Ia mulai terlihat mengantuk dengan matanya yang sayup 5watt. Belum genap 20tahun sepertinya. Rambutnya yang sebahu tergerai dibiarkan begitu saja tak diikat, sesekali tertiup angin yang berhembus acuh dari luar jendela mitromini berlebel P20 senen-lebak bulus, rit terahir. Malam mulai menjelang larut, jarum jam diarloji sudah menunjuk pukul 23:15 ketika bus butut ini melintasi jalan raya tepat dimuka pasar mampang yang juga sudah mulai terlihat lelah. Sesekali ia memperbaiki cara duduknya agar tidak terbawa kantuk yang terus merayu. Mitromini adalah kendaraan masyarakat kelas bawah. Jadi jangan harap tentang keamanan ekstra. Disini semua harus waspada, menjaga diri sendiri dengan tingkat keawasan yang sangat. Tidak jarang kejahatan terjadi, mulai dari pencopet yang sudah hampir kuhafal raut mukanya sampai penjambret dadakan yang beraksi karena adanya kesempatan.
Hampir setengah tahun sudah aku tidak berkendara dengan transportasi yang kategorinya satu tingkat dibawah sederhana ini. Semenjak kantor memfasilitasiku sebuah mobil dinas tepatnya. Aku menatap gadis belasan tahun itu tersenyum ketika membaca sebuah pesan singkat yang menggaduhkan ponselnya. Jari-jarinya cukup lincah membalas sms yang masuk , kemudian ia kembali fokus pada perjalanannya. Aku kira ijazahnya hanya SMU sederajat. Setidaknya aku menilai dari sragam yang ia kenakan. Sales promotion atau mungkin kasir disebuah pusat perbelanjaan atau mungkin mini market yang semakin lama semakin menjamur di Jakarta ini. Tampak raut ketidaksabaran diwajahnya ketika lampu lalu lintas diperempatan ragunan menyala merah. Mungkin ia sudah tidak sabar untuk sampai dirumah dan kembali bermanja-manja dengan buda dan keluarga tercinta. Atau mungkin sekedar berbaring dikasur kost an yang butut dan harus dibayar tepat waktu tiap akhir bulan. Entahlah.
Penumpang naik dan turun sepanjang jalan raya sebelum cilandak. Ia masih berusaha untuk tetap tak terusik. Tergetar hati ini merenungkan posisi dan kondisi yang harus ia hadapi juga jalani. Sungguh sebuah keteguhan dan ketegaran tekad luar biasa dari seorang gadis belasan tahun yang harus aku contoh dan bahkan mesti aku teladani. Sebuah pengalaman berharga yang tidak mugkin aku dapatkan bila mobilku tidak ngadat secara misterius. Situasi yang sempat menumpahkan gerutuku dan bahkan sempat tadi aku menghujat keberuntungan. Aku harus banyak bersyukur dengan apa yang telah aku dapatkan selama ini. Dengan kehidupan yang semuanya nyaris serba instan bagiku dan masih saja harus aku hadapi dengan keluh kesah yang tak jarang melahirkan umpatan terhadap Tuhan. Ya Tuhan ampuni kehilafanku selama ini.
Seorang perempuan setengah baya naik tepat didepan sebuah kantor instansi pemerintah, sepertinya ia juga baru pulang kerja. Tapi bukan pegawai negeri kelihatannya. Seragamnya putih abu-abu seperti seragam sales kosmetik yang sering berkunjung kerumah tiap akhir pekan. ia melihat kedepan dan kebelakang mencari kursi kosong. Tapi mitromini rit terahir bukan berarti sebuah jaminan untuk menjadi lengang, semua tempat duduk terisi rupanya. Aku yang merasa malu hati bila tak mau mengalah terhadap seorang wanita, segera saja aku berajak dari tempat dudukku, dan segera pula menawarkan kepadanya untuk menempati bangkuku. Seketika aku langsung teringat dengan istriku dirumah. Mungkin ia sedang menyiapkan makan malam atau mungkin segelas teh manis sambil menungguku tiba sembari menonton opera sabun kesayangannya. Atau mungkin ia sudah terbawa lelap dan tertidur disofa seperti yang sudah-sudah. Dia sungguh beruntung keluhku, dan akupun sangat beruntung pula mendapatkannya.
