Cari Blog Ini

Laman

Sabtu, 29 Mei 2010

SEPERTI KATA IBUKU

jarum jam sudah menunjuk pukul 9:30. matahari mulai meninngi dengan sinarnya yang terik. Aku masih enggan membuka mata ketika handphone berteriak memberi tahukan sebuah panggilan masuk. salah seorang temanku rupanya, dengan malas aku mengangkat dan memaksakan untuk berbicara. ia mau datang, tubuhku seperti remuk seolah tak mampu lagi untuk bangkit, tapi aku selalu teringat petuah ibu, "tamu adalah rejeki". dengan segala daya usaha aku bergegas untuk mandi dan membereska kamar kos yang seperti biasanya, berantakan.
tadi malam ada teman yang lain mengajak aku untuk menemaninya kedaerah jakarta barat. meminta untuk ditemani membeli jas untuk pesta perkawinan saudaranya bulan depan. kita pergi ke salah satu mall paling wah disekitaran sana. Mall Taman Anggrek tepatnya. Tapi bukan itu point utamanya. entah kenapa dari dulu aku hampir tak pernah terkesan dengan yang namanya pusat perbelanjaan. seolah yang terlihat oleh mata telanjangku adalah daftar harga berserakan dari ujung keujung. selain rayuan-rayuan licik bertema sale dan discount. sebubuah kompilasi jitu untuk membuat orang-orang seperti aku selalalu berjaga jarak dengan yang namnya departement store.
perjalanan pulangnya kita coba ambil arah tambora maksud hati sih ingin sekalian mampir ke kota tua. Maklum sudah beberapa bulan ini aku jarang main ke kawasan wisata yang murah meriah itu. Ada kerinduan tentang suasananya yang penuh nostalgia. Sepanjang perjalanan, kami disuguhkan pendangan yang tak terlalu asing bagi orang-orang yang tinggal di Jakarta. Kendaraan yang lalu lalang,polusi, pengemis diperempatan lampu merah dan segala macam pemandangan khas ibu kota tercinta lainnya. Tidak ketinggalan, jalur khusus busway tentunya. salah satu jenis transportasi yang masih ada di Jakarta saja. Yang membedakan mungkin jalur grogol -pluit yang entah masuk koridor berapa dan belum dipergunakan alias masih belum beroprasi. Padahal kalo aku tidak salah ingat proyek ini sudah satu tahun lebih rampungnya. Sekarang malah terkesan sia-sia, mubazir dan bahkan mungkin buang-buang uang. Selain karena sudah banyak yang rusak pembatas jalannya, halte-haltenya pun malah mulai lusuh tak terurus, sedikit merusak pemandangan jalanan jakarta yang memang sudah rusak.
Dengan ditemani bulan yang nyaris sempurna bulatnya kita terus menyusuri jalan Latumenten. Sebuah kebiasaan anehku yang selalu sering mendongak keatas langit ketika berboncengan. Seperti ritual wajib untuk membuat berkendara lebih tenang. Selainuntuk memastikan cuaca, aku pasti selalu merasa lega ketika melihat langit. Karena ternyata ditengah carut marutnya Jakarta yang makin penuh sesak masih ada ruang lapang nan luas. Ya. Itu adalah langit.yang hitam dikala malam dan mendung, biru ketika pagi menyapa dan jingga kala senja melambaikan tangan.Tidak terasa kita sudah sampai dijalan Muara Anke, itu berarti tak jauh lagi taman Fatahillah akan kami capai.
Setelah puas menikmati suasana feodal kololonial, kami yang duduk disebuah bola beton menghadap Museum keramik diseberang jalan, setelah teh botol hanya tersisa botol dan sedotannya saja. Kami beranjak untuk segera pulang, malam sudah semakin larut tanpa kita sadari dan tidak akan pernah kita sadari bila tidak membawa jam. Karena lalau-lalang kendaraan di jakarta yang selalu ramai sebelum benar-benar tengah malam tiba, akan membuat kita tetap selalu merasa bahwa hari masih sore. Mungkin ukuran larut disebuah kota berbeda-beda. Tapi buat aku yang tumbuh dan besar dikota kecil larut itu dimulai dari jam 22:00 dan ini sudah lewat beberapa menit.
Kami pun bergegas pulang melewati jalur Hayam wuruk yang nyaris tidak pernah sepi. Sebelum ahirnya sampai disekitaran Monas yang lumayan sejuk karena hutan lindungnya. Beberapa kali aku dan temanku berbincang tentang kesenjangan sosial yang masih sangat kontras di Jakarta sejak pertama kali berangkat dari rumah tadi. Temanku yang satu ini memang selalu kritis dengan lingkungan sekitar. Dan mungkin itulah satu-satunnya alasan mengapa kita bisa tetap dekat sampai sekarang. Meskipun sebenarnya kami sudah punya kesibukan sendiri-sendiri. Pasti saja ada topik untuk di bahas bila kita bertemu walau kadang tak jarang hanya sekedar ngelantur kesana kemari.
Sesampainya di kost an jam hampir menunjuk jam 23:00. Para penghuni yang lain sudah mulai lelap dan akupun mulai merasakan capek yang tersisa setalah perjalanan tadi. Parahnya lagi kebiasaan insomniaku kambuh dan matapun tidak mau terpejam hinga jam tiga dini hari. Itulah sebab musababnya kenapa pagi ini terasa sangat sangat berat.
Sehabis mandi dan menyalakan komputer, aku berjuang melawan letih dan sisa kantukku membereskan kamar yang berantakan. Setelah akhirnya rapi, secangkir kopi dan beberapa puntung kretek menemaniku menanti kedatangan temanku yang menelpon tadi. Sambil mendengarkan beberapa lagu dari album milik THE S.I.G.I.T. serta browsing dan update status pula tentunya akhirnya teman yang dinantipun datang. Dan seperti yang dikatakan ibuku, “tamu adalah rejeki”. Memang benar. Dipagi yang membutaku malas untuk kewarteg ini, diaKhir bulan yang selalu memaksa untuk lebih hemat. Temanku datang membawakan nasi bungkus dan rokok kesayangan. Bukan hal yang terlalu berharga mungkin, tapi sangat berarti bagiku. Jadilah pagi ini sebagai pembuka hari yang sempurna. Dan akan kita isi dengan hal-hal bergua tentunya. Semoga.Amin.

