi lebih berarti karena merasa hal itulah yang terhebat.
Langit semakin pekat hitam tergurat, bersama malam yang perlahan menyongsong ujung-ujung lorong. Aku tak tahu lagi dimana kalian berada kini. Sosok yang menggaduhkan kelas ketika pelajaran sedang berjalan. Manusia- manusia yang ingin cepat tua dan rela berbagi sebatang rokok untuk dihisap bersama demi mengurai sepatah kata sakral bebunyi “solidaritas”. Aku juga tak tahu apakah kalian sudah mencapai apa yang sedari dulu dicita-citakan. Sejujurnya, aku juga hampir lupa bagai mana paras kalian yang bersama-sama dijemur seperti pakain basah ketika ketahuan oleh salah satu guru sedang asik tidur didapur kantin ketika jam pelajaran berlangsung. Sungguh kekonyolan yang kita lakukan bersama itulah yang membuat aku benar-benar tersiksa oleh rindu yang semakin menusuk ini. Rindu membiru yang berbalut tanda Tanya keingin tahuan tentang kalian yang dulu pernah mesra menemaniku melewati jalan setapak sang jaman yang indah.
Malam baru saja menggelar tirai hitamnya diujung bimasakti nan lapang. Sebentuk sabit bulan menggantung dibalik awan, penuh suka cita ia mengabarkan tentang datangnya ramadhan yang mulia. Aku semakin kerdil diantara semua kebodohan dan kealpaan yang terus menjadi. Dan aku semakin rindu dengan kalian sahabat kecilku. Sehabis tarawih yang tak pernah husuk karena canda kita yang nakal, kita selalu berhasil menggaduhkan malam dengan petasan dan gelak tawa yang tanpa beban. Seolah kita sedang berada dipuncak kehidupan tertinggi. Selalu ada kebahagiaan tersedia untuk merasa tak sabar menjelang waktu sahur tiba. Kita benar-benar berhasil melukis warna malam seolah penuh degan corak yang lebih kaya .
Waktu terus berjalan, mengantarkan kita menuju apa yang selama ini kita kejar dengan gusar “menjadi dewasa”. Seolah dengan menjadi lebih tua hidup akan lebih bahagia. Ya, mungkin saja. Semoga. Seolah semua pertanyaan yang dulu menghantui kita akan terjawab seketika. Nyatanya hidup tidak sesederhana pertambahan usia yang selalu saja terjadi hingga akhirnya nyaris tidak kita sadari. Bahwasanya umur kemudian menjadi tolak ukur yang kejam. Yang terus tumbuh membesar membuat waktu seperti semakin menyempit. Bila dulu kita yang disiram dengan kasih,sayang,cinta,perhatian,ilmu dan segala macam kebaikan. Kini kitalah petani yang tak boleh letih oleh panas dan tak boleh lelah oleh hujan. Dan sembari masih dan harus tetap terus belajar. Aku harap kalian lebih siap dariku kini teman.
Sekian lama sudah aku ingin berbagi kisah dan bertukar pikiran dengan kalian. Berbagi segelas kopi dipagi hari yang dingin menggigil. Bertutur tentang segala macam keluh kesah dengan bahasa yang mesra. Sambil menunggu waktu imsak tiba, kemudian kita sholat subuh disurau kecil sebelah sungai dekat rumahmu. Sungguh pemandangan yang kian terlukis indah dikalbuku. Ketika musholla dan mesjid berteriak-teriak membangunkan jiwa-jiwa yang lelap untuk segera sahur, ketika ruang sekitar otakku yang semakin sempit mulai penuh sesak oleh asap rokok, ketika kata-kata menjadi semakin sulit untuk dirangkai, ketika itulah gambar-gambar tentang kita bermunculan menyajikan kerinduan yang teramat sangat. Memunculkan kenaifan yang bergulir dahsyat.
Teman, siang itu kala mentari terik dipertengahan ramadhan yang semakin sulit. Entah perselisihan apa yang kita persoalkan hingga nyaris membuat batal puasa yang sedang kita jalani. Masih terlihat jelas dibenakku raut mukamu yang mengkerut menatap rupaku yang juga kusut. Sungguh menjadi sesuatu yang semakin lucu untuk di ingat kini. Kita saling terdiam hingga hampir waktu buka puasa tiba, setelah sebelumnya berbicara dengan nada tinggi penuh emosi. Tapi malam, selalu saja datang membawa solusi, seolah bintang-bintang adalah jaminan untuk kita kembali bersama tersenyum dan tertawa riang. Seolah kita adalah mutlak sebagai pemenang. Bersama angin kita terbang tinggi dan semakin menjadi.
Mungkin kita terlalu polos saat itu, hingga tak sempat merencanakan sebuah pertemuan kecil saja untuk mengisi saat-saat seperti sekarang. Atau mungkinkah kembali kita menyalahkan lagi sang waktu yang serarsa semakin kencang berlari, sehingga nyaris tidak ada celah untuk sekedar membuat peluang dan sekedar bersua ulang. Sama seperti kala itu, ketika kau harus pindah dan kita terpisah. Sama ketika itu aku harus pergi dan kita terberai. Kita larut dalam episode baru kehidupan kita masing-masing. Dan tentang kita pun sejenak terlupakan. Tertupup lembar-lembar baru yang menyibukkan hari-hari dibabak selanjutnya perjalanan hidup kita.
Malam ini sebelum puasa kembali dimulai, sebelum tiba menyingsing sang fajar. Aku yang mulai mengantuk berbisik pelan didalam hati, “ semoga masih ada waktu untuk kita bertemu lagi”. Aku ucapkan lirih seraya doa-doa suci. Dan bila menjadi kenyataan, aku ingin memeluk kalian walau seaat saja. Biar dunia tahu bahwa kita masih tetap sedekat saudara, seerat teman dan tetap utuh sebagai sahabat. Aku akan selalu menantikan masa itu datang, berdiri tersenyum diantara mimpi dan harapan. Dan aku masih akan selalu yakin bahwa kita solid teranyam rapi dalam bingkai berbunyi SAHABAT.
Semoga Tuhan masih memberikan kita kesempatan untuk sekedar bertemu bertegur sapa. Untuk sekedar berjumpa dan bernostalgia.Dan bahkan jauh hari sebelum idfulfitri tiba membawa kemenangan dan sukacita, aku sangat yakin bahwa kita sudah saling memaafkan. Masih teruntai doa-doaku untuk mu teman.




Alhamdulillah... setelah beberapa bulan ga ada new entri. akhirnya kelar juga.. Ini ditulis dari puasa hari pertama, 110810, dan hingga akhirnya selesai mlm ini.... untukmu para shabat-sahabat kecilku yang sekarang entah berada dimana... aku merindukan kalian semua... Akmal Alam, Syamsul Bachri, Rachmad Widodo, Agus Sugianto, Jufri.. dan semua yg tak disebutkan ..... i miz u guys!!!!!