Tidak terasa perjalanan metromini yang aku tumpangi telah sampai dihalte terahir, semua penumpang turun berhamburan seolah diluar sana adalah rumah mereka. Padahal tak jarang mereka harus berganti angkot lagi untuk sampai dirumah. Seperti halnya aku yang harus naek taxi lagi karena rumahku memang masih cukup jauh. Gadis belasan tahun itu masih tenang ditempat duduknya. Aku sempat beranggapan mungkin ia ketiduran. Tapi ternyata tidak. Setelah pintu metromini lengang ia pun berajak dan segera bergegas. Aku yang masih berdiri mencari-cari taksi megamatinya turun dengan tergesa. Dan sebuah papan nama kecil diatas sakunya yang sebelah kanan memberi tahuku siapa namanya. Rosalia. Nama yang nyaris seanggun wajahnya. Ia tampak setengah berlari menyebrangi jalan. Dan tetap setengah berlari menyusuri trotoar. Ditengah malam metropolitan yang mulai senyap ia terus mempercepat langkahnya. Aku mengelus dada dan kembali merasa sangat berdosa kepada Tuhan. Betapa aku selama ini adalah manusia yang tidak tahu cara berterimakasih dan bersyukur.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya sebuah taksi melintas didepanku. Setelah menghentikannya aku masuk dan duduk dijok belakang sambil kemudian mengutarakan tujuanku. Argo menyala bersamaan dengan pintu tertutup. Sejuk yang berhembus dari AC membuat aku sedikit lebih santai. Sabil merebahkan tubuh pada posisi malas aku menoleh kesebelah kiri melihat sebuah bangunan ruko yang mulai jadi, dengan sepanduk besarnya yang bertuliskan “DISEWAKAN” dengan taman yang cukup teduh tepat disebelah pompa bensin. kembali aku tersentak melihat gadis kecil itu masih mengayuh langkahnya setengah berlari. Rosalia, kaki-kaki kecil itu masih melangkah membelah malam dingin dengan rembulannya yang mulai menggigil. Aku berguru kepadamu, doaku tulus besertamu, aku salut kepadamu. Terimakasih Rosalia. Engkau gadis kecil yang telah mengajariku untuk jadi pribadi yang lebih baik lagi. Terimakasih Tuhan. Kau telah membuka mata hatiku lewat seorang gadis kecil yang tangguh.
Sesampainya dirumah. Seusai makan malam yang hangat bersama istri tercintaku. Sambil menikmati secangkir teh dan acara TV yang sebenarnya aku tidak minati. Aku bercerita tentang perjalan pulangku tadi kepada istriku. Tentang orang-orang yang bertarung segenap jiwa untuk bertahan hidup. Tentang perempuan-perempuan yang tampak diupah tak layak, tentang Rosalia yang harus mengorbankan masa mudanya, dan tentang betapa beruntungnya kami. Akhirnya kami pun sepakat untuk memperbaiki kualitas hidup kami dari pelajaran sederhana yang telah aku alami dimetromini tadi.
16,Sept – 18,Sept,2010.... ditulis bwt 050590 taurus girl, thx 4 inspired me.... be strong dear................