Kamis, 27 Mei 2010

JEJAK SUNYI

Tak seperti biasanya, stasiun gondangdia malam ini lebih sepi. Hanya ada beberapa calon penumpang saja menunggu kedatangan kereta. Sebagian diantaranya adalah anak muda yang mungkin baru selesai nonton bioskop atau mungkin sekedar jalan-jalan ke mall diseputaran jakarta pusat, mereka tampak asik mendengar lagu dari handphone mereka dengan wajah berseri khas wajah-wajah malam minggu. Gondangdia tampak lebih tenang, damai tepatnya.tampak dikejauhan dengan mata telanjangku gedung-gedung diseputaran sarinah yang masih tetap angkuh,seolah menjabarkan penjelasan bahwa merekalah yang mencakar langit diatas jalan M.H. tamrin yang masih dan akan semakin mewah.Sementara itu, jalanan hanya menyisakan lembab juga tak jarang beberapa genangan becek disepanjang Cut Meutia tadi.sebuah suasana yang nyaris tak pernah berubah sejak pertama kali dulu aku melintasinya. Seperti transisi antara jakarta masa lalu dan saat ini. Sungguh romantis rasanya. Aku masih setia dengan headset yang menempel ditelinga meneriakkan lagu-lagu dari Superman Is Dead. Musik punk melodik yang mereka usung setidaknya sedikit membamtu untuk tetap berpikir kritis dan optimis ditengah suasana hati yang sedang dibekap sejuta rasa pesimis. Meski tak banyak membantu tapi setidaknya sedikit memotifasi hati yang sedang resah untuk tetap tegar.
Kereta ekonomi ac jurusan jakarta bogor yang aku tunggu mulai tampak diujung stasiun. Lantai dan rel yang menggigil dibuatnya bergetar. Tak seperti dugaanku, ternyata tak ada kursi yang masih tersisa. Seperti biasa, Jakarta - Lenteng Agungpun harus ditempuh dengan berdiri. Kaca kereta yang transparan kini menjadi reyban. Suasana didalam kereta yang lebih terang membuat keadaan diluar tak terlihat. Hanya bayanganku yang sepertinya menatapi tubuh nyataku. Kami seperti bertatap muka satu sama lain. Kusam, dekil berminyak, bahkan mungkin sedikit bau. Tapi yang lebih berantakan adalah isi hati yang hampir setiap saat berkecamuk. Aku jadi malu melihat bayangan diriku dicermin kehidupan yang semakin memprihatinkan.
Entah kenapa masalah datang silih berganti. Seolah hidup hanya ujian tak berujung dan harus dijalani dengan penuh kesabaran yang total. Sekali waktu, putus asa bukan hanya sekedar tamu bagi rumah jiwaku, ia seolah bagian dari diriku yang sangat sulit untuk diuraikan, mengendap, kemudian mengikat keras optimis yang tersisa hingga nyaris tak berkutik. Adakalanya akupun berlari menjadi orang lain yang aku sendiri dibuat tak mengenalinya. Memaksakan diri menjadi hedonis, merendahkan diri menjelma autis. Dan suatu ketika akupun nyaris menghujat Tuhan. Tapi Tuhan rupanya memang penyayang para hambanya. Hingga hal itu tidak sampai aku lakukan. Aku menilai dengan penilaian sinis. Menganggap hidup tak lebih dari sekedar sarkasme berkesinambungan. Walau sebenarnya hal itu hanya menambah berat beban yang menjerat.
