Engkau yang datang sebagai mimpi indah dalam tidur yang gelisah, perlahan menenangkan nenyak kemudian menghanyutkan gundah dalam lelap yang senyap. Ada sejuta warna pelangi diwujudmu yang menawan. Melukis senyum-senyum yang dulu layu hingga kembali terurai seperti mekarnya bunga-bunga dimusim semi yang hijau. Bersama mentari pagi menyambut dunia penuh kehangatan yang mesra, kau tebar wewangian surga diawal hari yang masih buta. Aku benar-benar terbuai dibuatnya, sangat menakjubkan. Panorama yang terlukis indah dan akan semakin indah ini, akan selalu terbingkai rapi di dinding hati yang berseri. Waktu akan terasa semakin memabukkan. Membuatku tergesa menanti hadirmu, membuatku tak sabar untuk memelukmu.
Engkau yang hadir bersama semilir sang bayu, sepoi membilas gerah hati yang penuh amarah. Membasuh peluh disekujur tubuh, menyentuh sukma yang sedang keruh. Melukiskan mega merona disenja nan jingga, menggubah kata menjadi prosa. Gemulai tingkahmu anggun manjakan bahagia. Tumbuhkan sepasang sayap nan elok kemudian mengajak untuk segera terbang tinggi hingga bukan sekedar merayap. Bersama kita lintasi awan-awan dilangit. Bebaskan raga yang sudah sekian lama terhimpit. Membuatku enggan untuk jauh darimu, memaksaku cemas akan kehilanganmu.
Engkau yang tiba dilebam jiwaku yang kelam, perlahan berikan setitik terang cahaya yang dulu hilang. Membuatku kembali melihat sisi yang sekian lama tertutup gelap. Menuntun asa keujung lorong sebelah sana yang dulunya lembab dan pengap. Memapahku untuk kemabli melangkah, menunjukan tujuan agar tidak tetap kehilangan arah. Pelan-pelan engkau menghipnotisku dengan sugesti-sugesti yang penuh harapan, membuat hidup bukan hanya sekedar kebosanan. Membuatku ingin selamnya denganmu, membuatku ingin menghabiskan sisa waktuku bersamamu.
Engkau yang ada ketikaku terluka, dengan sabar memahat tawa yang hampir sirna. Mengalir dalam aliran darah yang sempat beku, berdenyut bersama nadi yang sempat kaku. Lambat laun kau menjelma menjadi sendi ditiap gerakku, menjadi energi disetiap aktifitasku. Dan harapan bukan lagi sekedar khayalan, dan impian bukan tak mungkin menjadi kenyataan. Malam-malam sepiku yang penuh lolong pilu dan terabaikan, kini berubah menjadi syahdu oleh kidung-kidung asmara dan juga nyanyian sejuta shymphoni yang merdu. Mebuat embun-embun semakin berkilau sebening permata, membuat bulan bersinar seterang purnama. Mengajakku untuk selalu merindumu, menuntuntunku untuk selalu memimpikanmu.
Engkau yang berhembus sepoi dan hangat seperti angin musim panas yang ramah. Membawa sejuta kabar baik bagi penantian yang panjang nan gamang. Menabur sejuk dan teteskan tenang yang lengang. Lirih suaramu membelai sepiku kemudian mengisinya dengan kegaduhan suka cita juga canda tawa yang riuh. Ada marching beserta pawai arak-arakan menuju kebahagiaan yang luas tak bertepi. Memeriahkan lembah-lembah sunyiku dengan tarian-tarian rerumputan dan ranting-ranting berdenting. Meyakikanku tentang masa depan, menyadarkanku tentang harapan.
Engkau yang aku inginkan sebagai sosok yang terjaga didinginya subuh dan membangunkanku untuk bersama-sama menyambut hari. Menyeduh kopi dan menyiapkan sarapan sederhana kemudian menyatapnya bersama-sama dengan penuh kenikmatan kasih nan mesra. Membuat nafas serasa lebih ringan, membuat oksigen serasa lebih gurih dan nikmat. Membuatku tak lelah untuk selalu berjelaga, membuatku tak ragu untuk menjadi pendamping setia menuju surga.
Dalam malam hitam yang curam, bayanganmu seperti tombak menghujam. Melumpuhkan semua sadar, pada kegilaan aku bersandar. Dalam diam sumpah serapahku termuntah. Tergesa meluncur secepat kilat menuju langit tak terlihat. Menuju sebuah tempat suci nan agung yang akan berdosa bila tak ditepati. Memahat rapi tentang sesuatu yang akan menjadi abadi. Bertutur tentang kemurnian niat yang tulus. Berujar tentang kesungguhan yang masa sekalipun tak akan mampu menggerus. Ini bukan sekedar mawar atau cokelat dibulan februari yang merah muda. Ini bukan segedar gairah disabtu malam yang singkat. Tapi inilah seumur hidup tentang perasaan menjaga yang hikmat.
Bila semuanya belumlah cukup, aku akan terus berusaha untuk mencari dan mencari agar engkau tak lagi merasa kurang. Namun bila akhirnya engkau menemukan yang lebih sempurna dan berpijar se-elok bintang. Maka biarkan tersisa sebentuk hati yang tak kan pernah utuh kembali. Berserak seperti debu tertiup angin, memuai seperti embun terbakar terik. Dan kemarin. Cukuplah untuk sekedar pelipur lara diwaktu yang tersisa.
SETELAH SEBULAN LEBIH GA NULIS.. ALHAMDULILLAH, AKHIRNYA TULISAN INI RAMPUNG JUGA... DITULIS MULAI 11-09-10 SAMPAI 20-10-10..SEBAGAI MANUSIA BIASA YANG PUNYA HATI, AKHIRNYA GW KEMBALI MERASAKAN INI... EMANG TERNYATA GA ADA KATA KAPOK UNTUH JATUH CINTA..TULISAN INI KHUSUS AKU KASIH BUAT SESEORANG YANG TELAH MENGUSIK KETENANGAN HATI.. LUV U DEAR..... "050590"
Rabu, 20 Oktober 2010
Langganan:
Komentar (Atom)