Sabtu, 18 September 2010
Jumat, 03 September 2010
HINGGA UJUNG NAFAS
Sore semakin letih menggantung diujung barat cakrawala yang mulai gelap. Kidung puji-pujian yang biasanya teracuhkan oleh sibuknya jakarta kali ini sedikit lebih jelas terdengar. Ramadhan dengan segala kemuliaan dan keajaibannya hampir selalu mampu menghusyukkan jiwa-jiwa yang biasanya terserak bertebaran dijalanan, untuk larut dalam kebersamaan yang hangat. Tapi tidak bagi mu. Engkau yang masih berkucur keringat digerbang senja yang tampak biasa. Bersama gerobak dan isinya yang sudah lebih dari separuh. Engkau melafalkan hamdalah dan kemudian beberapa teguk teh manis yang hampir basi kau tenggak dari botol bekas air mineral. Teh manis yang kau rebus tadi pagi sebelum pergi mengelilingi jakarta. Keringat kau seka dengan handuk kecil yang sudah seharian kau gunakan. Langkahmu belum berhenti, kembali roda – roda itu menggelinding mencari mesjid atau musholla terdekat. Dan hidupmu harus terus berjalan.
Tahun ini ada ruang kosong nan hampa di hatimu, mak Inah istrimu biasa dipanggil tak lagi menemani perjalanan hidupmu yang semakin renta. Belum genap 100 hari semenjak kepergiannya menghadap sang maha kuasa. Karena sakit yang sampai kini tidak diketahui karena ketidak mampuanmu untuk memeriksakannya kedokter. Engkau seorang pendatang di Jakarta, berpuluh-puluh tahun tanpa kartu tanda penduduk resmi, itulah juga yang membuat engkau kesulitan untuk mengurus surat keterangan keluarga tidak mampu. Engkau hanya menggerutu kala itu “ jadi orang miskin aja kok ya masih butuh surat ijin”. Sendiri sudah sisa hidup harus engkau jalani. Membuat engkau memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrakan tempat tinggalmu. Menjadi tuna wisma berkelana dari ujung kota ke ujung yang lainnya, bersama tekad, kenangan, dan gerobak kesayangan. Dan setiap malam-malam yang dingin kini kau lewati dengan tidur disudut-sudut kota atau bawah-bawah jebatan layang. Engkau semakin larut dalam pengembaraan.
Dibawah pohon mangga tepat dipojok kanan sebelah pagar kau bungkus gerobakmu dengan terpal berwarna biru. Cukup rapi dan tidak menggangu pemandangan. Setelah sholat magrib kau tunaikan, untaian doa-doa suci tulus kau haturkan untuk almarhumah istri tercinta dan anak cucu, serta almarhum kedua orang tuamu. Masih lekat rasanya pedih kala terkenang sat-saat terahir kalinya kau antar jasad mak Inah keliang lahat. Dan dengan air mata kau antar ia kesurga. Engkau masih larut dalam doa-doamu ketika orang-orang berdatangan memenuhi mesjid untuk menyongsong isyak dan tarawih yang sudah mulai sepi disepuluh malam terahir menjelang idul fitri. Mungkin mereka sudah mulai lelah dengan ramadhan, atau mungkin mulai sibuk menyerbu pusat perbelanjaan yang dihias dengan beduk dan ketupat bertuliskan sale dan discount. Engkau tak bergeming dengan pikiran khusukmu untuk lebih dekat kepada Tuhan. Engkau tidak peduli, hanya sekali kau menoleh kebelakang dan mengelus dada sambil mengucap istigfar. Engkau pun kembali hanyut dalam ibadah sunnah yang pahalanya sama dengan ibadah wajib dalam hari-hari biasa.
Jam menunjuk angka 22:15. Ketika tadarus selesai dan hampir sebagian besar jamaah meninggalkan rumah Tuhan itu untuk kembali berkumpul bersama keluarga mereka dirumah. Hanya tersisa engkau, pengurus mejid, dan beberapa lelaki separuh baya juga beberapa orang tua seumuran denganmu yang masih khusuk dan semakin khusuk dalam iktikaf. Sesekali air mata matamu menetes disela dzikirmu yang lirih. Ada banyak kenangan dan permohonan yang tulus yang masih sampai saat ini selalu saja mampu menggetarkan palung hatimu. Sebuah permintaan dan harapan yang tetap kau bungkus dengan keyakinan penuh dah tak pernah tersentuh oleh kata menyerah. Sebuah keteguhan hati yang kokoh dan selayaknya dicontoh. Manusia serba kekurangan yang selalu tahu tentang bagaimana caranya bersyukur. Manusia serba terbatas namun sangat jarang mengeluh. Engkaulah tubuh renta yang perkasa dan tak gentar memahat perjalanan sang jaman yang keras menjadi lebih bercorak.