Tak tersa stasiun demi stasiun telah terlewati. Tanjung barat tepat satu stasiun sebelum aku turun menyadarkan semua pikiran negatifku. Aku bersiap mengambil posisi didekat pintu agar bisa turun dengan segera. Stasiun lenteng Agung pun menyambut dengan dimensi yang tak jauh beda dengan Gondangdia tadi. Sunyi. nyaris tanpa calon penumpang, hanya penumpang yang baru turun berhamburan tergesa menuju pintu keluar. Seolah diluar stasiun adalah hari esok untuk mereka. Aku tetap lamban melangkah berpikir waktu akan berhenti disitu dan tak perlu ada esok yang masih tak pasti. Tepat diluar stasiun ditengah tawaran jasa para tukang ojek aku tersadar sesadar-sadarnya. Ini malam minggu. Malam yang sebenarnya sudah tidak berpengaruh untukku. Bukan lagi malam dimana besok adalah hari libur untuk mereganggkan otot, dan juga bukan pula malam yang harus dinikmati setiap menitnya dengan suka cita atau bahkan hura-hura. Seperti hari-hari yang lain bagiku, malam minggu ini akan menjadi malam kelabu tak ubahnya malam-malam lain akhir-akhir ini. Jalanan dipenuhi pasanagan muda-mudi berkendara motor hiruk pikuk dengan rona wajah yang sangat bombastis. Aku jadi sedikit iri pada mereka. Tapi sudahlah. Semua ada waktunya, untuk sekarang mungkin belum saatnya. Bahkan kini membawa diri sendiri saja belum tentu sanggup. Apa lagi harus membahagiakan orang lain. Aku tak yakin akan bisa dengan hal itu.
Srengseng sawah tempatku tiggal sementara ini selalu sepi dan kelam. Seperti ini bukan dari bagian dari Jakarta yang metropolitan. Suasana yang mengingatkan diriku pada kabupaten-kabupaten yang sedang berkembang didaerah jawa timur. Malm perlahan mulai meninggi. Memang belumlah larut benar keadaannya. Aku lebih suka memplesetkan semua suasana ini dengan kata ghotik dari pada sunyi. Lebih sedikit membantuku mendapatkan alasan untuk tetap betah berlama-lama disini. Setidaknya hingga nanti pilihan yang lebih baik datang menawarkan solusi. Meski sebenarnya sisi lain di bagian hatiku selalu tak sabar untuk segera hijrah. Tempat ini hanya mengingatkanku tentang rumah. Kampung halaman yang untuk sekarang adalah tempat yang haram untuk sepatah kata “pulang”..
Dingin yang ditiupkan oleh angin semakin menyadarkan tentang posisi dan porsi diriku kini. Terpuruk dan tak memiliki apapun.hanya ruangan kosong yang akan menyambut kedatanganku.tak ada teh hangat tersedia dimeja, pun juga suara untuk berbagi keluh kesah di jiwa. Meski sebenarnya aku yakin seyakin yakinnya Selalu ada harapan buat mereka yang tidak pernah menyerah. Aku jadi teringat dengan teman, keluarga, dan semua orng yang masih dan pernah memperdulikanku selama ini. Malam ini ketika anak kunci membuka pintu kontrakan. Dalam hati aku berujar. Mereka memang tak seruang lagi denganku. Aku harus menghadapi semua ini dengan keberanian. Tapi aku tersenyum ketika komputer mulai kunyalakan. Tersenyum karena telah menjadi orang yang beruntung. Dan meski sendiri lagi harus kulalui malam ini' aku bangga pernah dan mungkin akan masih memiliki mereka. Karena mereka selalu menyediakan cinta yang aku butuhkan. Terimakasih Tuhan. Sejenak setelah seteguk air putih dan beberapa puntung rokok, aku ceritakan semuanya kepada malam. Ditemani denting detak jam berdecak. Disunyi senyapnya sinar bulan yang menyebarkan kesepian. Titik air mulai tumpah berserakan dari atap malam yang pekat. Menabuh gemericik, meriuh rendahkan rinainya yang semakin deras. Aku berharap untuk segera mengantuk. Tapi sepertinya malam akan semkin panjang membentang. Seolah esok enngan menjelang. Dan kesabaran akan tetap menjadi tugas wajib untuk terus diterapkan.