Suara pengeras suara mengagetkan husyukmu, para pengurus mesjid mulai aktif membangunkan warga sekitar untuk segera bergegas makan sahur. Engkau beranjak untuk segera mencari warteg terdekat, setelah melipat kain sarungmu, membukus dengan plastik dan menggantugkannya pada paku bagian depan gerobamu. Kini kau telah kembali siap mengitari belahan kota lainnya bersama malam yang dingin dan kehampaan yang kau idap. Setelah bebrapa saat kau berjalan dan sebungkus nasi dengan lauk tahu, tempe siap disantap. Seperti malam-malam sebelumnya yang sepi. Kini kau menuju kebawah jembatan layang terdekat berharap ada salah satu temanmu yang juga makan sahur disitu dan kau setidaknya tidak perlu menyantap makan sahurmu dengan perasaan hambar. Dari seberang jalan tampak Giman teman seprofesimu sedang asik menghisap rokok bercengkrama dengan beberapa temanmu yang lain. Tergesa engkau untuk segera bergabung, hingga tanpa kau sadari sebuah sedan berwarna hitam meluncur kencang tepat dihadapanmu. Gerobakmu terserak setelah terpental cukup jauh, botol plastik dan semua isinya berhamburan. Engkau terkapar tak berdaya tak bernfas lagi. Teman-temanmu yang dibawah layang berlarian mencoba melakukan pertolongan semampunya. Tapi kau tetap hening tak bergeming. Tunai sudah kewajibanmu didunia ini, pak tua.
Beberapa hari sebelum kecelakan yang berujung maut ini, engkau sempat mengutarakan keraguan antara mudik menimang cucumu dikampung halaman, atau bersiarah kemakam istrimu dipojok sebelah timur Jakarta. Tapi hidup selalu menyimpan misteri yang tidak selalu harus terjawab. Giman yang tidak terlalu pintar tentang ilmu agama hanya mampu berujar “kini kau bisa mudik berdua bersama mak Inah pak tua!?”. Tak ada karangan bunga ucapan bela sungkawa,hanya setumpuk tanah basah bernisan sepenggal papan seadanya, dan doa tulus dari teman-temanmu tentunya. Kau pun terbaring dibawah gundukan tanah tepat disamping istrimu yang telah terlebih dulu pergi.
Ketika malam hampir usai, Dibawah layang dipusatnya jakarta yang sepi, Giman menatap kosong kearah istri dan anaknya yang pulas berselimut debu jalanan. Dalam hatinya ia berbisik “aku merindukanmu pak tua, istirahatlah yang tenang?!. “Mimpi para tuna wisma sepeti kita untuk punya rumah sepertinya akan hanya menjadi sekedar mimpi belaka”, gerutu giman pada didrinya sendiri. “Mereka orang-pintar itu butuh tempat yang lebih besar dan mahal. Kita harus kembali mengalah, dan gorong-gorong juga bawah layang semakin padat juga sesak”. Seolah tak perduli dengan penghuni bawah layang yang lain giman masih menggerutu dan mengerutu. Hingga ia teringat kata-kata pak tua teman dekat yang sudah dianggapnya seperti orang tua sendiri, “jangan menyerah Man, Gusti Allah pasti mengabulkan doa-doa kita”. Giman pun terdiam lalu tersenyum dan menitikkan air mata sambil kembali mendengarkan takbir yang sudah semalaman berkumandang tanpa lelah dimasjid- masjid juga musholla. Idul fitri yang dinanti sudah tiba. Dan giman hanya tersenyum kecil. Entah senyum duka atau bahagia. Entahlah.
30-08-2010 sampai 03-09-2010.. untuk saudara-saudaraku yang mesra memeluk jalanan ibu kota, juga untuk kalian yang sedang membangun hotel bintang lima di senayan sana.. bijaklah!!!
Tahun ini ada ruang kosong nan hampa di hatimu, mak Inah istrimu biasa dipanggil tak lagi menemani perjalanan hidupmu yang semakin renta. Belum genap 100 hari semenjak kepergiannya menghadap sang maha kuasa. Karena sakit yang sampai kini tidak diketahui karena ketidak mampuanmu untuk memeriksakannya kedokter. Engkau seorang pendatang di Jakarta, berpuluh-puluh tahun tanpa kartu tanda penduduk resmi, itulah juga yang membuat engkau kesulitan untuk mengurus surat keterangan keluarga tidak mampu. Engkau hanya menggerutu kala itu “ jadi orang miskin aja kok ya masih butuh surat ijin”. Sendiri sudah sisa hidup harus engkau jalani. Membuat engkau memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrakan tempat tinggalmu. Menjadi tuna wisma berkelana dari ujung kota ke ujung yang lainnya, bersama tekad, kenangan, dan gerobak kesayangan. Dan setiap malam-malam yang dingin kini kau lewati dengan tidur disudut-sudut kota atau bawah-bawah jebatan layang. Engkau semakin larut dalam pengembaraan.
Dibawah pohon mangga tepat dipojok kanan sebelah pagar kau bungkus gerobakmu dengan terpal berwarna biru. Cukup rapi dan tidak menggangu pemandangan. Setelah sholat magrib kau tunaikan, untaian doa-doa suci tulus kau haturkan untuk almarhumah istri tercinta dan anak cucu, serta almarhum kedua orang tuamu. Masih lekat rasanya pedih kala terkenang sat-saat terahir kalinya kau antar jasad mak Inah keliang lahat. Dan dengan air mata kau antar ia kesurga. Engkau masih larut dalam doa-doamu ketika orang-orang berdatangan memenuhi mesjid untuk menyongsong isyak dan tarawih yang sudah mulai sepi disepuluh malam terahir menjelang idul fitri. Mungkin mereka sudah mulai lelah dengan ramadhan, atau mungkin mulai sibuk menyerbu pusat perbelanjaan yang dihias dengan beduk dan ketupat bertuliskan sale dan discount. Engkau tak bergeming dengan pikiran khusukmu untuk lebih dekat kepada Tuhan. Engkau tidak peduli, hanya sekali kau menoleh kebelakang dan mengelus dada sambil mengucap istigfar. Engkau pun kembali hanyut dalam ibadah sunnah yang pahalanya sama dengan ibadah wajib dalam hari-hari biasa.
Jam menunjuk angka 22:15. Ketika tadarus selesai dan hampir sebagian besar jamaah meninggalkan rumah Tuhan itu untuk kembali berkumpul bersama keluarga mereka dirumah. Hanya tersisa engkau, pengurus mejid, dan beberapa lelaki separuh baya juga beberapa orang tua seumuran denganmu yang masih khusuk dan semakin khusuk dalam iktikaf. Sesekali air mata matamu menetes disela dzikirmu yang lirih. Ada banyak kenangan dan permohonan yang tulus yang masih sampai saat ini selalu saja mampu menggetarkan palung hatimu. Sebuah permintaan dan harapan yang tetap kau bungkus dengan keyakinan penuh dah tak pernah tersentuh oleh kata menyerah. Sebuah keteguhan hati yang kokoh dan selayaknya dicontoh. Manusia serba kekurangan yang selalu tahu tentang bagaimana caranya bersyukur. Manusia serba terbatas namun sangat jarang mengeluh. Engkaulah tubuh renta yang perkasa dan tak gentar memahat perjalanan sang jaman yang keras menjadi lebih bercorak.