ditulis pada pertengahan februari hingga awal maret 2010. sebuah diskusi hati yang selalu mampu mengingatkan aku tentang perjalanan antara Jakarta dan lenteng agung yang melankolis beberapa waktu yang lalu...

langkah kecil

ini adalah sebuah langah kecil dari seseorang yang bukan siapa-siapa dan belum menjadi apa-apa. sebuah harapan sederhana tentang mimpi, yang semakin lama semakin menjadi sekedar ilusi. ini bukan ratap pesimis dari hati yang tersedu menangis. hanya sebuah keinginan tulus untuk mengarahkan kegelisahan kearah yang lebih positif. dan semoga bermanfaat bagi siapapun yang membaca dan pernah sama-sama merasakannya. karena menurut saya pribadi dan entah bisa diterima atau tidak terkadang ada kalanya waktu terlalu sempit untuk hal-hal yang besar, sehingga kita butuh sarana lain untuk mengkonfersinya.
ini adalah suara jujur yang berbisik dari dalam hati. suara lirih tentang kerinduan mendalam, kesepian menghujam, tawa yang tak teredam, suka cita yang terekam, atau apapun itu yang sedang terjadi. lewat niat tulus sedehana ini kita coba berbagi. berusaha memberi warna lain diantara warna-warna yang sudah tergurat seindah pelangi.
sebuah harapan sederhana untuk sekedar bisa diterima dan dicerna. sehingga langkah kecil ini menjadi jejak yang terus maju menapaki luasnya cakrawala kehidupan yang semakin cepat jauh berlari.