Suara pengeras suara mengagetkan husyukmu, para pengurus mesjid mulai aktif membangunkan warga sekitar untuk segera bergegas makan sahur. Engkau beranjak untuk segera mencari warteg terdekat, setelah melipat kain sarungmu, membukus dengan plastik dan menggantugkannya pada paku bagian depan gerobamu. Kini kau telah kembali siap mengitari belahan kota lainnya bersama malam yang dingin dan kehampaan yang kau idap. Setelah bebrapa saat kau berjalan dan sebungkus nasi dengan lauk tahu, tempe siap disantap. Seperti malam-malam sebelumnya yang sepi. Kini kau menuju kebawah jembatan layang terdekat berharap ada salah satu temanmu yang juga makan sahur disitu dan kau setidaknya tidak perlu menyantap makan sahurmu dengan perasaan hambar. Dari seberang jalan tampak Giman teman seprofesimu sedang asik menghisap rokok bercengkrama dengan beberapa temanmu yang lain. Tergesa engkau untuk segera bergabung, hingga tanpa kau sadari sebuah sedan berwarna hitam meluncur kencang tepat dihadapanmu. Gerobakmu terserak setelah terpental cukup jauh, botol plastik dan semua isinya berhamburan. Engkau terkapar tak berdaya tak bernfas lagi. Teman-temanmu yang dibawah layang berlarian mencoba melakukan pertolongan semampunya. Tapi kau tetap hening tak bergeming. Tunai sudah kewajibanmu didunia ini, pak tua.
Beberapa hari sebelum kecelakan yang berujung maut ini, engkau sempat mengutarakan keraguan antara mudik menimang cucumu dikampung halaman, atau bersiarah kemakam istrimu dipojok sebelah timur Jakarta. Tapi hidup selalu menyimpan misteri yang tidak selalu harus terjawab. Giman yang tidak terlalu pintar tentang ilmu agama hanya mampu berujar “kini kau bisa mudik berdua bersama mak Inah pak tua!?”. Tak ada karangan bunga ucapan bela sungkawa,hanya setumpuk tanah basah bernisan sepenggal papan seadanya, dan doa tulus dari teman-temanmu tentunya. Kau pun terbaring dibawah gundukan tanah tepat disamping istrimu yang telah terlebih dulu pergi.
Ketika malam hampir usai, Dibawah layang dipusatnya jakarta yang sepi, Giman menatap kosong kearah istri dan anaknya yang pulas berselimut debu jalanan. Dalam hatinya ia berbisik “aku merindukanmu pak tua, istirahatlah yang tenang?!. “Mimpi para tuna wisma sepeti kita untuk punya rumah sepertinya akan hanya menjadi sekedar mimpi belaka”, gerutu giman pada didrinya sendiri. “Mereka orang-pintar itu butuh tempat yang lebih besar dan mahal. Kita harus kembali mengalah, dan gorong-gorong juga bawah layang semakin padat juga sesak”. Seolah tak perduli dengan penghuni bawah layang yang lain giman masih menggerutu dan mengerutu. Hingga ia teringat kata-kata pak tua teman dekat yang sudah dianggapnya seperti orang tua sendiri, “jangan menyerah Man, Gusti Allah pasti mengabulkan doa-doa kita”. Giman pun terdiam lalu tersenyum dan menitikkan air mata sambil kembali mendengarkan takbir yang sudah semalaman berkumandang tanpa lelah dimasjid- masjid juga musholla. Idul fitri yang dinanti sudah tiba. Dan giman hanya tersenyum kecil. Entah senyum duka atau bahagia. Entahlah.
30-08-2010 sampai 03-09-2010.. untuk saudara-saudaraku yang mesra memeluk jalanan ibu kota, juga untuk kalian yang sedang membangun hotel bintang lima di senayan sana.. bijaklah!!!
Langganan:
Komentar (Atom)
